Selasa, 14 April 2009

Little House on the Prairie

Ada banyak drama seri keluarga saat ini, sekian banyak stasiun Tv memproduksi sinetron. Ada yang lumayan bagus namun jauh lebih banyak pula yang kering dalam nuansa hanya pameran wajah cantik dan kemewahan. Sekian banyak drama keluarga bersaing merebut pasar. Dimasa kini, Cinta Fitri leading dengan rating tertinggi. Saya tidak tahu dalam beberapa tahun kedepan masihkah para penggemarnya mengingat sinetron itu. Atau sudah lapuk digantikan dengan sinetron berpola sama dgn cerita yang berbeda. Saya juga tidak tahu bagaimana isi cerita sinetron itu mengapa banyak digemari dsb.

Akan tetapi sekian banyak orang bahkan jutaan jumlahnya ketika siaran tv cuma satu bernama TVRI. Akan selalu ingat sebuah film seri berjudul Little House on The Praire. Sebuah film seri dengan setting sederhana namun memukau jutaan penonton di seluruh dunia. Bahkan nama keluarga dalam film tersebut pun masih banyak yang mengingatnya. Ya keluarga Inggals namanya. Dan yang tentunya yang banyak diingat orang adalah Laura Ingalls (Melissa Gilbert).

Dalam sebuah Episode Laura Ingalls dan seluruh teman sekelasnya di beri tugas untuk mengarang pengalamannya selama libur sekolah oleh gurunya.
Sampai pada waktunya maka satu persatu temannya maju kedepan untuk membacakan hasil karangannya tak terkecuali juga Laura.

Laura bercerita tentang ibunya dia memulai dengan kata "aku memiliki seorang ibu yang sabar..." maka mengalirlah kalimat demi kalimat dari bibir Laura yang seolah sedang membaca tulisannya. Dia bercerita ibunya yang menjahit bajunya untuk tampil pada hari itu, bagaimana perhatian ibunya pada anak anaknya, pada ayahnya dan seterusnya.
Ayah (Charles Ingalls) diperankan oleh Michel London, dan ibunya (Carrie Inggalls) di perankan oleh Lindsay Grennbush juga Orang tua Murid lainnya ikut melihat ketika murid murid itu membaca karangannya terkesima ketika Laura tampil kedepan dengan begitu memukau.

Namun ketika karangan itu dikumpulkan sang guru terkejut, karna dalam buku karangan Laura buku itu kosong tak ada satu katapun tertulis disana. Laura belum bisa membaca apa lagi menulis, Laura mengarang melalui hatinya.

Little House on The Praire bermula dari sebuah buku memoar yang ditulis oleh Laura Ingalls tentang keluarganya. Laura menulis pengalaman masa kecilnya ketika sudah berumur diatas 60 tahun, dalam sebuah akhir catatan di kompas tentang film ini "dunia akan bebeda bila saja banyak kaum ibu menulis seperti Laura Ingalls"

Kamis, 26 Februari 2009

MASOOM

senja hitam ditengah ladang...diujung pematang kau berdiri..
putih diantara ribuan kembang..langit diatas rambutmu merah tembaga..
engkau memandangku. .
bergetar bibirmu memanggilku basah dipipimu air mata..
kerinduan..kedamaian oooo..
batu hitam.. diatas tanah merah...
disini akan kutumpahkan rindu kugemgam lalu kutaburkan kembang..
berlutut dan berdoa..surgalah ditanganmu Tuhanlah disisimu...
kematian hanyalah tidur panjang.. ..: maka mimpi indahlah engkau...
camelia..camelia. ..ooo...
pagi engkau berangkat hati mulai berpacu..
malam kupetik gitar..dan terdengar senandung ombak dilautan..
menambah rindu dan gelisah...
adakah angin gunung adakah angin padang mendengar keluhanku..
mendengar jeritanku..dan membebaskan nasibku dari belenggu sepi...la..la. .la.

