Lazim diketahui pada umumnya anak anak laki kecil keturunan Arab nakal nakal dan tak bisa diatur, ada pameo yang menyatakan bila ada anak kecil Arab diam duduk tenang dan rapih bawalah kedokter mungkin lagi sakit. Kenakalan kenakalan baik di sekolah maupun dirumah bukan sesuatu yang aneh dan sudah bukan berita.
Para orang tua jaman dulu menyiapkan gesper (ikat pinggang) untuk menghukum anaknya, berbagai macam model hukuman dari ikat pinggang, dikunci dalam kamar mandi maupun menaruh sebatang kayu lalu menaruhnya disela dua kaki dan menyuruh anak itu berjongkok menjepit batang kayu itu. Lain lagi hukuman para guru ngaji, sebatang pinsil ditaruh di antara dua jari lalu di jepitnya dengan keras yang membuat siterhukum meringis, terkadang rotan rajin datang menyuntuh bagian tangan atau paha karena mengaji yang terbata bata dan selalu salah.
Didalam rumah abah adalah penguasa jarang sekali anak meminta keperluan untuknya langsung kepada abahnya, biasanya disampaikan melalui Umi'. Unsur ketakutan lebih dulu tercipta yang membuat anak sulit terbuka apa lagi menyatakan berbagai keberatan.
Akan tetapi kekuasaan Abah bersifat fisikal tidak menyentuh hati, karena hati anak Arab dikuasai Uminya' senakal apapun anak Arab bila air mata Umi' menetes maka jiwanya luruh, mungkin menjadi tukang kelahi, mungkin mabuk diluar rumah mungkin pula berlaku kriminal tapi begitu melihat mata ibunya melotot, matanya tak berani memandang melorot turun kebawah terlebih bila melihat Umi menangis maka hukuman rotan mungkin lebih diinginkan ketimbang melihat seorang Umi bersimbuh air mata.
Kepatuhan pada ibu bukanlah sesuatu yang didapat lewat khotbah di pengajian apa lagi doktrinasi, kepatuhan pada Umi adalah pelajaran dari contoh langsung perilaku para Abah dimasa lalu, setiap pagi orang tua laki mencium tangan ibunya mencium kening ibunya bertanya seputar keseharian atau kesehatannya lalu meminta doa, baru abah itu berangkat ke toko, bila rumahnya berlainan dia pergi dulu kerumah ibunya baru berangkat ketempat kerja. Tak jarang sepulang kerja dia tidak kembali kerumah istri dan keluarganya dulu tapi kerumah ibunya melihat keadaannya sore hari bercengkrama dengan santun, baru kembali ketengah istri dan anak anaknya. Dari masih kecil anak anak Arab melihat yang seperti itu setiap hari berbulan dan bertahun, masuk dalam alam bawah sadar terinternalisasi dan menjadikan seorang ibu seorang wanita suci. Doanya adalah lapang nya jalan, Doanya adalah kebahagiaan, Doanya adalah keberanian mengarungi dunia kehidupan.
Umi adalah manusia yang berkuasa dalam rumah tanpa kepalan tangan tanpa sebuah rotan dan ikat pinggang Umi berkuasa melalui hati dan perasaan, melaui jemari lembut yang menyebokkan kencing kita ditengah makan siangnya, Umi berkuasa melalui air susunya ditengah suhu badannya yang tinggi.
Para Abah dimasa lalu tak menunggu didatangi ibunya, tak menunggu ibunya meminta sesuatu darinya, bila dia memiliki uang untuk pergi haji maka uminya dululah yang pergi haji, bila dia memiliki uang untuk membeli rumah yang lebih baik ibunya dululah yang menempati.
Kini tradisi semakin longgar, cinta semakin berjarak oleh kesibukan dan kebutuhan duniawi tapi cinta para Umi masa lalu tak berjarak barang sehelai rambut, cinta para umi menunjukkan kekuatan fisik dan mental dari segala beban yang dihadapi didalam rumah. Memberikan ruang untuk anak anak tumbuh dengan sehat. Memiliki kapatutan, etika, dan Adab. Walaupun anak itu tujuh, sepuluh, bahkan dua belas ia menerima hidupnya sebagai ibu bukan pesaing dari sang suami.
Selasa, 22 Januari 2008
Jumat, 19 Oktober 2007
Negeri Dongeng Bernama UAE
.
Saya tidak memiliki waktu lama memasuki negeri yang menjadi perhatian dunia saat ini (UAE), namun dalam beberapa cerita dari warganya yang saya temui, hampir tak ada yang tak memuji negerinya dengan sangat antusias. Kesan puas dibawah pemerintahan yang sangat memperhatikan rakyatnya sangat nampak dari cara mereka menceritakan berbagai kemudahan dan kesejahteraan yang mereka dapatkan.
Ketika memasuki airport Abu Dhabi saya tak terlalu antusias, karena tak pernah memasuki negeri Arab lainnya kecuali Saudi untuk berumroh atau Haji, juga tak pernah tidak merasa jengkel dengan petugas imigrasinya yang sangat lama dalam menangani pasport. Satu persatu diteliti terkadang seenaknya meninggalkan meja mengobrol dulu dengan temannya sementara antrian menjulur panjang, Mereka tidak perduli dengan kelelahan orang yang mengantri dan lelah berjam jam didalam pesawat. Jangan mencoba memprotes karena tindakan mereka akan lebih ekstrem lagi. Anda bisa disingkirkan dari antrian. Para Badu' Badu' itu tak pernah belajar bagaimana menangani pekerjaan dengan cepat. Selalu merasa paling benar sendiri, dan jangan heran terkadang berlaku peraturan yang keluar dari isi kepalanya sendiri. Kesombongan sebagai negeri yang dikunjungi oleh manusia berbagai penjuru dunia sangat menjadi jadi, Mereka tak pernah berfikir bahwa kalau tidak karena Mekkah dan Madinah tak akan banyak
orang mau datang kenegerinya itu.
Semua yang ada Saudi sangat menarik ada mesjid dimana ka'bah didalamnya, ada Madina dimana Rasul dimakamkan dan ada makanan dan buah buahan yang banyak sekali dan semuanya nikmat, mereka juga sangat royal dalam membangun fasilitas Haji, royal dalam bersedekah, Paling banyak memberikan bantuan terutama kepada Indonesia dibanding negara Arab lainnya. Sangat perhatian dalam masalah agama. Cuma satu yang tak menarik, yaitu sifat keras dan selalu marah tanpa alasan. Berteriak teriak pada kawannya diantara meja petugas imigrasi adalah hal yang biasa
Selalu terburu buru bila menginnginkan sesuatu, satu hal kecil saja bisa saling memaki dengan sangat kasar, namun jarang sekali yang saling pukul karena penjara "sangat terbuka lebar," dan polisi tak segan menangkap terutama orang dari luar Saudi. Agak kontradiktif, pada umumnya mereka rahim dalam soal harta, tapi pelit untuk yang namanya Akhlak kepada orang lain. Berbeda dengan kita disini sangat menjaga tatakrama, tapi pelit dalam membayar zakat :):)
Kesan pertama saya adalah pelayanan di Airport Abu Dhabi tak akan jauh berbeda dari Arab Saudi, paling tidak sama Arabnya dan sama badu'nya, akan tetapi kesan itu lenyap dan berubah menjadi kekaguman. Ada negeri Arab yang sangat modern, akhlak, bahkan melebihi kemoderenan Airport di Amerika. Saya berhadapan dengan seorang petugas perempuan yang tak percaya saya dari Indonesia... . "Khalifa...? anta ...aseli aseli Indonesia..? "
"naam" jawab saya, petugas itu masih tak percaya, dia melihat nama di pasport yang mirip dengan nama rajanya dan melihat muka saya yang tidak mungkin dari Indonesia pikirnya. Dia meminta temannya melihat pasport saya dan temannya itu berbicara padanya dalam bahasa Arab yang saya tak mengerti, lalu mencap pasport dan mengucapkan selamat datang dinegerinya. Ramah dan bersahabat yang sangat tidak mungkin anda dapatkan hal seperti ini di Airport Saudi Arabia. Lima kali saya kenegeri itu dan kata teman saya bahkan dari puluhan tahun lalu dan sampai puluhan tahun lagi Airport itu tidak berubah pelayanannya jadi jangankan baru lima kali..
Memasuki arena airport Abu Dhabi terdapat berbagai toko toko dari mulai jam, farfum dsb bahkan terdapat toko yang memajang aneka macam minuman keras.......
Ketika keluar dari Airport saya diajak mengelilingi kota Abu Dhabi lalu masuk kehotel yang bernama Emirat Palace, panjang Hotel itu 2 KM dan luas kamarnya 650 m2. Harga perkamar standarnya 30 juta rupiah dan suit room nya 150 juta rupiah, Hotel ini belum ada apa apanya dibanding Hotel Jumaira atau Borjul Arab yang berada di Dubai. Hotel termewah didunia dan hanya ada dua buah didunia hotel semacam Borjul Arab.
Dari Abu Dhabi menuju Dubai memakan waktu kira kira dua jam perjalanan, sepanjang jalan menuju Dubai terdapat puluhan atau mungkin pula ratusan gedung tinggi menjulang. Saya tak sempat menghitung tapi saya yakin ada lebih dari seratus dikanan kiri jalan Gedung yang baru sedang dibangun, dan disepanjang jalan raya terdapat fondasi untuk pembangunan monorel.
