Kamis, 24 Juli 2008

Sang Maestro Hadi Mahdami

Kita merasa memiliki sesuatu setelah kita kehilangan sesuatu itu.
kalimat diatas sangat mengena untuk berbagai hal dalam kehidupan dunia ini, seringkali kita menggampangkan segala sesuatu yang dekat dengan kita atau yang kita miliki. Sesuatu itu baru kita rindukan keberadaannya bila kita sudah kehilangannya.

Sebahagian besar jamaah menyukai samar atau pesta dan sebuah pesta akan bertambah kemeriahannya bila datang seorang seniman tua berumur 80 tahunan. Namun masih gagah, masih pandai memetik gitar dengan tarikan suara yang khas menyanyikan lagu bernada riang berupa pantun jenaka atau bernuansa nasehat.

Seniman itu bernama Hadi Mahdami, saya mengenalnya dengan baik dan relatif sering bertemu, dalam pesta pernikahan ataupun kalau saya sedang mampir ke jalan Wedana (Kampung Melayu) untuk silaturahmi, terkadang ikut menemani bermain gaple bersama jamaah lainnya.

Ami Hadi sangat bersahaja, baik penampilan maupun tutur katanya, keberadaannya menggembirakan setiap orang, baik ketika bermain musik ataupun sekedar berbincang bincang Ami Hadipun sangat suka bercanda. Hampir seluruh Jamaah terutama jamaah Betawi baik muda maupun tua mengenal siapa Hadi Mahdami. Lagu lagunya sangat familiar melintasi berbagai generasi.

Di sekitar tahun 2000 an, Hadi Mahdami merilis kembali album lamanya dan hebatnya album itu dikeluarkan disaat usianya mencapai 86 tahun, suaranya masih merdu dan petikan gitarnyapun masih solid. kaset itu tak begitu banyak hanya sekitar dua ribuan dan dalam waktu singkat kaset itupun habis terjual.

Setiap orang yang membeli selalunya komplain bukan karena albumnya yang tidak bagus namun satu lagu yang sudah menjadi trade marknya ami Hadi tak ada dalam kaset itu, Suami Durhaka. entah kenapa tak masuk dalam album yang direlease ulang disaat usianya 86 tahun.

Ketika vokalis vokalis muda bermunculan Hadi Mahdami tak kehilangan getarannya, dia tidak merasa tersaingi karena memang tak bisa tersaingi oleh siapapun.

Tahun 2004 sang maestro Hadi Mahdami meninggal dunia dirumahnya yang sederhana dibilangan Jalan Wedana Kampung Melayu. Dalam upacara pemakaman yang sederhana ketika jasadnya memasuki liang lahat, dalam hati saya berucap "selamat jalan ami Hadi, selamat jalan orang tua yang baik hati, tanah ini akan menguburkan jasad tapi tidak karya ami' Hadi."


Kini ketika lagu lagu melayu amburadul menyeruak diberbagai radio maupun televisi.
saya lebih suka mendengar lagu-lagu Hadi Mahdami di mobil ketika kemacetan selalu menjadi musuh waktu kita di setiap hari kerja.

lupakanlah dunia dan tenangkanlah jiwa..
jangan muram durja...jangan kau sia sia..
menghabiskan usia yang masih muda belia..
jangan habiskan usia kerna asmara,,,
atau biarkan dirimu dimabuk cinta....
jika air mata untuk kekasih saja...
senyum yang menawan untuk siapa...
untuk aku itu pasti kerlingan mata yang penuh arti..
untuk aku itu pasti kerlingan mata yang penuh arti..

(Hadi Mahdami)

Senin, 14 Juli 2008

Ahmadiyah,Habib, Betawi, KH Abdullah Syafii, Ect,Ect.

Allah hu Akbar Allah hu Akbar Allah Allah hu Akbar...
Kalam suci menentukan ku tuk berjuang..
hidup serentak untuk membela kebenaran..
untuk negara bangsa dan kemakmuran.. hukum Allah tegakkan..
Allah Hu Akbar Allah Hu Akbar Allah Allah Hu Akbar..

putera puteri islam harapan agama...
majulah serentak gemgamkan persatuan... kalam Tuhan..
mari kita memuji mari kita memuja..
peganglah persatuan..kalam Tuhan..

