Selasa, 20 Maret 2012

Berkibarlah Benderaku...


Saya tidak Mempersoalkan apakah hormat bendera itu bid'ah atau tidak, saya juga tidak memahami mengapa hal yang demikian menjadi persoalan yang didiskusikan sampai bertegang leher.

Saya cuma takjub dan merinding ketika sebuah foto dikirim oleh rekan kami di Palestina, dipuncak bangunan Rumah Sakit Indonesia di Ghaza berkibar bendera merah putih.

Bendera itu bukan untuk disakralkan bukan untuk disembah atau diberikan legitimasi sebagai sesuatu yang bukan bid'ah atau apapun istilahnya. Bendera yang terpampang diatas bangunan Rumah sakit tersebut hanyalah simbol perjuangan rakyat Indonesia pada rakyat Palestina yang tertindas berpuluh puluh tahun.

Bendera itu tampak mungil dari kejauhan namun dia berdiri kokoh dan tegak setegak tekad kita bersama membebaskan Palestina dari tangan zionis, setegak harga diri umat manusia yang dihilangkan hak hak kemanusiaannya, tidak ada kata lain kecuali LAWAN.

Merah Putih telah dikibarkan disebuah bangunan yang merepsentasikan penyelamatan manusia, Rumah sakit adalah sarana yang menggenapkan nilai nilai kemanusiaan kita pada orang lain.

Dan bendera itu memberi arti bahwa: mereka tidak sendirian, 200 juta lebih rakyat Indonesia menancapkan tekad bulat membantu rakyat Palestina terbebas dari penjajahan..

Berkibarlah Benderaku........

(Mer C- Radio Silaturahim Am 720 untuk Palestina Merdeka)

Jumat, 16 Maret 2012

Diskusi Syariah Islam di Radio Silaturahim am 720. Abu Jibril ((arrahmah.com) - Alkhattat (FUI) - dr Joserizal (MER C) Geisz Chalifah (Rasil AM 720)

JAKARTA (Arrahmah.com) - “Sepenting-penting perkara dalam kehidupan seorang muslim adalah urusan tauhid dan syari’ah.” tegas Ustadz Abu M. Jibriel AR saat ditanya announcer Radio Silaturahim (RASIL), Angga Aminudin, pada rabu (14/3) berkaitan dengan argumen yang memunculkan sikap syari’at-phobia dalam masyarakat dunia saat ini terutama masyarakat muslim di Indonesia.

Selanjutnya beliau menambahkan, “Islam datang untuk mentauhidkan umat manusia dan menegakkan syari’ah diatas tauhid yang benar. Kehidupannya akan berjalan timpang apabila syari’at Islam tidak ditegakkan di bumi tempat tinggalnya, karena syari’at Islam diturunkan Allah Ta’ala, Penguasa dan Pengurus seluruh makhluk , ialah untuk terciptanya sebuah kemaslahatan dalam masa hidup di dunia dan kesejahteraan di akhirat. Apabila syariat tidak ditegakkan maka masyarakat akan menjadi amburadul seperti yang kita saksikan saat ini.”

Wakil amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang beberapa pekan terakhir namanya telah dimasukkan ke dalam daftar calon presiden syari’ah oleh Forum Umat Islam yang diketuai oleh M. Al-Khatthath itupun menyebutkan firman Allah Ta’ala dalam surat al-An’am ayat ke-153, yang artinya:

“Perintah dan larangan ini adalah syari'at-Ku yang benar. Wahai manusia, ikutilah syari'at-Ku itu. Janganlah kalian mengikuti tatanan-tatanan hidup yang lain, karena tatanan-tatanan hidup yang lain itu pasti akan menjauhkan kalian dari syari'at-Nya. Demikianlah Tuhan mengajarkan syari'at-Nya kepada kalian supaya kalian taat kepada Allah dan bertauhid."

Dari ayat tersebut, umat Islam tidak diperkenankan mengikuti satu jalan hidup pun, kecuali syari’at Islam. Hal itu tentu saja bertolak-belakang dengan kelompok liberal yang selalu mengutamakan kepentingan dan keuntungan pribadi sehingga menyalahkan apa-apa yang bertentangan dengan akal dan hawa-nafsunya.

Satu contoh pertentangan mereka adalah dengan mengatakan bahwa sepertiga isi al-Qur’an harus direvisi karena menurutnya kandungan ayat yang diturunkan Allah Ta’ala tersebut telah melanggar HAM dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Berikut pula dengan ayat yang menyatakan bahwa sesungguhnya hanya Islamlah agama yang lurus, kelompok yang seharusnya disebut JIL (Jaringan Iblis Liberal) itu memiliki persepsi yang nyeleneh dengan berpendapat bahwa ketetapan Allah Ta’ala tersebut malah akan menimbulkan perpecahan karena hanya menganggap agamanya saja yang benar sementara aliran kepercayaan-kepercayaan lainnya yang telah diakui oleh negara adalah salah.