Pengantar saya bertanya berapa meter gedung paling tinggi didunia..? saya katakan 400 meter lebih berada di Malaysia dan di Toronto... lalu dia menunjukkan satu gedung yang sedang dibangun lalu mengatakan. Dubai sedang membangun gedung setinggi seribu meter dan gedung itu tampak dari kejauhan... "seribu meter..?" Pikir saya, tapi gedungnya lalu nampak didepan mata bukan katanya lagi.
Diapun bercerita warga negara disini bila ingin menikah pemerintah akan memberi pasangan itu uang sebesar 70.000 Dirham satu diharham LK Rp 2300. Gedung perkawinan gratis dan mendapat rumah dengan gratis pula, bila ingin membuat perkebunan, pemerintah memberikan tanah untuk digarap memberikan pupuk dengan gratis dan hasilnya dibeli kembali oleh pemerintah. Ada tunjangan untuk anak bahkan bila keluarga tersebut memelihara binatang maka ada tunjangan lain untuk binatang yang dipelihara.
Bila kita sakit maka rumah sakit beserta obat obatnya gratis, namun bila RS disana tak mampu menyembuhkan dan harus dikirim keluar negeri. Maka ongkos pesawat dan biaya RS termasuk biaya hotel dan biaya hidup satu orang yang menemani pasien ditanggung oleh pemerintah.
Seorang kerabat teman saya yang kebetulan menjadi warga negara disana bergelar dokter dan gajinya sebesar 40.000 dirham sebulan, lk Rp 100 jt, gaji pegawai lokal harus lebih tinggi dari gaji orang asing. dan ada kerabatnya pula baru lulus SMA memiliki kemampuan bahasa inggeris dengan bagus, maka anak itu boleh memilih kuliah dimana dia mau dengan biaya pemerintah, dan selama dua bulan kerabat yang menemani mendapat jatah $100 sehari. Anak itu memilih kuliah di Ohio. Bila orang Saudi berliburan lebih banyak ke Asia karena murah.. maka orang Dubai berliburan lebih banyak ke Eropa.
Bila ingin membeli mobil, rumah atau apartementn dengan kredit, maka semua itu akan diberikan asalkan pembayaran cicilan tidak melewati 50% dari gaji yang diterima. Tahun cicilan dapat diangsur selama 95 tahun dan bila penerima kredit meninggal dunia maka seluruh hutangnya dianggap lunas.
Harga mobil HUMMER baru di Indonesia mencapai 2 miliyar rupiah sedangkan di UEA berkisar Rp 500jt karena semua mobil bebas pajak impor.
Sebelum memasuki negeri ini saya berfikir akan melihat anak anak muda dengan kaos dan jeans dalam mobil mewah yang akan berseliweran bergaya western... ternyata tidak... Masyarakat di UAE sangat bangga dengan baju Thube nya, mirip dengan baju Saudi namun tidak berkerah, memakai gutra (surban) dan igal (ikat kepala) bukan merah kotak kotak tapi putih sebagian lagi melipatnya diatas kepala membentuk seperti topi bundar berlancip lancip diujungnya.. berkulit putih dan keren keren juga sangat percaya diri. Namun ketika bicara tak ada kesan angkuh, mereka memahami bahasa inggeris dan India, bahkan anak anak kecil bicara dengan muhtaram (akhlaq) ...Kief khalaq .... thoyib....? apa khabar apakah menyenangkan disini..? Kief Indonesia quais..? (bagaimana Indonesia Bagus..?)
Perempuannya jangan ditanya... kulitnya putih kemerahan dan matanya hitam alisnya hitam pekat, nada bicaranya... ..? pantas kalau dikatakan suara perempuan itu aurat....:): ) karena mukanya tidak ditutup maka bisa bisa kita keseleo leher kebanyakan nengok kanan kiri, teman saya berkata "kita jalurnya terbalik harusnya kemari dulu baru umroh bukan sebaliknya, agar dosanya bisa terhapus di Umroh." maklum lagi bulan puasa takut batal :):)
Negeri ini negeri sekuler, tapi jangan mengira masyarakat UAE menjadi sangat permisif tradisi Islam sangat ketat mereka junjung, perempuan aseli di UAE sangat menjaga kehormatan. Tradisi dan kemoderenan berlangsung dengan harmonis. yang nampak "murah" dijalan jalan adalah perempuan dari berbagai negeri lainnya seperti Eropa dan Asia.yang orang Dubai sendiri acuh tak acuh. Mereka tak begitu peduli melihat bule bule berpakaian seadanya di pantai Abu Dhabi. Di sepanjang jalan dipinggiran pantai terdapat taman dan rumput yang hijau merata, ini negeri padang pasir tapi hijau dimana mana..
Lepas dari Dubai saya memasuki wilayah Sarjah sebuah negeri yang juga tergabung dalam UAE, negeri kecil namun sangat cantik ada danau ditengah kota tak banyak gedung tinggi namun kotanya ditata sedemikian rupa, Raja Sarjah bangga dengan kebijakannya apa yang ada di Dubai tak akan ada disini. Di Sarjah tak terdapat minuman keras tak ada diskoteq, Namun pendatang dari India sangat banyak melebihi jumlah penduduk aseli, mereka bekerja apa saja dari mulai tukang sapu sampai penjual kartu handphne. Saya gak bisa membedakan sedang dinegeri Arab atau sedang berada di Bombay, salah satu teman seperjalanan yang "wahabi", sepanjang jalan menjadi bahan olokan karena fanatisme pada Saudi, kali ini dia punya jawaban untuk membalas.... "Ini negeri...... Negerinya Hindi (India) bukan negeri Arab." (sebagian Arab memiliki pendapat miring tentang orang India) Sama seperti orang Malaysia berpandangan tentang orang Indonesia.
Dari Sarjah kami menuju Al Ain sebuah negeri yang juga tergabung dalam UAE perjalanan memaka waktu kurang dari dua jam, jalan Tol disini sangat lebar dan kosong, kecepatan mobil bisa mencapai 200 km perjam. Namun bila jalan secepat itu dan tertangkap polisi bukan hanya SIM yang dicabut tapi mobilnyapun bisa dikandangkan dan tak dikembalikan. Hukum disini sangat ketat tak ada yang berani bermain main dengan hukum, kecuali anak anak muda yang melakukan kebut kebutan dipadang pasir....
Bila dijalan mereka membatasinya dibawah dua ratus KM agar bila tertangkap hukumannya lebih ringan.
Kalangan perempuan di negeri inipun bebas mengendarai mobil kemana mereka mau....
Ada cerita menarik: keluarga yang mengantar kami memiliki pembantu perempuan dari Indonesia, pembantu itu bisa menyetir mobil. Mengantar anak sekolah atau pergi kepasar, pembantu itu yang membawa mobil. Pada Jum'at malam teman anaknya menelfun memberi khabar "saya lagi kebut kebutan dengan Khadam (pembantu) kamu dijalan " hebatnya lagi pembantu itu bisa atraktif ikut ikutan memiringkan mobilnya, berjalan hanya dengan dua roda....
Anehnya saya tak pernah melihat polisi didalam kota.
Mereka hanya memiliki satu kartu identitas baik KTP Asuransi maupun lain lain, Administrasi penduduk yang sudah sangat modern. Tidak banyak orang gelap kecuali agen agen TKI nakal dari Indonesia yang sering membuat masalah memberangkatkan TKW tanpa ijin resmi.
Melihat fasilitas yang diberikan negara itu, akan terkesan masyarakat UEA akan manja dan pemalas... Mereka membuka toko sampai tengah malam, beberapa orang tua bercerita tentang investasi yang menguntungkan dibeberapa bidang terutama properti. Beberapa anak muda yang baru lepas kuliah saya temui sedang bersemangat membuka usaha baru, dan anak anak muda yang masih kuliah merencanakan akan melanjutkan kuliah perminyakan di Universitas tertentu yang terkenal dengan spesialis perminyakan. .. Mereka bersaing dengan berbagai bangsa yang ikut meramaikan negerinya. Saya tak memiliki data berapa yang gagal kuliah diluar negeri, tapi dari beberapa keluarga yang saya temui tak satupun anak anak mereka yang tak selesai kuliahnya baik didalam maupun diluar negeri....
Uang dari hasil minyak yang mereka dapat bukan sekedar di konsumsi tapi diputarkan kembali untuk menjadikan UAE (Dubai) sebagai pusat perdagangan dunia.
Almarhum Syaikh Khalifah Zayed AL nahyan Raja Abu Dabhi sekaligus pemimpin UAE, memiliki kegemaran membantu orang, dia gemar membuat pekerjaan yang di cari cari, pekerjaan yang bukan untuk kepentingannya tapi sekedar membantu orang luar mendapat pekerjaan. Salah satunya dia memelihara 2000 ekor onta lalu dikeperjakan 300 orang untuk merawat onta onta tersebut. Setelah meninggal Syaikh Zayed, onta onta itu diberikan kepada rakyat karena memang tak ada manfaat. Raja yang rahim ini sangat dicintai rakyatnya, anak anak sekolah sewaktu beliau hidup sering bernyanyi sambil mendoakan "ya thowil umrokh syaikh Zayed" (semoga panjang umur wahai syakh Zayed)
Ada ungkapan: rakyat Abu Dhabi mau patungan sebagian umurnya untuk diberikan pada syaikh Zayed agar berumur panjang.