Pemuda pemudi islam bangunlah panggilan jihad rampungkan..
wasiat Muhammad peganglah... harta dan jiwa serahkan...
binalah persatuan.. sirnakan perpecahan.. .persatuan ..kalam tuhan
pertikaian menguntungkan musuh tuhan ..
hanya iman tauhid dapat menyatukan.. .
panggilan jihad tirukan ...

ulama pemimpin islam dengarlah... demi agama sadarlah..
hentikan pertikaian.. ciptakan perdamaian.. .
tuntutan agama menjadi tujuan....
panggilan jihad tirukan... panggilan jihad tirukan...

Panggilan Jihad. Radio Assyafiiyah


Asww. Pertama tama saya mohon maaf bila terlambat menanggapi dikarenakan waktu yang tak memungkinkan untuk berkomunikasi melalui milis. Namun Doa saya untuk teman teman semua selama di tanah suci tak pernah putus, baik yang saya kenal wajah dan namanya, maupun yang hanya namanya saja.
Dua minggu kemarin hp saya kebanjiran sms mengenai situasi Jakarta dan ada banyak email melalui Japri tentang Habib Rizieq Shihab dan FPI, Ahmadiyah dan banyak hal lainnya. Jangankan untuk menjawab satu persatu bahkan untuk membacanya saja saya lumayan gagap.

Namun demikian saya ingin menanggapi posting Elza, Tulus, dll dimilis kahmi dan teman teman lainnya yang dikirim melalui japri. Salah satunya yang berjudul Apel Akbar Bubar Setelah Diserbu. yang seolah olah dikesankan saya menyetujui tindakan kekerasan oleh FPI.
Jawaban saya mengenai insiden Monas itu singkat saja. Satu satunya kekerasan yang saya sukai adalah; Bila rudal rudal buatan Rakyat Palestina mengenai tentara Israel yang menindas bangsa Palestina. "Kekerasan" semacam itulah yang saya sukai selebihnya saya tidak suka.

Elza, Mas Tulus dan teman lainnya, dari pertama saudara Saidiman memposting ajakan apel akbar memperingati Hari Lahir Pancasila bersama AKKBB. Saya sudah merasakan ada yang tak beres dengan kegiatan itu, bahkan pada hari H nya saya mendapat sms untuk mengikuti kegiatan tersebut dari nomor yang tidak saya kenali, namun dibawahnya tertulis nama Nong. Ketika saya konfirmasi tak ada jawaban dari sipengirim.. .
Saya cuma berfikir bahwa mereka para penyelenggara Apel Akbar 1 Juni tidak memiliki sensitifitas terhadap masyarakat Jakarta ("Betawi"), atau jangan jangan tidak mengerti apa dan bagaimana masyarakat Jakarta ("Betawi") tempat mereka tinggal.

Saya ingin mengurai sedikit saja mengenai masyarakat Jakarta ini. Dulu di Jakarta ada stasiun radio bernama Radio Asyafiiyah di Bali Matraman tepatnya. Setiap pagi menyiarkan da'wah yang di suarakan oleh Almarhum KH Abdullah Syafii, Setiap memulai siaran, radio itu selalu mengumandangkan lagu berjudul Panggilan Jihad yang teksnya saya tuliskan diatas.

Umi (ibu) saya dan ratusan ribu masyarakat lainnya hafal gelombang radio ini, setiap hari bila ada yang meninggal dunia maka radio ini mengumumkan berita orang yang wafat. Walaupun belum ada hp dimasa itu namun kita dapat dengan cepat mengetahui bila ada kerabat yang meninggal melalui radio Assyafiiyah. Dapat dikatakan sang Kiayi bernama Abdullah Syafii adalah tokoh yang mempersatukan masyarakat Islam di Jakarta melalui radio dan ceramah ceramahnya. (walaupun terkadang saya agak pengeng kuping karena ummi saya selalu menyetelnya keras keras agar anak anaknya bangun untuk sholat subuh :-) ;-) )

KH Abdullah Syafii adalah murid dari Habib Ali Alhabsyi seorang habib yang terkenal dijamannya bertempat di kwitang, sampai saat ini Majelis Ta'limnya masih berjalan diteruskan oleh cucunya bernama Habib Abdurahman Alhabsyi.

Ketika kasus Ahmadiyah marak dalam pemberitaan dan pembelaan terhadap metreka pun mengalir dengan deras, sesungguhnya masyarakat berpeci dan berkoko itu sudah sangat muak. Mereka tidak menyukai kekerasan namun juga tak suka Ahmadiyah didiamkan. Sesungguhnya warna masyarakat Jakarta aselinya adalah yang turun di hari senin kemarin. Mereka adalah masyarakat diam, masyarakat yang tergabung di ribuan Majelis Ta'lim yang dikelola oleh Habaib maupun Ustadz ustadz "betawi" yang umumnya memiliki kedekatan emosional dengan para Habaib, karena sebagian besar mereka adalah murid muridnya. baik langsung ataupun tidak langsung.