Oleh karena itu panji-panji liberalisme dimunculkan ke tengah-tengah umat Islam adalah memang untuk menggerogoti Islam dari dalam, apalagi dengan pernyataan-pernyataan mereka yang sering ‘sok tahu’ dalam keilmuwan Islam.

Para Nara Sumber -dari kiri- Ustadz Abu M. Jibriel, Ustadz Al Khatthat, Prof. Dr. Geis Khalifah, dr. Joserizal Jurnalis, Angga Aminudin

Talkshow bertema ‘Syari’at Islam Versus Liberal’ yang berlangsung mulai pukul 10.45 wib itu, juga menghadirkan nara-sumber lain, seperti Ustadz M. Al-Khatthat (Sekjen FUI), dr. Joserizal Jurnalis (ketua presidium MER-C), serta Prof. Dr. Geis Khalifah (manajer humas RASIL). Acara yang mengudara on-air itu dihadirkan untuk memberikan wacana baru dalam kancah pemerintahan di Indonesia yang bila boleh sudah dikatakan tengah collaps ini. Ustadz M. Al-Khattath menyebutkan di beberapa kesempatan bahwa wacana mengenai capres syari’ah ini tidak main-main.

Pengalaman beberapa tahun dalam ajang PEMILU presiden di Indonesia, bursa calon yang ditampilkan selalu dari kelompok yang sama-sekali tidak berpihak membela Islam padahal muslim di negara ini adalah mayoritas. Bahwa sudah saatnya muslim itu dipimpin oleh muslim yang ‘alim. “Orang Indonesia memang punya sifat lupa, yaitu lupa kalau dari dulu selalu dizalimi penguasa dan bekingannya. Dari pengalaman selama itu, tiap kali PEMILU, cuma modal coblas-coblos doang, nggak dipikir dulu: Kenapa dan apa akibatnya kalau nyoblos si A atau si B?” seloroh pemimpin umum tabloid Suara Islam itu seraya mengingatkan.

Saat disodorkan pertanyaan tentang kemungkinan Indonesia menerapkan pemberlakuan hukum syari’at, ia menjawab: sangat-sangat mungkin! Patut diingat, bahwa sejarah juga pernah mencatat para sultan yang berkuasa mempraktekkan hukum syari’at sebelum bercokolnya Belanda di tanah-air. Baru setelah kedatangannyalah hukum-hukum Islam direduksi, seperti hukum mengenai politik dihapus lalu diganti oleh sistem politik Belanda, perekonomian Islam dirubah menjadi sistem kapitalisme, hukum pidana Islam dialihkan menjadi KUHP (hingga sekarang), dan seabreg campur-tangan mereka lainnya.

Dibanding dengan keadaan saat ini dimana orang pintar dan cerdas sudah banyak di Indonesia, juga kesempatan untuk mengakses berbagai media yang berhubungan dengan ke-Islaman, seperti ketersediaan program-program software Islami, beragam ajang pagelaran buku-buku Islam, dan lainnya. Semuanya itu dapat menjadi salah-satu penghantar semakin memahaminya umat muslim akan pentingnya pemberlakuan syari’at, insya Allah.

Selanjutnya, sudut-pandang yang sedikit berbeda tentang syari’at islam, disampaikan dr. joserizal. Laki-laki yang acapkali mondar-mandir mengurusi masalah kesehatan masyarakat sipil di negara-negara yang tengah dilanda konflik itu, sejenak menceritakan pengalamannya tentang kondisi negara-negara yang mempraktekkan hukum Allah. Diantaranya Afghanistan, disana jarang ditemui asykar atau polisi yang patroli di jalan-jalan (pada situasi kriminal biasa, bukan konteks terhadap penjajah), ketika ada masalah, barulah para petugas keamanan itu hadir. Hal itu dikarenakan tingkat keamanan yang stabil sebab masyarakat paham akan sanksi-sanksi syari’at yang diancamkan.

Lain lagi dengan pengalamannya di Iran, disana seorang wanita yang ‘terpaksa’ bekerja pada malam hari akan tetap merasa terjamin keamanannya karena adanya hukum syari’at tersebut. Begitu pula situasi yang didapatinya di Pattani (Thailand), daerah muslim Mindanao (Philipina), Arab-Saudi, dan negara semisalnya. “Mudah-mudahan Indonesia dapat mengambil ibroh dari rasa aman yang akan tercipta apabila juga menerapkan sistem hukum Islam seperti negara-negara yang telah mendahuluinya.” Ujarnya dengan mantap.