Dari Al Ain ke Abu Dhabi terdapat tanah yang dikurung ratusan meter panjangnya, saya bertanya itu tempat apa.? Teman saya menerangkan, Itu tempat berkumpulnya anak yatim. Syaikh Zayed mengumpulkan anak Yatim dari berbagai negara Arab, dan karena dia takut anak anak itu tidak dirawat oleh negara setelah dia wafat, maka Syaikh Zayed mengatas namakan sebagai bapak dari anak anak itu, agar negara tetap menjamin kehidupan para anak anak yatim itu dan dijadikan resmi sebagi keputusan negara, mereka disekolahkan dan diberi pekerjaan setelah selesai sekolah.
Ada banyak cerita tentang kebaikan Syaikh Zayed yang diungkapkan oleh rakyatnya, tentang orang India yang melompat kemobilnya atau hadiah kepada orang yang ditemui dijalan, hadiah yang paling diharapkan bagi pendatang adalah Warga Negara.
Pertanyaan yang terbentang dikepala saya, dimanakah letak syariat Islam berada.....? di Arab Saudikah yang benderanya bersimbol lafat Allah dengan berbagai hukumnya dan polisi syariah (mutawa) atau di UEA yang jelas jelas negara sekuler..... ?
Saya tidak memiliki waktu lama memasuki negeri yang menjadi perhatian dunia saat ini (UAE), namun dalam beberapa cerita dari warganya yang saya temui, hampir tak ada yang tak memuji negerinya dengan sangat antusias. Kesan puas dibawah pemerintahan yang sangat memperhatikan rakyatnya sangat nampak dari cara mereka menceritakan berbagai kemudahan dan kesejahteraan yang mereka dapatkan.
Ketika memasuki airport Abu Dhabi saya tak terlalu antusias, karena tak pernah memasuki negeri Arab lainnya kecuali Saudi untuk berumroh atau Haji, juga tak pernah tidak merasa jengkel dengan petugas imigrasinya yang sangat lama dalam menangani pasport. Satu persatu diteliti terkadang seenaknya meninggalkan meja mengobrol dulu dengan temannya sementara antrian menjulur panjang, Mereka tidak perduli dengan kelelahan orang yang mengantri dan lelah berjam jam didalam pesawat. Jangan mencoba memprotes karena tindakan mereka akan lebih ekstrem lagi. Anda bisa disingkirkan dari antrian. Para Badu' Badu' itu tak pernah belajar bagaimana menangani pekerjaan dengan cepat. Selalu merasa paling benar sendiri, dan jangan heran terkadang berlaku peraturan yang keluar dari isi kepalanya sendiri. Kesombongan sebagai negeri yang dikunjungi oleh manusia berbagai penjuru dunia sangat menjadi jadi, Mereka tak pernah berfikir bahwa kalau tidak karena Mekkah dan Madinah tak akan banyak
orang mau datang kenegerinya itu.
Semua yang ada Saudi sangat menarik ada mesjid dimana ka'bah didalamnya, ada Madina dimana Rasul dimakamkan dan ada makanan dan buah buahan yang banyak sekali dan semuanya nikmat, mereka juga sangat royal dalam membangun fasilitas Haji, royal dalam bersedekah, Paling banyak memberikan bantuan terutama kepada Indonesia dibanding negara Arab lainnya. Sangat perhatian dalam masalah agama. Cuma satu yang tak menarik, yaitu sifat keras dan selalu marah tanpa alasan. Berteriak teriak pada kawannya diantara meja petugas imigrasi adalah hal yang biasa
Selalu terburu buru bila menginnginkan sesuatu, satu hal kecil saja bisa saling memaki dengan sangat kasar, namun jarang sekali yang saling pukul karena penjara "sangat terbuka lebar," dan polisi tak segan menangkap terutama orang dari luar Saudi. Agak kontradiktif, pada umumnya mereka rahim dalam soal harta, tapi pelit untuk yang namanya Akhlak kepada orang lain. Berbeda dengan kita disini sangat menjaga tatakrama, tapi pelit dalam membayar zakat :):)
Kesan pertama saya adalah pelayanan di Airport Abu Dhabi tak akan jauh berbeda dari Arab Saudi, paling tidak sama Arabnya dan sama badu'nya, akan tetapi kesan itu lenyap dan berubah menjadi kekaguman. Ada negeri Arab yang sangat modern, akhlak, bahkan melebihi kemoderenan Airport di Amerika. Saya berhadapan dengan seorang petugas perempuan yang tak percaya saya dari Indonesia... . "Khalifa...? anta ...aseli aseli Indonesia..? "
"naam" jawab saya, petugas itu masih tak percaya, dia melihat nama di pasport yang mirip dengan nama rajanya dan melihat muka saya yang tidak mungkin dari Indonesia pikirnya. Dia meminta temannya melihat pasport saya dan temannya itu berbicara padanya dalam bahasa Arab yang saya tak mengerti, lalu mencap pasport dan mengucapkan selamat datang dinegerinya. Ramah dan bersahabat yang sangat tidak mungkin anda dapatkan hal seperti ini di Airport Saudi Arabia. Lima kali saya kenegeri itu dan kata teman saya bahkan dari puluhan tahun lalu dan sampai puluhan tahun lagi Airport itu tidak berubah pelayanannya jadi jangankan baru lima kali..
Memasuki arena airport Abu Dhabi terdapat berbagai toko toko dari mulai jam, farfum dsb bahkan terdapat toko yang memajang aneka macam minuman keras.......
Ketika keluar dari Airport saya diajak mengelilingi kota Abu Dhabi lalu masuk kehotel yang bernama Emirat Palace, panjang Hotel itu 2 KM dan luas kamarnya 650 m2. Harga perkamar standarnya 30 juta rupiah dan suit room nya 150 juta rupiah, Hotel ini belum ada apa apanya dibanding Hotel Jumaira atau Borjul Arab yang berada di Dubai. Hotel termewah didunia dan hanya ada dua buah didunia hotel semacam Borjul Arab.
Dari Abu Dhabi menuju Dubai memakan waktu kira kira dua jam perjalanan, sepanjang jalan menuju Dubai terdapat puluhan atau mungkin pula ratusan gedung tinggi menjulang. Saya tak sempat menghitung tapi saya yakin ada lebih dari seratus dikanan kiri jalan Gedung yang baru sedang dibangun, dan disepanjang jalan raya terdapat fondasi untuk pembangunan monorel.
Pengantar saya bertanya berapa meter gedung paling tinggi didunia..? saya katakan 400 meter lebih berada di Malaysia dan di Toronto... lalu dia menunjukkan satu gedung yang sedang dibangun lalu mengatakan. Dubai sedang membangun gedung setinggi seribu meter dan gedung itu tampak dari kejauhan... "seribu meter..?" Pikir saya, tapi gedungnya lalu nampak didepan mata bukan katanya lagi.
Diapun bercerita warga negara disini bila ingin menikah pemerintah akan memberi pasangan itu uang sebesar 70.000 Dirham satu diharham LK Rp 2300. Gedung perkawinan gratis dan mendapat rumah dengan gratis pula, bila ingin membuat perkebunan, pemerintah memberikan tanah untuk digarap memberikan pupuk dengan gratis dan hasilnya dibeli kembali oleh pemerintah. Ada tunjangan untuk anak bahkan bila keluarga tersebut memelihara binatang maka ada tunjangan lain untuk binatang yang dipelihara.
Bila kita sakit maka rumah sakit beserta obat obatnya gratis, namun bila RS disana tak mampu menyembuhkan dan harus dikirim keluar negeri. Maka ongkos pesawat dan biaya RS termasuk biaya hotel dan biaya hidup satu orang yang menemani pasien ditanggung oleh pemerintah.
Seorang kerabat teman saya yang kebetulan menjadi warga negara disana bergelar dokter dan gajinya sebesar 40.000 dirham sebulan, lk Rp 100 jt, gaji pegawai lokal harus lebih tinggi dari gaji orang asing. dan ada kerabatnya pula baru lulus SMA memiliki kemampuan bahasa inggeris dengan bagus, maka anak itu boleh memilih kuliah dimana dia mau dengan biaya pemerintah, dan selama dua bulan kerabat yang menemani mendapat jatah $100 sehari. Anak itu memilih kuliah di Ohio. Bila orang Saudi berliburan lebih banyak ke Asia karena murah.. maka orang Dubai berliburan lebih banyak ke Eropa.
Bila ingin membeli mobil, rumah atau apartementn dengan kredit, maka semua itu akan diberikan asalkan pembayaran cicilan tidak melewati 50% dari gaji yang diterima. Tahun cicilan dapat diangsur selama 95 tahun dan bila penerima kredit meninggal dunia maka seluruh hutangnya dianggap lunas.
Harga mobil HUMMER baru di Indonesia mencapai 2 miliyar rupiah sedangkan di UEA berkisar Rp 500jt karena semua mobil bebas pajak impor.
Sebelum memasuki negeri ini saya berfikir akan melihat anak anak muda dengan kaos dan jeans dalam mobil mewah yang akan berseliweran bergaya western... ternyata tidak... Masyarakat di UAE sangat bangga dengan baju Thube nya, mirip dengan baju Saudi namun tidak berkerah, memakai gutra (surban) dan igal (ikat kepala) bukan merah kotak kotak tapi putih sebagian lagi melipatnya diatas kepala membentuk seperti topi bundar berlancip lancip diujungnya.. berkulit putih dan keren keren juga sangat percaya diri. Namun ketika bicara tak ada kesan angkuh, mereka memahami bahasa inggeris dan India, bahkan anak anak kecil bicara dengan muhtaram (akhlaq) ...Kief khalaq .... thoyib....? apa khabar apakah menyenangkan disini..? Kief Indonesia quais..? (bagaimana Indonesia Bagus..?)