Habib Abdurahman Assegaf adalah salah satu contoh seorang guru yang memiliki ribuan murid dan murid muridnya itu menghasilkan murid lagi, bisa diperkirakan berapakah muridnya dia, bila dari umur sebelas tahun beliau mengajar sampai akhir hayatnya diumur 90 tahun lebih. Para Habib di masa itu kebanyakan adalah habib yang tawadhu, semua langkahnya hanya berurusan dengan Syiar Islam dan tak terkait dengan politik dalam arti kepentingan pribadi, oleh karenanya mereka sangat di hormati oleh masyarakat "betawi" ini.

Masyarakat diam itu secara ekonomi tersingkirkan, yang mereka miliki tingal satu yaitu keyakinan keagamaan pada Islam, dimana Rasulullah Muhammad SAW adalah pujaan mereka setiap hari yang disenandungkan melalui shalawatan baik beramai ramai maupun ratiban secara personal. Apa yang dilakukan oleh teman teman di Monas itu secara tidak langsuing sebenarnya adalah "menghina" mereka, "menghina" keyakinan mereka pada Rasulnya.

Mereka Islam "kampung" sama seperti saya, kita kita ini cuma lahirnya saja di metropolitan namun pendidikan Islam masyarakat disini adalah Islam tradisional, saya lahir dan besar dalam suasana itu, mohon maaf Lutfi Assauqani yang " Liberal" itu pada dasarnya sama seperti saya sama seperti kaum berpeci dan berkoko yang turun kejalan dihari senin itu, yaitu islam "kampung" Islam tradisional yang pada intinya tak pelik pelik dalam menghayati Tuhan dan keberadaannya. Cuma Lutfi lagi ganti kulit dan saya tak mau ganti kulit saya tetap lebih suka menjadi Islam "kampung" ketimbang beraneh aneh dalam beragama. Walaupun HMI sedikit banyak telah merubah pemikiran maupun pola ibadah ritual islam saya setelah mahasiswa, namun saya tetap menghormati para Habaib masa lalu yang sudah Almarhum, KH Abdullah Syafii dan Habib Habib lainnya yang masih tawadhu yang tak terjebak dalam interes pribadi, dan ribuan muridnya yang telah mensyiarkan Islam dengan tulus dan ikhlas. Bahkan setelah menjadi pengurus Alirsyad pun saya tetap hadir dalam undangan Maulid ataupun Khaul yang di gelar oleh para habaib itu. (maaf bagi yang anti bid'ah buat saya hubungan kemanusiaan jauh lebih penting ketimbang berpegang secara kaku pada mazhab)). Beberapa efek sosial kegiatan maulid ini sudah saya jelaskan dalam posting terdahulu.

Mayoritas masyarakat "Betawi" di Jakarta berfaham Ahlus Sunnah Waljamaah sama persis dengan fahamnya NU, namun bukan Gusdur yang menjadi panutan disini, panutan masyarakat berpeci dan berkoko di Jakarta adalah KH Abdullah Syafii, Habib Abdurahman Assegaf, Habib Umar bin Hud Al Atas (cipayung) yang semuanya sudah Almarhum.
Itu sebabnya Muhamadiyah, Alirsyad, Persis, tidak laku di masyarakat Jakarta ("Betawi") ini.

Ketika permintaan membubarkan Ahmadiyah telah mulai surut dari pemberitaan, kemudian dari beberapa tokohnya saya mendapat berita bahwa mereka "menyerah" karena tahu persis bahwa pemerintah tak akan membubarkan. Terlebih setelah ada berita tentang empat negara mendatangi DEPAG melalui perwakilannya.

Saya agak aneh melihat undangan apel akbar, untuk apa lagi apel akbar diadakan? untuk apa lagi memberi dukungan pada Achmadiyah dengan membawa massa? yang telah jelas sudah "menang" dari sisi opini, terlebih dengan kegigihan Adnan Buyung Nasution dalam membela Achmadiyah.