Geis Chalifah menambahkan tentang pergerakan kelompok JIL yang sudah semakin membabi-buta dalam upayanya menyerang pola-pikir umat Islam yang mereka anggap kaku dan kuno. Mereka tengah mati-matian agar muslim dengan sifat keta’atannya akan dien-nya hanya berlaku di saat inbox atau di tengah kelompoknya saja, tapi apabila sudah membaur kepada masyarakat umum, terlebih yang ada kaitannya dengan urusan kekuasaan dan pemerintahan—maka umat Islam harus mampu berkolaborasi dengan sistem lain untuk tujuan bersama.

Sebetulnya sudah ada tiga tahap yang kita lalui dalam menyikapi pergerakan mereka, terutama tentang cara penafsiran mereka terhadap al-Qur’an. Pertama, ketika berhadapan dengan pernyataan kaum JIL yang mengkritik pola prilaku umat Islam yang menganggap hanya golongannya yang benar dan mengatakan itu sama saja dengan penindasan terhadap kaum minoritas, di tahap ini kita masih bisa untuk berdialog. Tahapan kedua, ketika mereka menyatakan bahwa ayat-ayat al-Qur’an seharusnya bersifat kontekstual dengan keadaan dan bukan letterlijk –pada tahap ini umat Islam pun masih bisa satu meja untuk ‘berdiskusi’. Tapi pada tahapan ketiga, mereka sudah jelas-jelas mengatakan bahwa sepertiga isi al-Qur’an tidak bisa dipakai lagi di masa sekarang, saat itulah kita tidak bisa lagi untuk mengadakan diskusi karena mereka telah menghujat keyakinan sebuah dien (Islam).

Selain itu konflik-konflik yang timbul yang ada kaitannya dengan mereka, itu memang sengaja diciptakan. Tujuannya ya agar masing-masing kelompok Islam saling bertikai, lalu mereka akan bebas mencaplok kekuasaan karena umat Islam yang sedang mencoba bangkit akan senantiasa jatuh-bangun dalam menggalang persatuannya. Coba amati usaha mereka dalam membubarkan FPI, mereka takkan kan se-keukeuh itu(untuk menghilangkan pamor FPI) bila kelompok yang tegas ketika ber-nahyi-munkar itu tidak mengusung syari’at Islam dalam agenda kerjanya plus memperjuangkannya untuk menjadikannya dasar undang-undang.”

Selanjutnya ustadz Abu Jibriel kembali menjelaskan bahwa sebenarnya kaum liberal beserta isme-isme yang lain seharusnya tidak bercokol di Indonesia karena apabila kita mau kembali untuk mencermati bahwa dasar perundang-undangan adalah ketuhanan Yang Maha Esa, maka itu merupakan sebuah isyarat nyata bahwa negara ini diawali dan didirikan dengan berlandaskan Tuhan Yang satu, yaitu Allah Ta’ala. Bukan tuhan yang tiga terlebih lagi atas dasar isme-isme hawa-nafsu semata. Apalagi Islam sama-sekali tidak mentolelir adanya sistem lain, seperti demokrasi yang sangat dielu-elukan kaum kafir, kaum fasik, dan kaum munafik.

Oleh karena itu kita harus menuntut kepada pemerintah untuk mengenyahkan liberalisme dari bumi NKRI. Patut dicamkan bahwa yang memperjuangkan syari’at Islam adalah muslim yang sesungguhnya. Hanya orang-orang yang kafir dan tidak paham Islam-lah yang menolak hal ini sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan di surat an-Nisa’ ayat ke-65 yang artinya:

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

Sebab itu apabila mereka memang muslim, tentu mereka mudah untuk mengerti kewajiban menegakkan syari’at ini, tapi mereka memang sungguh kaum kafir, sehingga yang muncul dalam dirinya adalah bagaimana untuk bisa mengganjal kaum muslim dalam jihad fi sabilillahnya. Ini tentu saja sangat membahayakan dirinya sendiri; apabila dia tetap kafir dengan menolak adanya hukum Allah Ta’ala hingga kematiannya maka terjerumuslah kekal dalam an-naar.