Perempuannya jangan ditanya... kulitnya putih kemerahan dan matanya hitam alisnya hitam pekat, nada bicaranya... ..? pantas kalau dikatakan suara perempuan itu aurat....:): ) karena mukanya tidak ditutup maka bisa bisa kita keseleo leher kebanyakan nengok kanan kiri, teman saya berkata "kita jalurnya terbalik harusnya kemari dulu baru umroh bukan sebaliknya, agar dosanya bisa terhapus di Umroh." maklum lagi bulan puasa takut batal :):)
Negeri ini negeri sekuler, tapi jangan mengira masyarakat UAE menjadi sangat permisif tradisi Islam sangat ketat mereka junjung, perempuan aseli di UAE sangat menjaga kehormatan. Tradisi dan kemoderenan berlangsung dengan harmonis. yang nampak "murah" dijalan jalan adalah perempuan dari berbagai negeri lainnya seperti Eropa dan Asia.yang orang Dubai sendiri acuh tak acuh. Mereka tak begitu peduli melihat bule bule berpakaian seadanya di pantai Abu Dhabi. Di sepanjang jalan dipinggiran pantai terdapat taman dan rumput yang hijau merata, ini negeri padang pasir tapi hijau dimana mana..
Lepas dari Dubai saya memasuki wilayah Sarjah sebuah negeri yang juga tergabung dalam UAE, negeri kecil namun sangat cantik ada danau ditengah kota tak banyak gedung tinggi namun kotanya ditata sedemikian rupa, Raja Sarjah bangga dengan kebijakannya apa yang ada di Dubai tak akan ada disini. Di Sarjah tak terdapat minuman keras tak ada diskoteq, Namun pendatang dari India sangat banyak melebihi jumlah penduduk aseli, mereka bekerja apa saja dari mulai tukang sapu sampai penjual kartu handphne. Saya gak bisa membedakan sedang dinegeri Arab atau sedang berada di Bombay, salah satu teman seperjalanan yang "wahabi", sepanjang jalan menjadi bahan olokan karena fanatisme pada Saudi, kali ini dia punya jawaban untuk membalas.... "Ini negeri...... Negerinya Hindi (India) bukan negeri Arab." (sebagian Arab memiliki pendapat miring tentang orang India) Sama seperti orang Malaysia berpandangan tentang orang Indonesia.
Dari Sarjah kami menuju Al Ain sebuah negeri yang juga tergabung dalam UAE perjalanan memaka waktu kurang dari dua jam, jalan Tol disini sangat lebar dan kosong, kecepatan mobil bisa mencapai 200 km perjam. Namun bila jalan secepat itu dan tertangkap polisi bukan hanya SIM yang dicabut tapi mobilnyapun bisa dikandangkan dan tak dikembalikan. Hukum disini sangat ketat tak ada yang berani bermain main dengan hukum, kecuali anak anak muda yang melakukan kebut kebutan dipadang pasir....
Bila dijalan mereka membatasinya dibawah dua ratus KM agar bila tertangkap hukumannya lebih ringan.
Kalangan perempuan di negeri inipun bebas mengendarai mobil kemana mereka mau....
Ada cerita menarik: keluarga yang mengantar kami memiliki pembantu perempuan dari Indonesia, pembantu itu bisa menyetir mobil. Mengantar anak sekolah atau pergi kepasar, pembantu itu yang membawa mobil. Pada Jum'at malam teman anaknya menelfun memberi khabar "saya lagi kebut kebutan dengan Khadam (pembantu) kamu dijalan " hebatnya lagi pembantu itu bisa atraktif ikut ikutan memiringkan mobilnya, berjalan hanya dengan dua roda....
Anehnya saya tak pernah melihat polisi didalam kota.
Mereka hanya memiliki satu kartu identitas baik KTP Asuransi maupun lain lain, Administrasi penduduk yang sudah sangat modern. Tidak banyak orang gelap kecuali agen agen TKI nakal dari Indonesia yang sering membuat masalah memberangkatkan TKW tanpa ijin resmi.
Melihat fasilitas yang diberikan negara itu, akan terkesan masyarakat UEA akan manja dan pemalas... Mereka membuka toko sampai tengah malam, beberapa orang tua bercerita tentang investasi yang menguntungkan dibeberapa bidang terutama properti. Beberapa anak muda yang baru lepas kuliah saya temui sedang bersemangat membuka usaha baru, dan anak anak muda yang masih kuliah merencanakan akan melanjutkan kuliah perminyakan di Universitas tertentu yang terkenal dengan spesialis perminyakan. .. Mereka bersaing dengan berbagai bangsa yang ikut meramaikan negerinya. Saya tak memiliki data berapa yang gagal kuliah diluar negeri, tapi dari beberapa keluarga yang saya temui tak satupun anak anak mereka yang tak selesai kuliahnya baik didalam maupun diluar negeri....
Uang dari hasil minyak yang mereka dapat bukan sekedar di konsumsi tapi diputarkan kembali untuk menjadikan UAE (Dubai) sebagai pusat perdagangan dunia.
Almarhum Syaikh Khalifah Zayed AL nahyan Raja Abu Dabhi sekaligus pemimpin UAE, memiliki kegemaran membantu orang, dia gemar membuat pekerjaan yang di cari cari, pekerjaan yang bukan untuk kepentingannya tapi sekedar membantu orang luar mendapat pekerjaan. Salah satunya dia memelihara 2000 ekor onta lalu dikeperjakan 300 orang untuk merawat onta onta tersebut. Setelah meninggal Syaikh Zayed, onta onta itu diberikan kepada rakyat karena memang tak ada manfaat. Raja yang rahim ini sangat dicintai rakyatnya, anak anak sekolah sewaktu beliau hidup sering bernyanyi sambil mendoakan "ya thowil umrokh syaikh Zayed" (semoga panjang umur wahai syakh Zayed)
Ada ungkapan: rakyat Abu Dhabi mau patungan sebagian umurnya untuk diberikan pada syaikh Zayed agar berumur panjang.
Dari Al Ain ke Abu Dhabi terdapat tanah yang dikurung ratusan meter panjangnya, saya bertanya itu tempat apa.? Teman saya menerangkan, Itu tempat berkumpulnya anak yatim. Syaikh Zayed mengumpulkan anak Yatim dari berbagai negara Arab, dan karena dia takut anak anak itu tidak dirawat oleh negara setelah dia wafat, maka Syaikh Zayed mengatas namakan sebagai bapak dari anak anak itu, agar negara tetap menjamin kehidupan para anak anak yatim itu dan dijadikan resmi sebagi keputusan negara, mereka disekolahkan dan diberi pekerjaan setelah selesai sekolah.
Ada banyak cerita tentang kebaikan Syaikh Zayed yang diungkapkan oleh rakyatnya, tentang orang India yang melompat kemobilnya atau hadiah kepada orang yang ditemui dijalan, hadiah yang paling diharapkan bagi pendatang adalah Warga Negara.
Pertanyaan yang terbentang dikepala saya, dimanakah letak syariat Islam berada.....? di Arab Saudikah yang benderanya bersimbol lafat Allah dengan berbagai hukumnya dan polisi syariah (mutawa) atau di UEA yang jelas jelas negara sekuler..... ?
Senin, 15 Oktober 2007
Malam 27 Ramadhan di Tengah Jutaan Umat Islam
Saya tak bisa memahami logika pemerintah Arab Saudi, wilayah masjidil Haram sudah sangat terbatas, kepadatan manusia sudah tidak memenuhi daya tampung kapasitas Masjid maupun halamannya. Dulu sekali saya percaya pernyataan seorang teman bahwa hotel hotel di seputar Haram akan digusur untuk perluasan Masjid dan dipindahkan jauh kebelakang. Umroh terakhir saya tahun 2003 dan tahun ini walaupun agak mendadak dan tidak ada rencana sama sekali saya berkesempatan kembali mengunjungi pusatnya pusat dunia ciptaan Allah SWT, Mekah Almukaramah. Dan ternyata hotel hotel yang katanya akan digusur tersebut ternyata bukan digusur namun malah bertambah banyak setelah Hotel DAR ATTAUHID (Inter Continental) selesai pembangunannya. Kini disamping Hotel HiILTON, Bin Laden Membangun hotel yang sangat besar, mewah dan sangat tinggi. Disamping Mal dan Apartement yang sedang dibangun Bin Laden tersebut, juga sedang digarap hotel miliknya Walid Bin Talal....(Konglemer at Arab Saudi pemilik Citi Bank.)Persis disamping halaman dekat tempat Sya'i berdiri megah tiga apartement milik raja.
Umroh disepeluh hari terakhir ramadhan adalah puncak puncaknya kepadatan manusia jauh lebih padat dibanding musim haji, bila dimusim haji umat islam datang ke Mekah bertawaf dan sya'i lalu pergi lagi, ada yang ke Madina ada yang ke Mina namun di akhir bulan Ramadhan baik penduduk Arab saudi dari Jeddah, Riyad, Damam, Taif dll, Maupun dari negara2 lainnya datang ke Mekah dan tak keluar dari wilayah itu sampai waktunya mereka pulang... Jadilah jutaan manusia berpakaian putih pada umumnya memenuhi segenap penjuru Masjid. Pembangunan hotel hotel yang berdempet dengan halaman Masjid tersebut sebenarnya mengambil hak umat islam untuk beribadah dgn baik... Di setiap waktu sholat para jamaah bukan hanya didalam masjid atau dihalaman Masjid bahkan dijalan raya maupun didalam lobbi hotel yang dipakai untuk shalat. kita kesulitan mendapatkan tempat... Bila di Jakarta diakhir akhir ramadhan Masjid sangat longgar maka Mekkah di hari hari akhir Ramadhan mencari kapling untuk satu sajadah sulit sekali terutama bila kita datang agak terlambat. Pak Quraish di masa lalu sering menyindir kami dengan mengatakan "rombongan Adzan" bila adzan terdengar baru kami turun dan berdesakan dipintu lift hotel.