Maka ketika FPI melakukan penyerbuan saya tidak merasakan kejanggalan karena provokasi itu sudah dibangun dari sebelum sebelumnya. Bahkan jauh hari sebelumnya saya sudah menulis dimilis kahmi dan lainnya dengan judul "Kampanye Memelorotkan Syariah Islam" yang berisi provokasi pada FPI dan lainnya. Bentrokan itu hanya menunggu waktu saja bahklan kalau bukan dengan FPI akan ada kemungkinan dengan Masyarakat "Betawi" Tanah Abang, atau Condet atau jatinegara tergantung siapa yang mampu menggerakkannya.

Lebih jauh lagi saya ingin bertanya benarkah kaum liberal pembela pluralisme itu marah dengan sikap FPI ? Saya katakan sama sekali tidak. Karena itulah yang mereka inginkan, bentrokan itu memang sudah ditunggu tunggu agar kampanye anti Islam syariah semakin mudah, terlebih dengan dukungan media masa yang demikian kuat bahkan pemilahan beritapun dibuat sedemikian rupa. Semua hanya skenario dan korban yang jatuh dianggap adalah resiko yang harus di tanggung, kira kira seperti demo Mahasiswa 66 dan 98 berharap ada mahasiswa yang mati agar gerakan lebih dramatis dan mendapat dukungan luas.


Saya tidak membenarkan tindakan FPI namun tolong dilihat juga bagaimana tingkah para pendukung Achmadiyah itu, setidaknya punyakah mereka sedikit EMPATI terhadap para "Islam Kampung" yang tak sehebat mereka dalam berfikir pluralisme dan tetek bengek lainnya. Punyakah mereka rasa toleran terhadap kejumudan berfikir kita kita ini yang masih kampungan, tradisional, perlu pencerahan,dsb dsb. Adakah orang orang hebat yang elitis yang Doktoral summa cumlaude mengerti masyarakatnya sendiri.???
Semakin "tinggi" seseorang terkadang semakin tak menginjak bumi....

Senin, 07 Juli 2008

Jadi Umat Islam di Marahin Melulu

Ada nabi palsu tapi malah di bela sampai demo ber kali kali bahkan buat iklan di Koran, sementara yang gak suka dengan nabi palsu itu di caci maki habis habisan, gak pluralis, gak toleran, gak pancasilais, fundamentalis, puritan, islam kuno, sok benar sendiri. Anehnya lagi manusia beragama lain diajak ikut ikutan membela Ahmadiyah.
Apa urusannya ?

Ada lembaga yang tak jelas kegunaannya untuk bangsa ini, Menteri terkait bahkan sudah teriak untuk menghentikan aktifitas lembaga itu yang bernama Namru 2, Ketika lembaga yang jelas jelas merugikan bangsa ini terkuak keculasannya, anehnya mereka diam saja, gak ada iklan di koran meminta Namru angkat kaki. Iklannya malah ngurusin/membela Ahmadiyah yang bukan bidang mereka plus caci maki pada MUI.
Ironisnya lagi yang dituduh tidak Pancasilais itu malah paling gencar meminta Namru 2 angkat kaki. Yang pancasilais beneran itu yang mana ?

Curiga pada Yahudi yang mengobrak abrik Palestina di bilang rasis. Lha kalau Yahudi lebih banyak yang baiknya kenapa nasib bangsa Palestina makin sengsara.?
Untuk yang namanya kekayaan tega teganya seluruh mata uang berbagai negara dijatuhkan yang berdampak pada ratusan juta manusia jatuh miskin di banyak negara. Manusia dari mana yang tega berbuat seperti itu ? Anehnya lagi manusia tanpa hati nurani itu di puji habis habisan karena kemampuannya dibidang valas, di kutip pendapatnya, dijadikan tamu istimewa untuk menceramahi pembangunan ekonomi.

Irak tanpa alasan yang jelas di bombardil habis habisan, negara kaya minyak itu sekarang hancur-hancuran di kangkangi Amerika, tapi yang dinilai keji selalu saja umat Islam yang udah miskin kayak gini masih aja dimusuhin melulu, lucunya yang ikutan marah pada umat Islam orang orang Islam juga.

Afghanistan makin gak jelas nasibnya, beberapa bulan sekali selalu saja kita mendengar pemboman tentara Amerika yang mematikan anak anak kecil dan perempuan, alasannya memburu teroris tapi yang pada koit kenapa anak anak dan kaum perempuan?

Banyak hal manyangkut umat yang memang harus terus menerus dikritisi agar lebih baik perilakunya, namun kalau berpegang pada akidah itupun masih disalahkan juga.
Beda beda tipis antara mengkritisi atau membenci ..???