Menutup perbincangan yang berlangsung sekitar 90 menitan tersebut, ustadz Abu Jibriel memberikan statement bahwa dengan syari’at, Indonesia akan makmur, sejahtera dunia-akhirat. Oleh karena wajib bagi seluruh lapisan masyarakat, baik dari kalangan penguasa maupun sipil bersama-sama menempuh jalan untuk memperbaiki negara yang sarat akan masalah-masalah yang bisa mengundang azab Allah karena keberpalingannya dari keta’atannya kepada Penguasa semesta alam. “Kepada bapak kepala negara beserta jajarannya, mari bersegera kembali kepada Allah Ta’ala. Insya Allah, bangsa Indonesia akan keluar dari keterjajahan, terutama keterjajahan aqidah oleh umat yang dimurkai Allah.

Program Dunia Islam pun berakhir dengan kembali mengumumkan undangan terbuka kepada seluruh umat muslim untuk kembali mengikuti apel siaga AKSI SEJUTA UMAT yang akan diselenggarakan pada jum’at (30/3) pukul 13.30 wib bertempat di bundaran HI lalu long-march menuju istana negara Jakarta. Selain itu FUI juga membuka kesempatan bagi umat muslim yang siap menjadi relawan dalam penggalangan relawan capres syari’ah dengan melakukan registrasi melalui pesan singkat (SMS) berformat: nama/ikhwan atau akhwat/domisili/relawan CS, lalu kirim ke nomor 0817441801. Andakah yang siap mendaftar???

(Ghomidiyah/ukasyah/arrahmah.com)

http://arrahmah.com/read/2012/03/14/18774-ust-abu-m-jibriel-syariat-islam-satu-satunya-solusi-globalisasi.htm

(Ralat dari saya.. saya belum bergelar DR apa lagi Profesor)

Senin, 12 Maret 2012

BAYI MALANG BERNAMA SANIA.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang bayi berjenis kelamin perempuan Sania (3 tahun) tengah membutuhkan biaya operasi untuk penyakit yang dideritanya. Penyakit yang dialami sang bocah itu telah berlangsung sejak lahir.


Salah seorang warga yang peduli terhadap bayi malang itu, Geisz Chalifah, mengatakan, Sania terlahir dengan kepala membesar dan mata agak keluar. Bayi itu terlahir demikian lantaran ibunya terkena virus dari kotoran hewan semacam kambing.

Bayi tersebut bahkan tidak bisa memejamkan mata saat tidur lantaran bola matanya agak menjorok ke luar. Kondisi bayi itu semakin memprihatinkan setelah sang ayah justru meninggalkan dia dan ibunya setelah mengetahui Sania terlahir cacat.

"Nama Ayah Sania adalah Ahmad sedangkan ibunya bernama Surya Wulandari," ungkap Geisz kepada Republika.

Bayi malang itu beralamat di Jalan Raya Pasar Galis, Bangkalan, Madura. Selama kurang lebih tiga tahun, bayi itu hidup terkatung-katung tanpa pengobatan sedikit pun. Pasca-ditinggal suaminya, sang ibu tidak dapat membiayai pengobatan anaknya yang menderita penyakit misterius.

Melihat kondisi tersebut, Geisz bersama dengan rekannya merasa terpanggil untuk membantu bayi malang itu. Bahkan Geisz membawa Sania ke Rumah Sakit DR Sutomo, Surabaya pada Jumat (9/3) agar bayi itu mendapat perawatan yang layak dan menjalani operasi di sana.

Untuk melakukan itu, Geisz dan rekannya menggalang dana dari masyarakat dan telah terkumpul uang sejumlah Rp 18,25 juta. Sosialisasi penggalangan dana tersebut dilakukan lewat perantara internet seperti FB dan Twitter, ponsel seperti SMS dan BBM serta langsung dari mulut ke mulut.

Selain bantuan dari warga, Sania juga mendapat sokongan dana dari pihak rumah sakit yang membantu biaya fasilitas rumah sakit dan sebagian biaya operasi. Kendati begitu, dana yang terkumpul hingga saat ini masih kurang.

Menurut Geisz, Sania harus menjalani berbagai jenis operasi. Operasi pertama yang akan dijalani adalah operasi pernapasan untuk kemudian Sania harus menjalani sejumlah operasi lainnya.

Untuk itu, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai ratusan juta. Jumlah itu untuk menutupi sebagian biaya operasi dan obat yang harus ditebus.