Malam malam ganjil yang dipercaya turunnya lailatul qadar menambah daya semangat umat muslim untuk berada dilingkungan tanah yang disucikan ini... Dari mulai sore kemacetan dijalan jalan menuju mekkah sudah sangat parah jauh lebih cepat perjalanan dari Jeddah ke Mekkah lebih dari 100 KM ketimbang dari Aziziah ke Haram yang cuma bejarak 3 KM.
Menjelang sholat Magrib jalan raya diseputar Mekkah tertutup oleh lautan manusia menjelang Isya dan taraweh jalan masuk ke Masjidpun sudah tertutup oleh syaf syaf jamaah yang mengitari halaman dengan sangat padatnya. Polisi Saudi yang biasanya mudah membubarkan jamaah yang menghalangi jalan masuk kedalam masjid, kali ini tak mampu lagi memberi ruas jalan untuk manusia lewat...Dan ketika jam menunjukkan pukul dua belas malam seluruh jamaah sudah memenuhi jalan jalan raya untuk mengikuti sholat malam.... Ini Malam ganjil malam 27 Ramadhan Seluruh salurah TV dari mulai Abu Dhabi, Sarjah, Kuwait, Al Alam, Syiria Yemen Libia dan TV Saudi... seluruhnya menghadirkan tokoh ulama dari mulai siang hari memberi ceramah keutamaan malam malam tersebut... Istri saya menelpun dari Jakarta dan mengirim SMS berpesan untuk tidak keluar dari masjid sampai shalat malam selesai... (persoalannya jam 12 malam kami masih mengobrol di kamar hotel yang berjarak 500m dari Masjid...:): ) budaya melayu maunya nyantai tapi inginnya dapat tempat "VIP" dekat dengan Ka'bah..:):) .
Dengan segala upaya kami berhasil naik ketingkat tiga lantai paling atas yang terbuka luas beratapkan langit, dari atas sini nampaklah dibawah sana ribuan manusia sedang bertawaf mengelilingi Ka'bah. Seluruh tempat terisi manusia hampir tak ada celah secuilpun untuk bisa duduk, dari sore hari mereka sudah datang mengisi ruas ruas dalam masjid mengaji dan berzhikir menanti saatnya shalat malam. Kami berdiri disekitar pagar pengaman menunggu datangnya waktu shalat dan berharap dapat menyelipkan badan ditengah manusia yang sudah mulai berdiri menjelang shalat malam di laksanakan.
Tepat jam satu malam sholat Tahajud dimulai... diawali oleh Shurem sebagai Imam dan sampai rakaat keenam digantikan Oleh Imam Legendaris yang memang Masya Allah. Orang ini hampir tidak pernah salah dalam membaca ayat ataupun lupa....Sudesh memimpin Sholat sampai rokaat terakhir, dan diakhir sholat witir diapun melantunkan doa Qunut yang saya kira hanya setan saja yang tidak menagis mendengar doa yang panjangnya lebih kurang 20 menit itu.
Allah Humma Innaka afunn tuhibbul afwa fa'fuanna... ya..karimmm
Ila Hana.... Ila Hana.... Ya Allah jadikanlahlah asmaMu menjadi kata akhir penutup hidupku.... Ila Hana... Ila Hana.....
Bayangkan saja sendiri... ditengah jutaan manusia yang mengadahkan tangan memohon rahmatNya kita mendengar lengkingan dan isakan suara Sudesh melantunkan doa semacam itu.
Rabu, 12 September 2007
Ramadhan lagi Adu Keras Suara Toa lagi.
Saya tak bisa membayangkan bila seorang Non Muslim tinggal dilingkungan Muslim yang padat penduduknya. Dimana Masjid dan Mushollah berjarak hanya dalam hitungan puluhan meter atau ratusan meter. Maka yang pertama sudah pasti dia merasa tertindas. Hak asasinya untuk tidur ditengah malam sudah pasti terampas oleh ibadah yang namanya Ramadhan.
Jam dua pagi suara toa dari masjid sebelah sudah berkumandang keras bergema memasuki dinding dinding kamar dengan teriakan Sahur...sahur. ... Jam empat subuh suara tarhim kembali bergema. Selama satu bulan si non muslim tersebut pun harus ikut mengurangi jam tidur. Cuma bedanya bila kalangan Muslim merasa mendapat pahala sementara dia cuma mendapat kekesalan.
Di Jakarta seluruh Masjid maupun mushollah memakai speaker didalam Masjid maupun Toa yang dipasang tinggi untuk mengingatkan waktu sholat (Azan). Beberapa Masjid hanya sebatas azan diperdengarkan lewat Toa, dan hanya memakai speaker internal dalam pelaksanaan sholat. Namun disebagian besar masjid lainnya baik dalam sholat maupun pembacaan doa setelah sholat juga memakai pengeras suara luar (Toa). Tarkadang dipasang diempat penjuru dalam satu menara. Yang suaranya sering kali terdengar tidak merdu itu.
Terkesan diantara Masjid yang berdekatan bersaing saling mengeraskan suara Toanya dan sering kali pula mengganggu kekhusuan sholat Jamaah didalamnya. Karena pada saat Sujud, suara sang Imam dari masjid sebelah yang sedang membacakan ayat Qur'an terdengar nyaring masuk kedalam masjid didekatnya.
Hari ini awal sholat taraweh dimulai dan untuk kekhusuan sholat jamaah maka Sholat Taraweh di Masjid Arrahmah di YRA. kami pindahkan ke Aula dilantai dasar.
Ada kenikmatan bila sholat dilantai atas tersebut, karena angin bertiup agak kencang menjadikan udara didalamnya sejuk dan ada pemandangan melihat daerah sekitar maupun gedung gedung tinggi di wilayah Pancoran. Namun suara Toa dari Mushollah diperkampungan belakang tak bisa ditoleransi, Sering kali suara chatib berceramah menjadi tak terdengar terkalahkan oleh suara imam dimushollah tersebut.
Pernah kita mencoba mendiskusikan dan para orang tua di mushollah tersebut berkata "ini Syiar Islam dan kami disini sudah puluhan tahun seperti ini."
Kalimat itu telah menciptakan para Jamaaah di masjid lainnya agak sedikit kepanasan dan mengandalkan kipas angin agar udara tak terasa pengab.....
Beberapa tahun lalu Ustadz Quraish Shihab membahas soal ini bersama Arif Rahman di RCTI dan besoknya teman saya berkomentar, menyatakan ketidak setujuan atas pendapatnya Quraish. Menurutnya Ustadz Quraish membatasi Syiar Islam dan yang berkomentar seorang berpendidikan. ....?
Seringkali adab dalam beragama kalah oleh tradisi, repotnya lagi tradisi itu disandarkan pada agama yang tak ada dasar legalitasnya kecuali nafsu beribadah yang lebih bersemangat dari Tuhan itu sendiri.
Tuhan yang maha mendengar itu harus diteriaki oleh suara Toa......... .?
Ramadhan Karim......
Selamat berpuasa semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengabulkan seluruh doa doa kita dan megampuni seluruh dosa dosa kita. Amin....
Jam dua pagi suara toa dari masjid sebelah sudah berkumandang keras bergema memasuki dinding dinding kamar dengan teriakan Sahur...sahur. ... Jam empat subuh suara tarhim kembali bergema. Selama satu bulan si non muslim tersebut pun harus ikut mengurangi jam tidur. Cuma bedanya bila kalangan Muslim merasa mendapat pahala sementara dia cuma mendapat kekesalan.
Di Jakarta seluruh Masjid maupun mushollah memakai speaker didalam Masjid maupun Toa yang dipasang tinggi untuk mengingatkan waktu sholat (Azan). Beberapa Masjid hanya sebatas azan diperdengarkan lewat Toa, dan hanya memakai speaker internal dalam pelaksanaan sholat. Namun disebagian besar masjid lainnya baik dalam sholat maupun pembacaan doa setelah sholat juga memakai pengeras suara luar (Toa). Tarkadang dipasang diempat penjuru dalam satu menara. Yang suaranya sering kali terdengar tidak merdu itu.
Terkesan diantara Masjid yang berdekatan bersaing saling mengeraskan suara Toanya dan sering kali pula mengganggu kekhusuan sholat Jamaah didalamnya. Karena pada saat Sujud, suara sang Imam dari masjid sebelah yang sedang membacakan ayat Qur'an terdengar nyaring masuk kedalam masjid didekatnya.
Hari ini awal sholat taraweh dimulai dan untuk kekhusuan sholat jamaah maka Sholat Taraweh di Masjid Arrahmah di YRA. kami pindahkan ke Aula dilantai dasar.
Ada kenikmatan bila sholat dilantai atas tersebut, karena angin bertiup agak kencang menjadikan udara didalamnya sejuk dan ada pemandangan melihat daerah sekitar maupun gedung gedung tinggi di wilayah Pancoran. Namun suara Toa dari Mushollah diperkampungan belakang tak bisa ditoleransi, Sering kali suara chatib berceramah menjadi tak terdengar terkalahkan oleh suara imam dimushollah tersebut.