Selasa, 01 Juli 2008

Ustadz TV Rusak

Seorang teman yang gregetan dengan perilaku beberapa Ustadz belakangan ini memberi dua kategori; Ustadz, yang satu dinamakan dengan sebutan "Ustadz TV Rusak." Ustadz TV Rusak itu cuma ada suaranya saja, artinya cuma bisa ceramah, terdengar suaranya dengan jelas tapi gambarnya gak ada, Artinya perilakunya tidak sesuai dengan apa yang di ceramahkan. Cuma ada suaranya saja perilakunya tak kelihatan sebagai Ustadz.



Yang satu lagi diibaratkan Ustadz TV Normal, ada suara dan ada gambarnya. Ustadz macam itu antara perkataan dan perbuatan sesuai, akhlaqnya terlihat baik dalam perilaku sehari hari. Ustadz macam itu mengajak orang pada kebaikan dan perilakunya juga sesuai dengan yang dikatakan atau dengan yang diajarkan. Walhasil Ustadz macam itu bisa menjadi contoh baik perkataan maupun perilakunya.



Saya tidak ingin menyebut nama nama siapa siapa Ustadz TV Rusak itu karena saya yakin teman teman dimilis Al Irsyad mahfum ada dimana mereka. Tapi kalau Ustadz yang seperti TV normal itu ada dimilis ini juga namanya Ustadz Zufar Bawazier perilakunya baik, perkataannya lemah lembut tak pernah berkata yang menyudutkan orang lain kecuali yang benar benar musuh Allah.

Ustadz Abdullah Jaidi ketua Umum PP Alirsyad (Semoga Allah meridhoi dan melapangkan hatinya) Adalah juga seorang Ustadz yang termasuk TV Normal, ketika dimilis Al irsyad banyak kritik ditujukan kepadanya jawabannya singkat dan santun "kita memang harus lebih banyak bekerja untuk memperbaiki kondisi ini." Tak ada kemarahan tak ada sanggahan balik hanya menerima dan berusaha memperbaiki keadaan dengan semampunya dia.



Ada lagi seorang Ustadz bernama Ustadz Husin Bin Hamid Alatas berkali kali di fitnah dengan berbagai macam hal bahkan Ustad TV Rusak pernah membuat selebaran gelap tentang dia, dan jawabannya bukan membalas n cacian namun malah mendoakan para pencacinya "Semoga kita semua diampuni oleh Allah, saya memaafkan setiap perkataan atau fitnah orang lain yang negatif pada saya, karena saya tak mau ber lama lama di padang masyar untuk menghitung dosa orang lain."



Berbeda dengan Ustad TV Rusak selain cuma bisa ceramah selebihnya mengkritik kanan kiri seolah olah agama adalah medan persaingan, kebenaran hanya menjadi miliknya sendiri dan kelompoknya. Ironisnya perilakunya sama sekali tak sesuai dengan perkataannya.



Semoga kita terhindar dari perilaku Ustad TV Rusak yang yang kerjanya selalu memecah belah umat Islam.

Selasa, 24 Juni 2008

Mengisi Warung 7. (Gita Cinta dari SMA )

Saya mendapat album CD Crisye berjudul Trilogi dari 01 s/d 03. Isinya seluruh album Crisye dari Sabda Alam sampai Albumnya tahun 2004 ada disitu. Terdapat puluhan CD didalamnya yang dibuat persis seperti album album lamanya. Tentu saja didalam album Trillogi itu terdapat Album yang berjudul Puspa Indah.
Buat saya kumpulan lagu dialbum Puspa Indah memiliki daya tarik tersendiri karena album itu dibuat tahun1979 ketika kita masih kelas dua SMA.

Puspa Indah di buat untuk menjadi Sound Trakc Film Gita Cinta Dari SMA, sebuah film yang dibintangi oleh Rano Karno dan Yessi Gusman. Di angkat dari Cerita Bersambung di majalah Gadis yang di tulis oleh Edi D Iskandar. Dari sisi penulisan cerber itu biasa saja bahkan terlalu "melankolis" , bukan cerita yang memiliki nilai sastra atau jalinan cerita yang memiliki kekuatan dialog. Bahkan kalau dibandingkan dengan penulis masa itu Marga T (Badai Pasti Berlalu) dan Ashadi Siregar. (Cintaku di kampus Biru, Kugapai Cintamu,dan Terminal Cinta Terakhir) maka novel novel yang di tulis oleh Edi D Iskandar belum sekualitas dua orang yang saya sebutkan diatas.