Saya mengulang ulang kembali satu lagu lama... dijalan tol yang sudah mulai sepi menjelang tengah malam.. Ada getaran hebat ketika bait demi bait yang mengkristal merajut antara kerinduan dan harapan dari manusia yang ditinggalkan. Aroma cinta sangat kental didalamnya namun juga kepasrahan dan harapan pada Tuhan mendorong sebuah keyakinan akan surga ditanganmu dan Tuhan disisimu.

Ketika jasad manusia terkubur dalam diantara tanah merah ada kepedihan dari yang ditinggalkan ada banyak kenangan yang tetap hidup. Maka kematian hanyalah tidur panjang yang tersambung kembali jalinan hubungan melalui doa. Tuhan memtuskan hubungan fisik tapi juga memberi ruang hubungan antar manusia melalui jalurnya.

Entah bagaimana Saya teringat sebuah film lama bejudul Masoom..yang tak berkaitan dengan syair di lagu tersebut. Masoom seorang anak laki2 yang kelahirannya tidak diharapkan hadir ditengah keluarga bahagia.. Seorang ibu yang cantik dengan dua anak, laki-laki dan perempuan, dan seorang ayah muda. Masoom memasuki keluarga itu dikarenakan keterpaksaan sang ayah kandungnya yang menghamili ibunya ketika reuni sekolah dan sang ibu menemui ajalnya ketika Masoom masih sangat kecil.

Film dimulai ketika anak itu berada didalam mobil dan sang sutradara dengan pandainya mengekploitasi wajah anak itu menjadi sangat dramatis, ketika anak itu berpaling kekanan maka sorot camera meng close up wajahnya dan hampir seluruh penonton tak sadar bergumam huuuuu.... karena muka yang begitu sempurnanya garis dahi sorotan mata seolah hasil lukisan yang sangat indah.

Namun sempurnanya wajah tak berbanding lurus dengan nasib. Perempuan tetaplah perempuan sekeras apapun dia mencoba tapi hatinya tak bisa menerima hubungan suaminya dengan ibu anak itu. Keberadaan anak itu didalam rumahnya menggelisahkan hatinya merusakkan kebahagiaan dirinya bersama keluaraganya selama ini.. walaupun dua anaknya sangatlah akrab walaupun dua anaknya mencintai Masoom sebagai saudara.

Ketika kekerasan hati lebih mengemuka dari kasih sayang, Masoom harus lepas dari keluarga ayahnya, rumah itu bukan tempat yang layak untuknya tempatnya adalah di asrama. Itulah kompromi terakhir dari ibu tiri bersama ayahnya.

Perjalanan Masoom ditengah keluarga finis sudah, sebuah kereta sudah menunggu distasiun untuk membawanya ke asrama. Ayah bersama ibu tiri dan dua saudaranya mengantar. Ketika sang ibu kembali ke Mobil anak perempuannya membuka buku gambar yang dibuat Masoom. Tampak dalam gambar itu tiga anak kecil sedang bermain namun satu anak laki laki dalam gambar itu diberi tanda silang. Masoom menyilang dirinya sendiri dalam gambar itu, keberadaannya adalah bencana keberadaan dirinya tak mendapat tempat dari hati seorang perempuan.
Spontan jiwa ke perempuanan seorang ibu bergolak, kasih sayang yang tertutup oleh murka kembali menyeruak membuang jauh kebencian yang berefek pada anak itu...Buku gambar itu telah menyelematkan Masoom dari kehidupan asrama. Sang ibu berlari kestasiun mengambil kembali Masoom dari dalam kereta. dia bukan hanya mengambil Masoom tapi juga menarik kembali kasih sayang tuhan dalam dirinya.

Ketika sang ayah melihat kereta sudah berjalan dia berjalan kembali kemobil dan dilihatnya masoom sudah berada disana bersama isteri dan dua anaknya...

Manusia memisahkan hubungan dengan caranya dengan kekerasan hati dan kemarahan namun tuhan mengembalikannya kembali dengan sifat kasih sayang yang diturunkannya.
Ketika Tuhan memutuskan hubungan melalui ajal yang telah datang Dia memberi harapan dengan doa memberi ruang lain untuk tetap berhubungan melalui kuasaNya.