Pernah kita mencoba mendiskusikan dan para orang tua di mushollah tersebut berkata "ini Syiar Islam dan kami disini sudah puluhan tahun seperti ini."
Kalimat itu telah menciptakan para Jamaaah di masjid lainnya agak sedikit kepanasan dan mengandalkan kipas angin agar udara tak terasa pengab.....
Beberapa tahun lalu Ustadz Quraish Shihab membahas soal ini bersama Arif Rahman di RCTI dan besoknya teman saya berkomentar, menyatakan ketidak setujuan atas pendapatnya Quraish. Menurutnya Ustadz Quraish membatasi Syiar Islam dan yang berkomentar seorang berpendidikan. ....?
Seringkali adab dalam beragama kalah oleh tradisi, repotnya lagi tradisi itu disandarkan pada agama yang tak ada dasar legalitasnya kecuali nafsu beribadah yang lebih bersemangat dari Tuhan itu sendiri.
Tuhan yang maha mendengar itu harus diteriaki oleh suara Toa......... .?
Ramadhan Karim......
Selamat berpuasa semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengabulkan seluruh doa doa kita dan megampuni seluruh dosa dosa kita. Amin....
Senin, 15 Mei 2006
Islam dan Mistikisme TV.
Indo Pos.
Maraknya sinetron mistiki di berbagai stasiun televisi tanah air belakangan ini, mengingatkan pada kisah paradoksal antara si Karma dan si Sholeh, yang bagi generasi yang lahir di tahun 1960-an, amat populer dan amat mempengaruhi pemikiran anak-anak. Cerita yang dimuat di majalah anak-anak tersebut, menampilkan karakter si Karma yang jahat, dan akibatnya ia digambarkan masuk neraka, sementara si Sholeh yang berperilaku baik masuk surga.
Cerita tersebut sebenarnya sederhana, namun karena digambarkan dengan visualisasi yang dramatis tentang neraka bagi si Karma, maka bahkan sampai saat ini bagi sebagian orang yang membaca cerita itu, meninggalkan kesan kuat, bahwa siksa api neraka itu demikian pedihnya. Cerita tersebut setidaknya ”telah berhasil” membangun kesadaran bahwa perbuatan baik dan jahat akan mengalami balasan di akherat kelak. Dengan pendekatan yang tepat untuk konsumsi anak anak, majalah tersebut, ”berhasil” membangun kesadaran dan memberi pesan kuat pada alam bawah sadar anak-anak, dan terus melekat pada ingatan mereka hingga dewasa.
Hakekat Agama
Ilustrasi tentang si Karma dan si Sholeh di atas, merupakan ungkapan paling mudah dicerna oleh, khususnya anak-anak, bahwa memang agama pada hakekatnya memberikan pesan penting untuk melakukan perbuatan baik pada pemeluknya. Dalam konsep agama samawi dikenal konsepsi neraka, yang merupakan sanksi pada manusia dalam menjalankan kehidupan keduniaan, dan balasannya setelah kematian akibat perbuatan dosa yang dilakukan. Sebaliknya juga ada konsepsi surga, yang merupakan harapan bagi kehidupan di akherat sebagai balasan dari perbuatan baik yang dilakukan.
Sisi lain bila kita menelisik dalam konsepsi Islam, maka Islam tidak hanya mengatur perbuatan baik dan buruk, tapi juga memberikan bukti-bukti ilmiah keberadaan Allah. Al qur’an juga memberikan ruang untuk pada konsepsi-konsepsi yang rasional. Pendekatan rasional ilmiah yang menempatkan akal manusia sebagai salah satu unsur penting, merupakan salah satu pendekatan utama dalam memahami konsep Islam.
Menempatkan Islam sebagai agama yang rasional adalah suatu pemahaman yang dimahfumi oleh semua pemeluknya. Bahkan seringkali Al qur’an mengingatkan manusia untuk berfikir, afala ta’kilun, afala tafakarun, dan seterusnya. Oleh karena itu, pemahaman mistik dalam Islam seringkali dianggap sesuatu yang salah, karena bertentangan dengan akal manusia, walaupun Islam tidak sepenuhnya melarang. Ruang alam ghaib sebagian juga terbuka untuk dipelajari pemeluknya seperti, keberadaan, sifat, dan perilaku dari malaikat maupun Jin. Konteks alam ghaib, dengan demikian, dimaksudkan lebih memberikan pemahaman akan adanya mahluk lain selain manusia, yang juga diciptakan oleh sang Khlalik
Selera Pasar
Dalam konteks pemikiran di atas maka, membanjirnya sinetron televisi yang banyak menyuguhkan ke-ghaib-an berupa misalnya siksa kubur, maupun penderitaan manusia yang berkelakuan jahat diakhir hayatnya, telah memberikan kesan seolah-olah Islam adalah agama yang dipenuhi oleh pemahaman mistik (an sich). Sinetron mistikisme tersebut, memang dipenuhi oleh nasehat-nasehat agar manusia (pemirsa televisi sekalian) untuk berbuat baik. Tetapi, dalam perkembangannya, tidak dapat dilepaskan dari konteks ”persaingan komersial”, sehingga, akibatnya yang mengedepan adalah suguhan adegan-demi adegan yang over valued, karena terlampau didramatisasi.
Kecendrungan untuk berpegang pada selera pasar yang tidak lagi mengedepankan rasio manusia, terutama kalangan pemeluk agama ini, bagaimanapun telah menunjukkan adanya ”perilaku yang salah” baik oleh penulis skenario, produser, maupun media televisi itu sendiri. Mengapa demikian? Karena mereka sengaja memproduksinya, tanpa menyaring kelayakannya sebagai sebuah suguhan. Contoh semacam ini sangatlah banyak, seperti tangan yang keluar dari kuburan, ular besar yang menyerang mayit, jenazah yang tidak bisa dikuburkan dan terbakar habis di sisi kuburan. Visualisasi semacam ini bukan hanya tidak masuk akal, namun juga menjadi teror bagi anak-anak yang menontonnya.
Dakwah yang Rasional
Sinetron yang bertujuan dakwah sebenarnya sangat penting, terutama di tengah degradasi moral masyarakat yang semakin memurukkan, baik dari akidah maupun akhlak dalam segala dimensinya. Namun demikian, kecendrungan ini haruslah memberi pemahaman yang benar terhadap Islam, bukan sekedar menyuguhkan tayangan yang ”membangun ketakutan pada manusia” dan Islam seolah-olah merupakan suatu agama yang dipenuhi oleh misteri dan mistik.
Dominannya suguhan mistik yang secara verbal divisualisai dalam tayangan layar kaca, secara langsung maupun tidak membawa umat pada pemahaman yang terbelakang, dan mengarah pada pembodohan akal sehat manusia. Di masyarakat serba permisif seperti ini, sebuah tayangan bersifat dakwah, seringkali menjadi acuan bagi para pemirsanya untuk menerima secara bulat apa yang dilihatnya. Apalagi, dalam berbagai tayangan seperti itu, selalu terdapat figur seorang ustadz yang solah-olah amat memahami Islam, dan otomatis akan memberi pembenaran pada pemirsa, bahwa hal-hal demikian memang intisari dalam ajaran Islam. Pendekatan ini tentunya tidak mengena, dan justru berdampak negatif pada citra Islam itu sendiri.
Memahami Al qur’an (Islam) seharusnya bukan dengan ketakutan, tapi dengan ketaatan melalui kesadaran pikiran maupun hati, sekaligus pemahaman yang total terhadap pentingnya agama untuk membimbing manusia dalam kehidupan keduniaan. Allah SWT sang Khaliq raja dari segala alam raya ini, bukanlah untuk ditakuti oleh pemeluknya, tapi untuk dicintai. Keesaan Allah yang tertuang dalam Al qur’an memberi makna bahwa manusia diberikan kebebasan untuk memilih, apakah menerima atau menolak keberadaan sang pencipta, dengan berbagai konsekuensi logisnya. Kebebasan memilih ini pun relevan dengan rasionalitas manusia, yang dapat berkehendak melalui pikirannya. Ketataatan melalui pemahaman pikiran inilah, yang seharusnya menjadi acuan oleh segenap juru dakwah baik dakwah lisan, tulisan, maupun visual.
Ketakutan pada neraka dan keinginan untuk masuk surga, seringkali menjadi acuan dakwah. Hal ini juga telah mendasari penulis skenario untuk menunjukkan hukuman Allah pada makhluknya. Walaupun cara berpikir seperti ini ”tidak menyalahi aturan”, namun bukanlah hakekat yang paling tinggi nilainya. Karena nilai tertinggi manusia Islam dalam beribadah adalah untuk mendapat ridho Allah SWT, bukan sekedar surga yang memang ciptaan-Nya jua.
Berbagai kasus yang menunjukkan hukuman Allah dan dilihat oleh manusia sekitarnya dapat saja terjadi, terutama pada manusia yang dalam hidupnya berkelakuan tak manusiawi dan menyengsarakan orang lain. Tak jarang hukuman ini mengena di akhir hayatnya. Akan tetapi visualisasi yang terus-menerus akan memberikan dampak lain bagi masyarakat.