Akan tetapi Edi D Iskandar memiliki daya tarik tersendiri karena Cerber dan Novel Novelnya lahir di jaman kita dan laris di pasaran pada saat itu. Paling tidak Gita Cinta Dari SMA dan Puspa Indah Taman Hati telah turut mewarnai kehidupan anak SMA di akhir tahun 70an.

Ketika saya membuka isinya satu persatu, maka CD album Puspa Indah yang saya pilih lebih dahulu walaupun saya tahu bahwa penggarapan Musik di Album Sabda Alam dan Badai Pasti Berlalu jauh lebih bagus.

Ada rekaman jejak sejarah di album itu, yang coba saya tarik kembali untuk hadir dalam perjalanan saya dari tempat mendapat album itu menuju kantor.

Saya tidak terlalu ingat dengan siapa saja saya menonton film Gita Cinta Dari SMA sepulang dari sekolah. kalau gak salah hari sabtu, kita nonton ramai ramai dan yang mengajak saya untuk ikut nonton namanya Heni anak Ipa/ips yang rumahnya di Cijantung.

Filmnya main jam dua siang di bioskop President, film ini begitu larisnya hingga beberapa anak dari sekolah lain meniru tokoh di film itu, (kesekolah dengan naik sepeda.)

Galih dan Ratna adalah tokoh fiksi yang di ceritakan memiliki hubungan asmara namun mendapat tantangan dari orang tua Ratna (Yessi Gusman), ada kesedihan di ending cerita dalam film itu ketika Galih mengejar Ratna di stasiun dan kereta sudah melaju menuju Jogja.

Ketika bubaran saya tak bersikap apapun dan lebih memilih diam ketika sejumlah teman laki lainnya meledek teman perempuan disebabkan matanya yang memerah.
Ketika meloncat ke Bis untuk pulang saya cuma mengucapkan terimakasih pada Heni yang sudah mengajak saya gabung untuk melihat film itu. Dan dia masih sibuk memainkan sapu tangannya yang agak sedikit basah.

Rekaman sejarah menarik jarak puluhan tahun itu untuk hadir kembali dalam bayangan dan menarik sejumlah rangkaian lainnya yang lepas-lepas, akan tetapi tak membuat kehilangan substansi. Rangkain rangkaian itu menjelma menjadi satu pijakan bahwa kehidupan berjalan dengan alamnya sendiri sendiri tapi tak terlepas dari satu kesatuan utuh. Setiap teman disini memiliki memori sendiri tentang masa itu, dan perjalanan setelahnya menjadikan kita dalam posisi seperti saat ini. Baik dengan keterpaksaan atau memang yang di cita citakan.

Akan tetapi apapun posisi kita sekarang ini paling tidak kita memiliki sejarah yang penuh warna, warna itu selalu cerah secerah langit di SMA 7. karena selalunya ada senyum hangat dari teman teman yang tak pernah melupakan apa yang dinamakan sahabat.

Mekar bersemi untaian kasih... jumpa cinta pertama...
telah tertanam rindu dendam...semakin dalam semakin kelam..
indah cinta berakhir duka...mengalun sunyi di buai mimpi...
masa remaja punahlah sudah..menjauh dari angan merapuh...
kini kucari celah bahagia....
(Gita Cinta, Guruh Soekarno)

Sabtu, 21 Juni 2008

Sogo Jongkok Di Seputaran Mekkah

Sogo Jongkok di Seputaran Mekah.



Di Daerah Tanah Abang setiap hari Minggu di pinggiran jalan depan pasar Tanah Abang banyak pedagang kaki lima yang khusus berjualan disana di setiap hari minggu, dari mulai barang rumah tangga sampai mainan anak-anak.



Saya gak tahu kegiatan ini masih berlangsung atau tidak akan tetapi pasar ini sempat dinamakan Sogo Jongkok dan cukup familiar dikalangan ibu rumah tangga.



Kegiatan pasar seperti itu tidak hanya ada di Tanah Abang tapi juga di seputaran Mekkah terutama dijalan menuju Masjid disamping Hotel Hilton.

Asyiknya berbelanja disini bukanlah barang barangnya namun para penjualnya. Ketika seorang teman bertanya harga barang dalam bahasa Arab, “kam haza.?” Maka pedagang itu menjawab “ Sepoloh real “ kata pedagang itu , “ini bagous” tambah pedagang itu lagi.