Jumat, 09 Januari 2009

Ibu itu bernama Syahrazat Sauqat Al Bachri (Umi Ayat)

Saya terhempas dalam rasa malu, terpuruk dalam keniscayaan eksistensi yang tak berarti. Seolah dikembalikan dalam titik nol masuk sedalam dalamnya keruang hampa.
Seringkali berada pada ruang publisitas yang sebenarnya tak banyak memberi arti hanya kepuasan artifisial. Hanya sedikit yang saya lakukan namun terkadang mendapat gema besar betapa memalukannya.

Melihat perjuangan seorang Ibu, melihat keikhlasan dengan nyata, seperti diberikan cermin yang menampakan seluruh ruang kekotoran hati dan pikiran kita, memberi tamparan pada kebodohan akan kecongkakan.

Awal saya mengenalnya ketika konflik Ambon sedang bergejolak, ibu ini menghampiri sambil bertanya dengan halus, “anda geis chalifah..?” “iya benar bu.” Jawab saya agak terperajat sambil menaruh dokument dokument Al Irsyad yang sedang saya pelajari di sekertariat PP Al Irsyad. Baru beberapa minggu lalu saya resmi menjadi salah satu pengurusnya.
“saya mendengar anda memberi tempat bagi keluarga pengungsi Ambon di khatulistiwa yang di Jalan Pedati.?” Tanyanya lagi. “iya benar” jawab saya lagi sambil menunggu kemana arah pembicaraan ini selanjutnya.
“kalau boleh saya mau minta tolong pertemukan saya dengan keluarga itu, Insya Allah dalam berbagai majelis ta’lim saya ingin salah satu dari keluarga itu menceritakan sendiri apa yang mereka alami di Ambon.” Sambung ibu ini lagi.
Dengan secepat kilat saya mengiyakan. dan semakin mengenalnya semakin terkagum kagum dan respek dengan apa yang dilakukannya.

Ibu ini tak banyak bicara dia hanya meminta pendapat lalu dia kerjakan apa yang dia mampu kerjakan, dan yang dia lakukan sangat melebihi apa yang kita kerjakan.
Satu hari dia berjalan dari gerbong kegerbong kereta melewati para penumpangdengan membagikan sticker gambar calon presiden pilihannya sambil berkata "inilahpresident pilihan kita, inilah president pilihan kita.." Bukan karena wajah sangpresident atau dia mengenalnya, atau punya keinginan tertentu untuk pribadi tapisemata mata hanya panggilan semangat keislamannya.

Di hari lainnya dia berkata dan bertanya tolong tugaskan saya kedesa desa mana saja yang belum tergarap saya bersedia untuk mendatanginya , dengan biaya yang dia cari sendiri pula.
Saya katakan di Jakarta sinipun masih banyak yang dapat kita lakukan dan belum tergarap. Kalau begitu banyak majelis ta’lim saya diberbagai pelosok akan saya datangi semuanya. Besar sekali harapan dan semangatnya untuk menjadikan Amin Rais menjadi President di masa itu.

Seminggu sebelumnya Umi Ayat berkata; akan pergi kesebuah kota di Jawa untuk menyadarkan mereka agar tidak salah memilih, pada saat bertemu lagi Umi Ayat bercerita ; saya baru kembali dari kota itu, namun saya tidak berhasil sulit sekali menyadarkan orang orang itu.
Saya tercengang, kekuatan apa yang ibu ini miliki ? dia berkata dan dia lakukan, tanpameminta tanpa memberi kesan saya sudah berjuang. Dia hanya berkata katasejujurnya apa yang ingin dilakukan dan lalu dilaksanakan dengan sepenuh hati.

Seorang Ibu Tua berjalan dengan tongkat dengan badan yang besar dan pasti melelahkan, namun semuanya menjadi mudah untuknya padahal beliau baru saja keluar dari rumah sakit.

Dalam kesempatan lain setelah Tsunami melanda Aceh Umi Ayat meminta waktu untuk berbicara disebuah forum tentang kebutuhan mesin jahit untuk para perempuan di Aceh. Dimana dia bulak balik melakukan perjalanan kesana untuk sebuah kata.. “EMPATI”.
Umi Ayat memiliki empati bukan dalam basa basi apa lagi sekedar lips service tapi dalam bentuk perbuatan.