Seorang anak manusia yang meninggal dalam keadaan sakit lever, maka hal yang wajar bila wajahnya mengalami kehitaman, dan hal demikian secara ilmiah oleh ilmu kedokteran dapat dipahami sebagai efek dari penyakit hati tersebut. Namun, mungkin saja tidak demikian bagi tetangga atau kerabat yang sempat melihat jenazah tersebut. Akibat tayangan sinetron yang mendramatisir kematian sedemikian rupa, maka kematian dengan wajah demikian, ironisnya, dianggap sebagai hukuman Allah atas perilakunya di dunia. Situasi demikian tentunya memberikan citra tertentu pada keluarga yang ditinggalkan dan kelak akan mencari-cari apa kesalahan anggota keluarganya itu, hingga mengalami hal demikian.
Demikian pula bagi manusia yang mengidap penyakit kanker, seringkali di akhir hayatnya mengalami kesakitan yang luar biasa, dan sekali lagi dalam dunia medis situasi itu adalah hal yang sangat normal. Namun, tidak demikian bagi kerabat yang yang mengalaminya. Dampak ikutan seperti ini, tentunya juga perlu dipikirkan matang matang oleh para sineas kita.
Sudah waktunya bagi para sineas maupun da’i yang ingin mengembangkan dakwah lewat audio visual, untuk memberikan pemahaman yang lebih rasional, mendidik, dan memberi kesadaran kemanusiaan baik hati maupun pikiran, tanpa mengabaikan nilai ekonomis produsernya. Wallahua’lam
Maraknya sinetron mistiki di berbagai stasiun televisi tanah air belakangan ini, mengingatkan pada kisah paradoksal antara si Karma dan si Sholeh, yang bagi generasi yang lahir di tahun 1960-an, amat populer dan amat mempengaruhi pemikiran anak-anak. Cerita yang dimuat di majalah anak-anak tersebut, menampilkan karakter si Karma yang jahat, dan akibatnya ia digambarkan masuk neraka, sementara si Sholeh yang berperilaku baik masuk surga.
Cerita tersebut sebenarnya sederhana, namun karena digambarkan dengan visualisasi yang dramatis tentang neraka bagi si Karma, maka bahkan sampai saat ini bagi sebagian orang yang membaca cerita itu, meninggalkan kesan kuat, bahwa siksa api neraka itu demikian pedihnya. Cerita tersebut setidaknya ”telah berhasil” membangun kesadaran bahwa perbuatan baik dan jahat akan mengalami balasan di akherat kelak. Dengan pendekatan yang tepat untuk konsumsi anak anak, majalah tersebut, ”berhasil” membangun kesadaran dan memberi pesan kuat pada alam bawah sadar anak-anak, dan terus melekat pada ingatan mereka hingga dewasa.
Hakekat Agama
Ilustrasi tentang si Karma dan si Sholeh di atas, merupakan ungkapan paling mudah dicerna oleh, khususnya anak-anak, bahwa memang agama pada hakekatnya memberikan pesan penting untuk melakukan perbuatan baik pada pemeluknya. Dalam konsep agama samawi dikenal konsepsi neraka, yang merupakan sanksi pada manusia dalam menjalankan kehidupan keduniaan, dan balasannya setelah kematian akibat perbuatan dosa yang dilakukan. Sebaliknya juga ada konsepsi surga, yang merupakan harapan bagi kehidupan di akherat sebagai balasan dari perbuatan baik yang dilakukan.
Sisi lain bila kita menelisik dalam konsepsi Islam, maka Islam tidak hanya mengatur perbuatan baik dan buruk, tapi juga memberikan bukti-bukti ilmiah keberadaan Allah. Al qur’an juga memberikan ruang untuk pada konsepsi-konsepsi yang rasional. Pendekatan rasional ilmiah yang menempatkan akal manusia sebagai salah satu unsur penting, merupakan salah satu pendekatan utama dalam memahami konsep Islam.
Menempatkan Islam sebagai agama yang rasional adalah suatu pemahaman yang dimahfumi oleh semua pemeluknya. Bahkan seringkali Al qur’an mengingatkan manusia untuk berfikir, afala ta’kilun, afala tafakarun, dan seterusnya. Oleh karena itu, pemahaman mistik dalam Islam seringkali dianggap sesuatu yang salah, karena bertentangan dengan akal manusia, walaupun Islam tidak sepenuhnya melarang. Ruang alam ghaib sebagian juga terbuka untuk dipelajari pemeluknya seperti, keberadaan, sifat, dan perilaku dari malaikat maupun Jin. Konteks alam ghaib, dengan demikian, dimaksudkan lebih memberikan pemahaman akan adanya mahluk lain selain manusia, yang juga diciptakan oleh sang Khlalik
Selera Pasar
Dalam konteks pemikiran di atas maka, membanjirnya sinetron televisi yang banyak menyuguhkan ke-ghaib-an berupa misalnya siksa kubur, maupun penderitaan manusia yang berkelakuan jahat diakhir hayatnya, telah memberikan kesan seolah-olah Islam adalah agama yang dipenuhi oleh pemahaman mistik (an sich). Sinetron mistikisme tersebut, memang dipenuhi oleh nasehat-nasehat agar manusia (pemirsa televisi sekalian) untuk berbuat baik. Tetapi, dalam perkembangannya, tidak dapat dilepaskan dari konteks ”persaingan komersial”, sehingga, akibatnya yang mengedepan adalah suguhan adegan-demi adegan yang over valued, karena terlampau didramatisasi.
Kecendrungan untuk berpegang pada selera pasar yang tidak lagi mengedepankan rasio manusia, terutama kalangan pemeluk agama ini, bagaimanapun telah menunjukkan adanya ”perilaku yang salah” baik oleh penulis skenario, produser, maupun media televisi itu sendiri. Mengapa demikian? Karena mereka sengaja memproduksinya, tanpa menyaring kelayakannya sebagai sebuah suguhan. Contoh semacam ini sangatlah banyak, seperti tangan yang keluar dari kuburan, ular besar yang menyerang mayit, jenazah yang tidak bisa dikuburkan dan terbakar habis di sisi kuburan. Visualisasi semacam ini bukan hanya tidak masuk akal, namun juga menjadi teror bagi anak-anak yang menontonnya.
Dakwah yang Rasional
Sinetron yang bertujuan dakwah sebenarnya sangat penting, terutama di tengah degradasi moral masyarakat yang semakin memurukkan, baik dari akidah maupun akhlak dalam segala dimensinya. Namun demikian, kecendrungan ini haruslah memberi pemahaman yang benar terhadap Islam, bukan sekedar menyuguhkan tayangan yang ”membangun ketakutan pada manusia” dan Islam seolah-olah merupakan suatu agama yang dipenuhi oleh misteri dan mistik.
Dominannya suguhan mistik yang secara verbal divisualisai dalam tayangan layar kaca, secara langsung maupun tidak membawa umat pada pemahaman yang terbelakang, dan mengarah pada pembodohan akal sehat manusia. Di masyarakat serba permisif seperti ini, sebuah tayangan bersifat dakwah, seringkali menjadi acuan bagi para pemirsanya untuk menerima secara bulat apa yang dilihatnya. Apalagi, dalam berbagai tayangan seperti itu, selalu terdapat figur seorang ustadz yang solah-olah amat memahami Islam, dan otomatis akan memberi pembenaran pada pemirsa, bahwa hal-hal demikian memang intisari dalam ajaran Islam. Pendekatan ini tentunya tidak mengena, dan justru berdampak negatif pada citra Islam itu sendiri.
Memahami Al qur’an (Islam) seharusnya bukan dengan ketakutan, tapi dengan ketaatan melalui kesadaran pikiran maupun hati, sekaligus pemahaman yang total terhadap pentingnya agama untuk membimbing manusia dalam kehidupan keduniaan. Allah SWT sang Khaliq raja dari segala alam raya ini, bukanlah untuk ditakuti oleh pemeluknya, tapi untuk dicintai. Keesaan Allah yang tertuang dalam Al qur’an memberi makna bahwa manusia diberikan kebebasan untuk memilih, apakah menerima atau menolak keberadaan sang pencipta, dengan berbagai konsekuensi logisnya. Kebebasan memilih ini pun relevan dengan rasionalitas manusia, yang dapat berkehendak melalui pikirannya. Ketataatan melalui pemahaman pikiran inilah, yang seharusnya menjadi acuan oleh segenap juru dakwah baik dakwah lisan, tulisan, maupun visual.
Ketakutan pada neraka dan keinginan untuk masuk surga, seringkali menjadi acuan dakwah. Hal ini juga telah mendasari penulis skenario untuk menunjukkan hukuman Allah pada makhluknya. Walaupun cara berpikir seperti ini ”tidak menyalahi aturan”, namun bukanlah hakekat yang paling tinggi nilainya. Karena nilai tertinggi manusia Islam dalam beribadah adalah untuk mendapat ridho Allah SWT, bukan sekedar surga yang memang ciptaan-Nya jua.
Berbagai kasus yang menunjukkan hukuman Allah dan dilihat oleh manusia sekitarnya dapat saja terjadi, terutama pada manusia yang dalam hidupnya berkelakuan tak manusiawi dan menyengsarakan orang lain. Tak jarang hukuman ini mengena di akhir hayatnya. Akan tetapi visualisasi yang terus-menerus akan memberikan dampak lain bagi masyarakat.
Seorang anak manusia yang meninggal dalam keadaan sakit lever, maka hal yang wajar bila wajahnya mengalami kehitaman, dan hal demikian secara ilmiah oleh ilmu kedokteran dapat dipahami sebagai efek dari penyakit hati tersebut. Namun, mungkin saja tidak demikian bagi tetangga atau kerabat yang sempat melihat jenazah tersebut. Akibat tayangan sinetron yang mendramatisir kematian sedemikian rupa, maka kematian dengan wajah demikian, ironisnya, dianggap sebagai hukuman Allah atas perilakunya di dunia. Situasi demikian tentunya memberikan citra tertentu pada keluarga yang ditinggalkan dan kelak akan mencari-cari apa kesalahan anggota keluarganya itu, hingga mengalami hal demikian.