Hampir tak ada pedagang di seputaran mekkah baik yang di jalan maupun di toko yang tidak faham bahasa Indonesia khususnya dalam hal harga barang.



Beberapa tahun lalu terdapat pasar yang sangat terkenal di Mekkah dinamakan Pasar Seng, saking familiarnya beberapa penduduk Mekkah juga mengganti nama pasar itu dengan sebutan Pasar Seng mengikuti dengan sebutan masyarakat Indonesia. Pasar itu saat ini sudah dibongkar untuk dijadikan perluasan halaman Masjid, bukan hanya pasar yang dibongkar, namun hotel hotel yang didekatnya pun sudah rata dengan tanah, Sopsitel, juga Sheraton sudah tinggal kenangan.. Areal Masjid diperluas sampai kejalan raya yang nantinya akan disediakan monorel untuk menuju Masjid. Saya sangat apresiate dengan langkah pemerintah Saudi ini. Insya Allah di bulan puasa dan dimusim Haji mendatang, saya kira paling cepat tahun depan, kita tak perlu berdesakan untuk sholat di areal Masjid.



Pasar Seng sangat terkenal sebagai arena belanja barang barang murah berupa tasbeh, topi haji, jam, kurma,sajadah, abaya dsbnya. Para pedagang di pasar seng maupun di kaki lima seputaran Haram, memanfaatkan musim umroh maupun musim haji untuk menjual dagangan mereka. Anehnya saya tak menjumpai satupun penduduk Saudi yang berdagang disitu, umunya para pedagang adalah dari luar negeri yang sudah mukim disana, seperti Ethopia, Mesir, Yaman, Bangladesh juga dari Indonesia.



Beberapa kawan sering kecele ketika menanyakan harga barang atau ketika meminta konci kamar hotel. seorang teman yang meminta konci kamar hotel dalam bahasa arab yang terbalik balik, pegawai hotel ini malah bertanya dalam bahasa Indonesia. “kamar nomor 512 ? Tanya pegawai itu..? “naam” jawab teman saya “oh sudah diambil teman kamoe.” Terang si petugas hotel lagi dalam bahasa Indonesia.



Umumnya mereka faham bahasa Indonesia, dan juga sangat suka dengan orang Indonesia karena relatif mudah diatur, royal dalam berbelanja, juga jarang membuat masalah. Berbeda dengan masarakat dari negeri tertentu yang hampir menjadi mayoritas pekerja disana, yang sering kali membuat masalah. Beberapa waktu lalu 5 orang diantaranya di hukum gantung karena memperkosa kemudian membunuh korban yang diperkosanya.



Akan tetapi saya mungkin termasuk yang susah “diatur”. Beberapa tahun lalu saya ribut dan marah dengan polisi Saudi yang bertugas di areal Masjid, kekasaran mereka dalam mengusir orang yang sedang Sholat membuat saya naik pitam. Ketika sajadah saya diambil dengan cara yang menurut saya agak kasar, maka saya membalasnya dengan menarik dari tangan polisi itu dengan menghentak sajadah dari tangannya,



Merasa sebagai orang Saudi. Polisi itu tak senang hati saya pun balas berhadapan dan saling menunjuk,. Kami bicara dalam bahasa yang sama sama tidak kita fahami, buat saya yang penting dia tahu saya marah, dia mau mengerti atau tidak udah gak urusan. Seketika itu pula seorang komandannya menghampiri sambil menyabarkan dan berkata “ sobri sobri ya haj” (sabar sabar ya haji.) Saya masih tak senang hati dan menunjuk nunjuk muka polisi tadi itu, komandannya itu bertanya pada saya “dari mana kamu, ? “sayapun menjawab dengan nada tinggi. “ Indonesia !!!”, Sebagai orang Indonesia sering kali kita pasang kuda kuda lebih dulu kepada orang lain, karena terlalu sering Indonesia dianggap negeri terbelakang atau diremehkan, baik di Jepang maupun Amerika bahkan Malaysiapun ikut2an bersikap seperti itu. Dan Komandannya itu berkata sambil tersenyum. “La, la, Anta mus min Indonesia ” (tidak, tidak, kamu bukan Indonesia) saya tak faham lagi pembicaraan komandan polisi setelahnya. Namun teman saya yang faham bahasa Arab mengartikan “kamu bukan Indonesia, gak ada orang Indonesia pemarah seperti kamu..” kata sang komandan, Saya gak jadi marah tapi ketawa sendiri akhirnya.