Suatu ketika dada saya sempat berdegup kencang ketika Umi Ayat marah dan berteriak, apa pasal ? Dalam sebuah pertemuan di Cilacap yang bertujuan terjadinya islah dalam tubuh PP Al Irsyad. Umi Ayat menghendaki Musyawarah agar masing-masing kubu para ketuanya mengundurkan diri dengan mengganti dengan ketua umum baru yang tidak terlibat dalam konflik. Yusuf Usman Baisa menolak dengan berdalih “inilah demokrasi kita harus mendahulukan hak setiap orang dalam memilih ” dan Umi Ayat pun berteriak dengan lantang. “Yusuf !!! anda berda’wah dimana mana tapi kamu mendahulukan demokrasi ketimbang musyawarah!! !!!” Saya bergetar melihatnya bergetar mendengar teriakan spontan Umi ini yang sudah tak mampu menahan emosinya. Pilihan untuk mundur bagi Hisyam Thalib yg sudah disetujui oleh semua fungsionaris PP demi tercipatnya sebuah perdamaian, namun ditolak oleh Kubu Faruk Zein Bajabir melalui Yusuf Baisa dengan alasan demokrasi. Dan Umi Ayat seorang perempuan lembut hati, tak kuasa menahan emosinya melihat Al Irsyad terpecah belah untuk sebuah kata sakti ; yang bernama EKSISTENSI KELOMPOK dengan alasan demokrasi. Saya menunggu jawaban selanjutnya tapi urung, karena mata Umi yang sangat mencintai Al Irsyad ini, dimana bertahun tahun dia bergelut didalamnya untuk berda’wah kadung basah oleh air mata. Saya melihat senyum kemenangan di wajah para penentangnya, dan getir melihat wajah Umi ini berubah sendu.

Kamis 8 Januari 2009 kami melakukan demo di kedubes Mesir sebagai wujud solidaritas pada bangsa Palestina yang tertindas oleh Isrel. Ketika kami sampai di tempat, sang ibu telah menunggu disana bersama rombongannya. Dia Cuma mendengar dan tanpa bertanya masalah transportasi, logistik dan sebagainya dia ada di sana lebih dulu dari kami.
Dan Umi inipun berorasi, sebuah orasi dengan untaian kata kata yang lahir dari ketulusan dan kasih sayang. Dia mencintai umat Islam dan cinta itu telah memberikannya kekuatan melebihi kemampuan fisiknya.

Dia menggarisi hidupnya untuk sebuah kalimat. BERJUANG UNTUK ISLAM DALAM SETIAP KESEMPATAN.

Umi Ayat.... Izinkan saya mengatakan, Umi adalah simbol ketulusan, keikhlasan,dan kekuatan, dari sedikit orang di masa kini yang berperangai seperti para Umi di 14 abad lalu. Betapa beruntungnya umat islam bila memiliki banyak ibu-ibu seperti Umi Ayat.

Salam.Untuk Nadia dan Helwi juga lainnya yang mengagumi dan mencintai Umi Ayat.

Dibawah ini adalah link video orasi Umi Ayat.
http://www.youtube. com/watch? v=MEivKzjPdAI

Rabu, 19 November 2008

IR Iswan Hasan Bobsaid (Abu Amar) Alias Ajee Gile.

Ir Iswan Hasan Bobsaid (Abu Amar) alias Ajee Gile..

"Ya Jamaah hari ini adalah hari terakhir ana hadir di room mulai besok selama satu bulan penuh ana off" kalimat itu terlontar dari seorang ber ID Ajee Gile dan saya sangat amat tidak meyakininya bahwa Ajee Gile alias Iswan Bobsaid akan berhenti bicara di room karena besok akan mulai Ramadhan. Saya menduga itu hanya lontaran spontan yang tidak akan dilaksanakan dengan kosisten. Namun dugaan saya salah, karena sosok Ajee Gile alias Iswan Bobsaid dengan mulutnya yang seringkali semberono ternyata bersikap istiqomah.