Geisz mengimbau kepada masyarakat yang peduli terhadap Sania untuk dapat menyumbangkan sebagian uangnya ke rekening yang telah dibuat. Masyarakat dapat mengirimkannya ke nomor rekening BCA atas nama Saidah Saleh Shamlan AC 1900141609 atau melalui Bank Mandiri atas nama Moch Variz AC 1410007229917.


http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/03/12/m0s29u-bayi-malang-ini-membutuhkan-bantuan-pengobatan

Jumat, 17 Juni 2011

Radio Da'wah Punya Penggemar Tetap. (Republika)


http://koran.republika.co.id/koran/52/137258/Geisz_Chalifah_Punya_Pendengar_Tetap


Jumat, 17 Juni 2011 pukul 17:23:00
Geisz Chalifah, Punya Pendengar Tetap

wawancara

Media dakwah terhampar. Dakwah dengan cara temu muka di tempat terbuka atau masjid sudah lama berlaku. Lewat udara, dakwah pun dapat berjalan. Karena itu, bermunculan radio-radio dakwah. "Alhamdulillah, radio dakwah memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat," kata Direktur Humas Radio Silaturahim (Rasil) Geisz Chalifah.

Namun, ia juga mengatakan, sangat penting bagi pengelola radio dakwah mampu membaca perubahan di masyarakat. Ini berdampak pada keefektifan dakwah. Pada Ahad (12/6), kepada wartawan Republika Damanhuri Zuhri, dia juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi radio dakwah. Berikut petikannya.

Di tengah beragamnya media dakwah belakangan ini, bagaimana sesungguhnya posisi radio dakwah?
Sekarang ini terjadi keanehan luar biasa. Kami mengalaminya di Radio Silaturahim (Rasil), AM 720. Radio ini sama sekali tidak memberikan ruang bagi iklan, hanya berisi ceramah, murattal, dan setiap selesai ceramah ada lagu-lagu yang bersifat rohani. Radio tetap berjalan dan antusiasme masyarakat masih tinggi.

Berdasarkan survei melalui telepon dan pesan pendek, jumlah pendengar lebih dari 200 ribu. Mereka yang mendengarkan secara streaming lewat laman kami mencapai 122.800 orang. Setiap bulan, jumlahnya bisa sebanyak itu. Jadi, kalau ditanya bagaimana kondisi radio dakwah sekarang, radio ini memiliki tempat sendiri di masyarakat. Dalam arti, radio dakwah punya pendengar tetap. Masyarakat sekarang masih butuh radio semacam ini yang memberikan pencerahan dengan siaran-siaran keagaman.

Menurut Anda, apa yang menyebabkan antusiasme yang tinggi itu?
Pertama, mungkin dalam Radio Rasil tidak ada iklan sama sekali, jadi sifatnya nonkomersial. Kedua, kami benar-benar menyeleksi materi dan ustaz yang berceramah di radio kami. Jadi, ustaznya menguasai bidangnya. Kalau menyampaikan tafsir Alquran, misalnya, ustaz itu memahami ilmu Alquran dengan baik.

Di radio kami, siaran pukul 09.30 hingga 11.00 WIB diisi oleh Ustaz Husin al-Athas tentang tafsir Alquran. Acara ini banyak sekali pendengarnya dan disertai dengan tanya jawab. Setiap siaran paling tidak ada 180 hingga 200 pesan pendek yang masuk, hanya sepuluh yang sempat terjawab.

Kalau tidak mengandalkan iklan, dari mana biaya operasional radio?
Keputusan awal untuk menentukan apakah radio ini menerima iklan atau tidak memang sangat krusial. Pada akhirnya, kami putuskan radio ini tanpa iklan. Sebab, memang radio ini didirikan kalangan usahawan yang memiliki perhatian terhadap agama. Jadi, mereka serta-merta mengeluarkan dana demi keberlangsungan radio ini.

Setelah radio ini berjalan, ternyata masyarakat sendiri, yaitu para pendengar, memahami bahwa stasiun radio ini bisa terus berjalan kalau ada sumbangan dari umat. Lalu, tanpa banyak diminta, sumbangan tersebut mengalir dalam bentuk uang dan bermacam sumbangan lainnya.

Mereka ada yang memberi sebesar Rp 10 ribu atau Rp 20 ribu. Bahkan, ada asosiasi sopir taksi yang berinisiatif mengumpulkan dana sumbangan untuk dikirimkan ke Rasil. Kami juga punya alasan mengapa memilih gelombang AM dibandingkan FM. Dari sisi suara, memang tak sebaik FM, tetapi jangkauannya lebih luas.

Terbukti, siaran Radio Rasil mampu menjangkau Tegal, Jawa Tengah, dan beberapa kota besar lainnya di Jawa Tengah. Jadi, ada beberapa kota di luar Jakarta yang menerima gelombang radio ini, ada juga yang tidak. Tapi, kalau wilayah Jakarta, Tangerang, Bekasi, dan Depok sudah hampir semuanya.