Dan memang sering kali kita salah faham dengan polisi disana karena tempat yang penuh sering kali kita sholat di jalan yang menghalangi jalan masuk ke Masjid.

Cara mereka memang menurut kita disini agak kasar, tapi teman saya menjelaskan kalau polisi disini bekerja seperti cara polisi di Indonesia akan seperti apa kejadiannya. Ada jutaan orang dan umunya tak bisa diatur, “Badu’ badu’ itu harus dihadapi dengan cara Badu’ pula’” kata teman saya dan saya cuma diam merasa saya juga seperti Badu’i akhirnya. :-):-)



Para pedagang kaki lima terkadang bukan hanya dari Asia maupun Afrika tapi juga dari Eropa Timur, atau Palestine, Seorang teman beberapa tahun lalu bersama sama dalam satu rombongan. Saya heran kenapa dia rajin bulak balik ke pedagang kaki lima dibelakang Dar El tauhid Intercon, ketika sekali waktu saya mengikutinya. Ternyata…..?? ??? Pedagangnya itu..... Masya Allah berhitung mancung bermata biru berkulit putih kemerah merahan, super super cantikkkk. Pantassssss dia rajin bulak balik

Menikmati Tawaf

Ada kesalahan yang selalu berulang ulang dilakukan oleh orang yang berumroh maupun ber haji, Kesalahan itu adalah terburu buru sewaktu melakasanakan tawaf. Anehnya tergesa gesa dalam bertawaf yang dilakukan itu tidak menghasilkan apapun, sebaliknya malah mengesalkan orang lain, tabrak sana tabrak sini. Setelah selesai tak ada yang dituju melainkan hanya sholat didalam Masjid atau meneruskan dengan melaksanakan Sya'i.
Padahal kita tidak dalam posisi di kejar-kejar waktu, lain halnya bila kita berada di jakarta atau terlibat dalam sebuah pekerjaan. Umumnya orang yang datang hanya khusus untuk beribadah jadi mengapa harus terburu buru.

Awal pertama tama saya juga termasuk yang melakukan tawaf seperti itu, selalu terburu buru yang membuat kita tidak konsen dalam berdoa bahkan kehilangan kenikmatannya.
Dalam tawaf banyak pemandangan yang menyejukkan hati bila saja kita mau sedikit saja memperhatikan di sekeliling kita.

Saya melihat seorang tua yang kakinya lumpuh dia bertawaf dengan menarik tubuhnya dengan tangannya padahal banyak kursi roda disediakan, namun dia ingin melakukan dengan tenaganya sendiri dalam berjalan mengelilingi Ka'bah. Saya melihat sebuah pelajaran kesabaran dalam ketaatan beribadah.

Tak lama kemudian seorang anak tersenyum gembira diatas pundak seorang bapak mengucapkan dengan lidah yang masih pelo mengikuti seruan takbir yang dilakukan oleh ayah dan ibunya. Sebuah pendidikan tauhid dari semasa kecil nampak disitu.

Seorang anak perempuan cantik berjalan membacakan sebuah kitab berisi doa dan zhikir, tangan kanannya, menuntun sang ayah yang mulai renta. Seorang bapak yang berbahagia dan seorang anak perempuan sholehah menuntunnya dengan sabar.

Kemudian tiga orang berbadan besar berkulit hitam berjalan bergandengan tangan dengan cepat cepat tak mau saling melepas, menerobos orang orang yang didepannya, sebuah nafsu berbadah yang hanya merugikan orang lain. Sebuah pelajaran tentang egoisme.

Seorang anak lelaki mendorong kursi roda yang ditumpangi oleh ibunya, seolah tak ada beban dia gembira bisa melayani ibunya dalam beribadah. sebuah pelajaran tentang menjadi waladun Sholeh.
Saya melihat sekian puluh orang beradu kuat untuk mencium hajarul aswat, nafsu beribadah berubah menjadi saling dorong dan adu kekuatan, sebuah pelajaran tentang "kebodohan".

Saya berjalan perlahan lahan saja, berdoa dan berzhikir sambil menikmati semua pemandangan didalamnya. Semua merupakan pelajaran tentang etika, adab, cinta, kepatuhan bahkan egoisme.

Semua yang tergambar disitu seperti potongan potongan hidup yang mencerminkan diri kita sendiri dalam berbagai sifat keburukan maupun kebaikan.