Ajee melewati ramadhan dengan meninggalkan kebiasaan yang setiap hari dilakoninya yaitu bercengkrama di room baik diskusi agama maupun mengolok ngolok siapapun yang ingin dioloknya.
Ramadhan adalan bulan yang mulia dan Ajee memuliakannya dengan hanya "berdialog" pada Tuhannya.

Ajee Gile nama Idnya, sosok yang kontroversial, memiliki pemahaman agama dengan berbagai referensi yang luas disertai kemampuan retorika dengan aksentuasi suara yang khas.

Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Wijaya Kusumah ini terlahir ditahun 1965 di Surabaya. meninggalkan Indonesia di tahun 1990 menuju New Zealand. Setelah bermukim 3 tahun lebih dinegeri yang berdekatan dengan kutub Selatan, Ia kembali ke Surabaya dan menikah dengan seorang wanita bernama Huda Alhibshy 14 tahun lalu. anak dari pasangan Abduraman Hibshy dan Tin Alamudi. Lalu memulai hidupnya menjadi warga Australia dan sampai saat ini bermukim di Melborne.

Ayah tiga anak ini, Amer, Amani dan Inayah. Selalu tampil atraktif, tak ada hari tanpa canda yang terkadang membuat merinding orang yang mendengarnya, kadang membuat menangis wanita yang di godanya. Namun dilain waktu dengan serius pula Abu Amar (Iswan Bobsaid) menerangkan berbagai pendapat ulama tersohor mengenai satu masalah agama dari mulai Shaikh Saltut, Ibnu Taimiyah, sampai pada Yusuf Qordawi. Kegemarannya membaca buku dan kapasitas memorinya yang luar biasa memberikan kemampuan untuk menerangkan satu masalah dengan jelas dan terang benderang.

Bila banyak orang menerima warisan harta sepeninggalan orang tuanya maka Abu Amar (Ajee Gile) ini mendapatkan puluhan kitab. Dalam berbagai diskusi terlihat jelas bahwa kitab kitab itu dibacanya. Menunjukkan kelasnya sebagai intelektual. Akan tetapi disisi lain dengan tiba-tiba lontaran pernyataannya melenceng jauh dari mengutip pendapat ulama, beralih dengan mengarang sebuah cerita lucu yang berisi ledekan salah seorang di room yang membuat banyak orang terperajat dan tertawa. Karena dari masalah yg sangat serius tiba-tiba berbalik berbicara masalah daster dan body perempuan.

Abu Amar (Iswan Bobsaid) adalah cucu Ami Ali Bobsaid seorang tokoh Jamaah di jawa Timur yang bekedudukan sebagai kapten Arab dimasanya, ada darah ketokohan dalam dirinya, menjadi tak heran bila sosoknya memiliki karakter kewibawaan. Sosok berbadan gempal dengan rambut ikal dan bermuka lebar ini menyukai Tshert dan Jeans dalam berpakaian. Dibalik penampilannya yang nyantai itu terdapat ketajamannya dalam berfikir.

Ajee Gile idiomnya, memang sesuai dengan karakternya yang akan membuat orang merasa heran mendengar gaya bicaranya yang keras tanpa eufemisme. Tak ada penghalusan kata semua dinyatakan dengan langsung tanpa tedeng aling aling, ketersinggungan bukanlah bagian dari dirinya demikian pula sebaliknya tak ada kesan empati dari dirinya dalam menyatakan sesuatu.

Namun dibalik image kontroversial yang dibangun pada dirinya, tak banyak yang tahu bahwa Iswan Bobsad alias Ajee Gile memiliki empati yang luar biasa terhadap nasib orang lain yang kurang beruntung, tangannya selalu terlepas. Dia memperhatikan orang orang yang dikenalnya lama dan dengan tanpa banyak bertanya dia mengirimkan kiriman untuk orang orang yang sedang kesulitan. Seorang wanita setengah baya yang memelihara beberapa anak yatim tak luput dari uluran tangannya.

Bravo Ajee. Hidup memang tidak harus lurus apa lagi "menuhankan" image dimata manusia, biarkan hanya Allah yang tau apa dan bagaimana kita sebenarnya.