Kelihatannya dakwah di radio ini mampu memengaruhi pendengar?
Sangat berpengaruh. Ini terbantu oleh bahasa dakwah yang digunakan. Kami melihat hampir 70 persen pendengar berasal dari masyarakat tradisional, sedangkan 30 persen lainnya adalah kelompok menengah ke atas. Nah, dalam penyampaian materi dakwah, harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Tidak dengan istilah-istilah yang rumit.

Bagaimana agar dakwah melalui radio ini efektif?
Tentu dengan kualifikasi yang benar. Kami tidak asal saja memberikan tempat bagi seseorang untuk berceramah. Lebih dulu, kami lihat rekam jejak dan latar belakang pendidikan seseorang yang akan ditarik menjadi penceramah. Rekaman-rekaman ceramahnya di tempat lain pun kami dengarkan.

Kita punya batasan ketat yang terangkum dalam visi bahwa radio ini untuk Islam yang satu. Jadi, mungkin karena visinya itulah masyarakat tertarik. Boleh dikatakan, Rasil tak memberikan ruang untuk mempertajam perbedaan, tetapi mendahulukan persamaan. Ruang untuk mengedepankan persamaan kami buka seluas-luasnya.

Menurut Anda, seberapa banyak radio dakwah yang ada di Jakarta, khususnya, dan masih bertahan?
Radio dakwah di Jakarta yang masih bertahan saya tidak tahu persis jumlahnya. Ada radio yang mencampurkan antara dakwah dengan kegiatan komersial, ada juga yang khusus dakwah saja. Yang khusus dakwah, di antaranya Radio Rasil, Radio Cendrawasih, dan Radio Dakta.

Apa tantangan yang dihadapi radio dakwah?
Pertama, mengenai pemahaman Islam yang berbeda dan terkadang itu dibesar-besarkan. Biasanya kalau langkah semacam itu dilakukan, memicu perpecahan. Berikutnya, ada keinginan yang baik, tetapi dalam prosesnya tak ada keteguhan menjalaninya. Jadi, karena sifatnya dakwah dan nonkomersial, mengurusnya hanya dari sisa waktu yang ada.

Walaupun dakwah seharusnya tetap dikerjakan secara profesional, kami mempraktikkannya. Orang-orang yang bergabung dengan kami dihargai selayaknya. Keyakinan juga sangat berarti. Justru modal awal mengelola radio dakwah adalah keyakinan yang kuat.

Pada masa mendatang, apa yang perlu dilakukan para pengelola radio dakwah?
Mereka dituntut dapat membaca perubahan dalam masyarakat. Jadi begini, jika dulu manusia itu berinteraksi langsung berhadapan secara fisik, sekarang hal itu tak sepenuhnya berlaku. Pertemuan bisa melalui media seperti teleconference. Memahami perubahan akan memudahkan kita memetakan masyarakat.

Pemetaan ini berguna untuk menyampaikan cara-cara dakwah yang sesuai dengan kondisi masyarakat dan akhirnya dakwah mengenai target dan efektif. Tanpa kemampuan itu, akan tertinggal. ed: ferry kisihandi

Senin, 16 Mei 2011

REUNI.

Kuliah Etika Hubungan Internasional dari DR Sutejo sudah lama Usai namun beberapa teman masih bergerombol di kantin, ada Aan, Linda, Eva, Rizal lubis Satria dan beberapa lainnya. Jam di tangan menunjukkan pukul 13.30 siang, segera saya meninggalkan mereka. hari ini ada rapat dirumah Fauzi Askar membahas kelanjutan dari forum silaturahmi mahasiswa (khatulistiwa.) Setiba di kampung melayu saya melompat turun dari bus menuju deretan Mikrolet yang berjajar menunggu penumpang, Duduk di bangku depan terasa lebih nyaman di siang yang panas dibanding di Bus PPD yang penuh dan pengab tadi. Dua buah buku penuh catatan yang saya pinjam dari Aan. (Romana Aprilia Munir) di kampus, saya taruh di atas Dashboard.



Tak sampai 15 menit mikroletpun tiba di di depan rumah Fauzi yg berada di jalan Otista Raya, setelah membayar, dengan agak terburu buru turun dari Mikrolet dan lupa duah buah buku catatan masih tergeletak diatas Dashboard. ketika melangkah menuju pintu masuk barulah tersadar dua benda berharga itu masih berada di Dashboard mikrolet dan ketika menengok mikrolet itupun sudah tidak terlihat lagi.



Rapat berlangsung dengan santai dan penuh gelak tawa karena Sukri sering menyelak dengan banyolan2nya yang lucu. Selesai rapat saya menginformasikan padanya. "Sukri, gue minjam catatannya Aan, apesnya waktu turun gue lupa angkat dari dashboard. ada dua buku tebal tebal dua duanya. pusing gue gimana caranya ngasih tau nya besok?." dan si enteng mulut itupun menjawab." mampus lho, besok mulutnya Aan bakal begini, sambil meng gerak2 kan jari jempol dgn empat jari lainnya seperti menutup dan membuka yg melambangkan ocehan."