Selasa, 11 November 2008

Sara jaiz (Bunda)

Sebuah room di yahoo messenger telah membangun pertemanan, keakraban dan solidaritas. Sebuah ruang confrence yang hanya diisi dengan suara telah memberi ruang interaksi yang intensif yang melahirkan hubungan kekerabatan.
Berbagai macam karakter berada didalamnya dari penda'wah sampai pembanyol, dari pendebat sampai yang hanya masuk untuk mendengar. Dari "pendongeng berita" sampai pencari jodoh. Dunia maya memberi ruang untuk setiap orang beraktualisasi tanpa harus bersiap dengan penampilan fisik.

Diantara berbagai karakter didalamnya terdapat sosok unik, seorang ibu bernama Sara Jaiz lebih dikenal dengan sebutan Bunda. Ibu yang telah memiliki cucu ini tinggal di Belanda, menggemari warna merah, dari ruang depan sampai ruang tamu rumahnya dicat dengan warna merah, dengan lampu lampu yang juga dilapisi kain berwarna merah. Seorang ibu yang apik tidak hanya apik pada dirinya tapi juga kebersihan rumahnya, sebuah bangku leter L berwarna coklat susu mengisi ruang dalam untuk tamu yang datang dan terdapat puluhan bantal kecil yang menghiasi keberadaan ruang tamu tersebut.

Satu lemari khusus disediakan untuk berbagai asesoris, mulai kalung, gelang hingga tas berbagai macam model tersimpan rapih, satu lemari lainnya tersusun berbagai sepatu dan sandal. Bunda (Sara Jaiz) yang sering menyatakan dirinya perempuan berkonde dan berkain wiron, seperti yang sering selalu dikatakannya sebagai simbol perumpaan wanita jaman dulu, menurut berbagai info sangat jauh berbeda dengan aselinya bunda selalu tampil aksi dan fashionable.

Kehadirannya di room selalu ditunggu oleh banyak orang, baik lelaki dan perempuan, tutur katanya yang mengalir dengan lancar sering kali pula tidak memperdulikan titik maupun koma merupakan ciri khasnya. Dia memiliki kemampuan untuk memberi warna lain diantara debat kaum lelaki yang kadang tak berujung pangkal, ditengah perdebatan serius berbagai macam topik tak jarang bunda mengomel tentang Valerio (cucunya) yang sedang menarik narik kabel komputer dengan marah karena sang nenek sedang asik bercengkrama di room. Menimbulkan senyum bagi yang mendengar dan membayangkan keriuhan yang terjadi disebuah rumah diseberang lautan sana.

Perempuan asal solo ini memiliki keberanian luar biasa, dia hidup mandiri di negeri Keju dan selalunya siap menghadapi tantangan apapun bentuknya. Namun didalam keberaniannya sebagai perempuan mandiri dia juga sangat takut dengan setan yang membuat dia takut tidur sendiri bila rumahnya sedang tak ada orang lain.

Bunda Nandaku IDnya, selalunya mengasosiasikan dirinya sebagai wanita tua, selalunya memberi nasehat sekaligus juga gemar bercanda dan semua orang digodanya. Namun demikian semua orang menghormatinya, ditengah keceriaan dan candanya terdapat ketulusan suaranya.

Setiap bunda hadir maka selalunya dia menyanyi, suaranya memang merdu terkadang lirih, dan hampir semua lagu yang dinyanyikan adalah lagu lama dari ingatan semasa di Solo ketika radio ABC milik PC Al irsyad Solo masih berjaya.

Kini kurasa semua kau lupakan sudah
hatimu tergoda akan harta dan permata
bukahkah semua itu hiasan belaka
hidup bahagia bukanlah karena benda.
hidup penuh kasih sayang itulah milikku
jadikan benda berharga disepanjang masa bukankah tujuan kita.


Satu syair yang sering dibawakan bunda terkadang memecah kesunyian room dimana semua orang terdiam dan menikmati suaranya.

Teruslah mengoceh dan bernyanyi bunda, karena dunia butuh orang seperti bunda.