Sukripun tertawa ngakak sambil menakut nakuti akan apa yang terjadi esok hari.



Jam 7 pagi perkuliahan sudah di mulai, agak terlambat saya memasuki kelas namun Djansiwar Jafar (Pak Iwa) bukanlah dosen yg sok kuasa, dia memberikan kesempatan saya masuk dan meneruskan kembali perkuliah Sejarah Politik Afrika. Usai pak Iwa memberi materi ada jeda 10 menit menunggu dosen berikutnya dan lebih dari separuh mahasiswa dikelas itu keluar ruangan untuk merokok dan bercanda. Dengan agak ragu ragu saya menghampiri Aan berusaha memberanikan diri untuk mengabarkan raibnya dua buku catatan yang saya pinjam kemarin. "Aan..." tegur saya perlahan, Aan pun menoleh dan sambil tersenyum menjawab " Kenapa Geis... buku catatan Aan hilang ya?, ga papa kok" dengan ekspresi yang ramah tak ada kesan marah sama sekali. Rupanya Sukri pagi pagi sudah menjadi BBC London. Hilang sudah semua bayang bayang yang menyangkut di kepala dari kemarin siang, Bahkan Aan pun melanjutkan, " buku kosonngnya Geis mana ? biar nanti Aan yang catatkan sekalian." Tetap dengan keramahan seperti tadi.

" ga usah An, makasih banyak biar nanti gue foto copy aja." jawab saya tau diri.



Minggu Pagi 20 tahun lebih kemudian. Di Taman Jaya Impian Ancol sebuah restoran dipenuhi ratusan manusia berbaju putih, dgn sebuah stiker bertuliskan nama atau identitas. MC dipanggung memangil mangil nama nama pengurus IKA FISIP JAYABAYA yg baru terbentuk. Sementara puluhan meja berderet deret dipenuhi oleh berbagai peserta yang ramai dengan canda dan gelak tawa, suara MC hampir tak terdengar. Bertemu teman lama jauh lebih seru ketimbang mengikuti acara yang sedang berlangsung. Hari ini sebuah perayaan besar di gelar temu alumni seluruh angkatan Fisip.

banyak wajah wajah yg dulunya akrab kini sudah sulit mengenalinya faktor U memang susah dilawan. Beberapa teman nampak masih terlihat cantik namun bentuk badan sudah gak jelas mana perut mana pinggul seolah berlomba adu besar.



Seorang teman yang hadir belakangan menyimpan rapi arsip foto foto lama dan dia membawanya ke acara reuni, setiap orang memelototi wajahnya dimasa lalu. pernyataan yg paling arif adalah "Gue masih culun" untuk menghindari kata "masih cantik" agar tidak terkesan sudah tidak cantik lagi sekarang.

Beberapa yang tidak hadir namun ada wajahnya dalam foto itu ditanyakan kemana dia, ada dimana sekarang atau sudah berapa anaknya? Tapi tidak ada yang menanyakan Aan si wanita baik hati yang senyumnya selalu hangat. Semua di meja itu faham dan mengetahui Aan yang ramah itu telah beberapa tahun lalu pergi menghadap kepemilikiNya.

Selasa, 28 Desember 2010

Sebuah tempat untuk datang dan pergi.

ketika sekelompok orang menjalani pertemanan sekian tahun lamanya maka biasanya kelompok itu memiliki tempat khusus untuk mereka biasanya berkumpul, bercerita tentang Bisnis, atau sekedar bersenda gurau melepaskan stress dari pekerjaan yang mereka geluti sehari hari.


Sebuah tempat di bilangan Pancoran di Jakarta Selatan yang selalunya sepi dari pengunjung dengan menu makanan indonesian food dan western food beserta sebuah keyboard menjadi pilihan menarik untuk menjadi tempat kongkow. Tidak terlalu ramai bahkan terkesan sepi dan tidak pula terlalu jauh. Ada kesempatan untuk menyalurkan bakat menyanyi dari pengunjung disertai pengiring yang kadang andal kadang hanya biasa biasa saja. Umumnya tempat ini menjadi meriah karena ulah tamunya.

Pelayan dan pemain musik menjadi akrab karena menjadi saling mengenal dengan tamu yang umumnya menjadi pelanggan setia.


Entah bagaimana kelompok yang tidak sampai sepuluh orang ini, didalamnya terdapat lebih dari separuhnya penyanyi andal, Ada Juara Vocal Group Seindonesia sewaktu SMA, ada penyanyi Band beneran yang telah pensiun dari kegiatannya dan ada pula yang sekedar Hobby namun suaranya tak kalah hebat dari penyanyi profesional pada umumnya.


Dan ketika teman yang menghabiskan hidupnya tinggal diluar negeri datang ke Jakarta selalunya di jamu ditempat ini, teman itupun ikut bernyanyi bersama atau sekedar menikmati lagu lagu yang dibawakan.


Adalah Zuher laki laki berbadan besar memiliki sentuhan yang pas bila menyanyikan lagu Broery dengan vocalnya yang berat dan penuh penghayatan seolah Broery hidup kembali bila dia bernyanyi, ada pula Adam mantan Vokalis Anak Adam Band, dan yang tidak kalah hebatnya, Om Adunk lelaki paruh baya yang selalunya energik membawakan lagu lagu yang sebagian besarnya kita belum lahir pada saat lagu itu meledak dipasaran.

Ada pula Indah mantan penyanyi Geronimo dengan suaranya yang sendu selalu memukau bila bernyanyi, akan tetapi maestro dari semuanya adalah Anggi yang seringkali melalui tarikan suaranya "memaksa" orang yang sedang bicara serius atau sedang bersenda gurau untuk berhenti bicara dan menikmati lagu yang dibawakannya.

Anggi memiliki karakter suara yang luar biasa boleh dibilang dialah penyanyi seaseli aselinya diantara kelompok itu, bakatnya itu tidak mencuat kepermukaan bukan karena tidak ada kesempatan. Mantan juara Vocal group antar SMA ini lebih memilih untuk menurut nasehat seorang ayah, yang tidak melarang anaknya bernyanyi dengan larangan yang keras tapi cukup dengan sebuah kalimat. " Ayah suka melihat orang itu bernyanyi di TV tapi jangan anak ayah".

Ketika seorang vokalis Group band ternama merayakan ulang tahun ditempat itu, Anggi diminta bernyanyi oleh seorang teman dan ketika dia selesai bernyanyi, penyanyi group Band ternama dan keluarganya yang sedang merayakan ulang tahun spontan berdiri memberi applaus yang hangat.


Ada pula komenk yang selamanya punya gaya dengan modal pas pasan tapi selalunya nekat untuk tampil kedepan, namun seperti kata sebuah Iklan "Gak ada komenk ga rameee."

Ketika Bunda (seorang ibu energik yang tinggal di Eropa) Datang ke Jakarta kami menjamunya di tempat itu pula, dia bernyanyi riang gembira namun ketika hari menjelang tengah malam acarapun harus berakhir dan esok adalah hari kepergianya untuk kembali kekota asalnya, Bunda tak bisa menutupi kesedihan hatinya dia ikut bernyanyi bersama tapi dengan mata memerah dan kedua tangannya menutupi mukanya.


Datang dan pergi adalah bagian dari kehidupan, Vira yang selalunya Ceria juga jail dan kadang mampu membuat geram orang yg mendengar celotehnya bila di "Room" ( confrens melalui internet) kali ini datang lagi ke Jakarta, dan tanpa harus diminta untuk hadir, semua anggota dari kelompok ini langsung bertanya "kapan kita kumpul?" si jail satu ini kedatangannya selalu ditunggu dan menjadi primadona.

Dan Gede adalah manusia rajin yang tak pernah putus silaturahminya dengan semua yang dia akrab, baik melalui telp SMS ataupun YM, melalui Gede semua orang merasa terlayani.

maka ketika Vira datang cukup dengan satu telp dari Gede semuanya langsung menyatakan "oke gue hadir."


Hidup memiliki banyak keindahan dan keindahan itu akan tertuai bilamana kita mampu menikmati sebaik baiknya dan yang paling utamanya adalah bila kita mau melayani orang lain layaknya seperti keluarga.


ketika orang itu pergi Suara Zuher ikut terbang bersamanya menjadi sebuah kenangan bahwa pada satu malam di Jakarta ada sekelompok orang yang selalunya siap menjadikan satu malam itu menjadi kenangan yang tak pernah terlupakan.


ijinkan aku pergi
apa lagi yang engkau tangisi
semogalah penggantiku
dapat lebih mengerti hatimu
memang berat kurasa
meninggalkan kasih yang kucinta
namun bagaimana lagi
semuanya harus kujalani

selamat tinggal
kudoakan kau selalu bahagia
hanya pesanku
jangan lupa kirimkan kabarmu

bila suatu hari
dia membuat kecewa di hati
batin ini takkan rela
mendengarmu hidup menderita