Demikian pula bagi manusia yang mengidap penyakit kanker, seringkali di akhir hayatnya mengalami kesakitan yang luar biasa, dan sekali lagi dalam dunia medis situasi itu adalah hal yang sangat normal. Namun, tidak demikian bagi kerabat yang yang mengalaminya. Dampak ikutan seperti ini, tentunya juga perlu dipikirkan matang matang oleh para sineas kita.
Sudah waktunya bagi para sineas maupun da’i yang ingin mengembangkan dakwah lewat audio visual, untuk memberikan pemahaman yang lebih rasional, mendidik, dan memberi kesadaran kemanusiaan baik hati maupun pikiran, tanpa mengabaikan nilai ekonomis produsernya. Wallahua’lam
Rabu, 04 Januari 2006
Bullshitnya Abdul Moqsith Ghazali:!!!
.
Asww Daeng Ichan terimakasih banyak udah mengirim artikelnya Moqshit yg ia tulis dikoran tempo. saya membaca artikel itu dan ingin sedikit memberi penjelasan apa dan bagaimana cerita sebenarnya yg terjadi dalam kasus Lia Aminudin atau Lia Eden. Tidak seperti yang dikatakan Moqsith itu yg menulis tanpa data dan cenderung memfitnah MUI, sekaligus saya ingin memberi penjelasan dari kesimpulan berbagai kalangan yang salah kaprah diluar kenyataan yang sebenarnya.
Dalam alinea pertama Moqsith sudah prejudice lebih dulu dengan mengatakan rumah Lia Aminudin yang berada di jalan Mahoni nomor 30, dikepung oleh sebagian masyarakat. Saya ingin bertanya pada Moqshit dari mana dia dapat kesimpulan semacam itu..? Apakah dia ada dilokasi atau dia mengambil kesimpulan sendiri, karena kami warga dijalan Mahoni tahu persis tidak ada yang namanya pengepungan tidak ada sikap sikap anarkis thd (Tante Lia) kami biasa memanggil beliau dengan sebutan tante Lia. Sudah bertahun tahun kami tinggal berdampingan tanpa ada rasa saling memusuhi apa lagi melakukan pengepungan. Keramaian dijalan Mahoni kami pantau bukan hanya dari hari kehari tapi menit permenit karena diantara kami sebagai warga baik islam, kristen, hindu, maupun Budha, akan menjaga lingkungan ini tanpa ada intervensi dari manapun. Baik FPI maupun FBR atau apapun namanya. dari awal kami akan menyelesaikan masalah ini dengan sebaik baiknya penyelesaian.
Dan masalah Lia Aminudin bukanlah akibat dari fatwa MUI, Saya katakan sekali lagi pada saudara Moqsith yang SOK PINTAR itu masalah Lia Aminudin BUKANLAH AKIBAT DARI FATWA MUI. (bila sdr Moqsith mau lebih jelas, saya bisa ajak dari mulai ketua RW, RT, Kepala Lingkungan, sampai masyarakat disini utk memberikan penjelasan pada sdr Moqshith agar tidak semaunya memfitnah MASYARAKAT yang katanya MENGEPUNG, juga fitnahnya mengatakan Fatwa MUI sbg alat penyerbuan.
Keramaian dijalan Mahoni yg dikatakan Moqsith sbg pengepungan adalah karena banyaknya wartawan yang meliput terutama media TV, dari hari kehari bila ada wartawan televisi datang meliput maka warga terutama anak anak dan ibu ibu mereka keluar rumah menontonnya, dan bila wartawan dari media TV pergi maka jalan dimahoni kembali lengang. Kecuali beberapa personil polisi yang memang kami minta membantu menjaga lingkungan, bahkan dihari evakuasi Tante Lia dan pengikutnya, masyarakat yang paling banyak ada disana adalah kaum Ibu dan anak anak, dan jumlahnya tidak sampai ribuan seperti yang dikatakan dalam sebuah media cetak, jumlah 700 orang pun terlalu banyak, dan berita penimpukan yang dilansir Pos Kota adalah tidak benar, penimpukan itu tidak ada sama sekali cuma ada dua orang anak kecil yang menimpuk nimpuk mobil polisi yang dilapis kawat.
Oleh karena setiap ada liputan media dan warga selalu mengerubungi, maka untuk menjaga hal hal yang tidak dinginkan. Kami mengambil kebijakan wartawan dilarang meliput atau masuk jalan itu di malam hari. Seorang wartawan dari TV 7 yang ditugaskan meliput malam, hanya bisa mengambil gambar dari ujung jalan karena tidak diperbolehkan masuk, namun setelah dia menjelaskan mendapat tugas utk meliput keadaan dimalam hari maka saya mengijinkan nya dengan catatan lampu kamera harus mati.
Tidak ada yang namanya pengepungan yang ada hanya warga menonton pelaksanaan evakuasi, kalau anda ingin ngetes, panggil aja satu media tv bawa kekampung anda saya yakin warga akan ramai ramai keluar rumah melihat wartawan itu bekerja, paling tidak ada keinginan dari warga untuk wajahnya disorot kamera. Sama seperti tuan Moqsith yang selalu ingin tampil mengomentari walaupun gak ngerti masalah.
Saya bersama RW, RT, Lurah, dan beberapa warga ada disitu memantau entah ada dimana yang namanya Moqsith, mungkin dimana jalan Mahoni itu adanya dia tidak tahu tapi menulis dan berkesimpulan dengan gagahnya seenak udel.
Yang kedua dari mana Moqsith menarik kesimpulan kasus ini akibat dari fatwa MUI, Fatwa MUI dikeluarkan terhadap kelompok ini tahun 1997, sudah 8 tahun sejak fatwa MUI dikeluarkan tidak pernah sekalipun warga disini melakukan provokasi untuk mengusir kegiatan kelompok SALAMULLAH yang kini berubah menjafdi GOD`S KINGDOM (Tahta Suci Kerajaan Tuhan) dan komunitasnya bernama EDEN.
Warga tidak mengusir mereka, juga tidak memusuhinya semua berjalan masing masing sesuai dengan keyakinannya. Perlu anda ketahui didepan jalan Mahoni ada Masjid bernama Darussalam dan diujung jalannya ada Gereja, yang tiap minggu aktif melakukan kebaktian dan tepat didepan gereja adalah rumah Lia Aminudin. Ketua RW 08 beragama Islam dan ketua RT 05 beragama Kristen. dirumah tetangga saya ada kebaktian, dirumah saya ada pengajian dan tempat parkir kami atur bersama agar tidak menghalangi jalan, bahkan halaman rumah saya dan warga lainnya seringkali dipakai parkir untuk masyarakat yang kegereja. (kami jauh lebih toleran dari pada tuan Moqsith, kami jauh lebih menghargai pluralisme yang digembar gemborkan itu dari pada pengasongnya yang cuma bicara dan menulis pluralisme tapi mampu memfitnah semaunya terhadap orang lain tanpa meneliti lebih dulu.
Kronoligis kasus Lia Eden.
Keresahan warga terhadap kegiatan kelompok Eden, baru terjadi dua bulan belakangan ini, berawal dari ibu ibu pengajian dijalan Mahoni yang merasa resah karena sering didatangi dan dikirimi borosur oleh pengikut Lia Aminudin. Kadang kadang mengirim kue yg oleh warga umumnya dibuang, dan terkadang memberi Obat yang katanya dari Tuhan. sebelumnya Lia Aminudin juga menggali sumur didalam rumahnya yang katanya terhubung dengan air Zamzam dan bisa mengobati segala penyakit( kami tahu persis kualitas air didaerah sini sangat buruk terasa asin dan mengandung garam dikarenakan abrasi air laut).
Dan dibulan ini juga Lia Aminudin tanpa Izin Pemda membangun tiang tiang didepan rumahnya menyerupai Pure, dan menempatkan kaca patri ditingkat atas rumahnya menghadap kejalan dengan tulisan GOD`S KINGDOM. Lia juga bersama kelompoknya berbaju putih putih (pakaian ihrom) melakukan pawai berjalan kaki melewati jalan mahoni lalu melewati jalan Rasamala, dan memutar untuk menghindari daerah itu yang
katanya akan terkena musibah.
Para ibu ibu mulai merasa khawatir karena sebelum sebelumnya kelompok ini tidak mencoba mempengaruhi warga, selama ini tidak ada satupun warga disini yang menjadi pengikutnya kebanyakan dari mereka datang dari daerah lain. Bahkan anak laki laki dari tante Lia sendiri tidak sefaham dengan ibunya, tapi kelompok itu belakangan ini mulai aktif mempengaruhi warga, dan tepat pada tanggal 10 Desember Metro TV menayangkan acara " Unsolved Cases 2005" yang menyoroti kegiatan keagamaan LIA EDEN. Tayangan Metro inilah Faktor Pemicu sebenarnya bukan fatwa MUI sebagaimana dikatakan Moqsith.
Beberapa Ibu meminta melalui istri saya untuk saya dan beberapa warga disini mengambil kebijakkan thd aktifitas dirumah jalan Mahoni nomor 30, tak lama kemudian beberapa anak muda bernama Iwan, yeyen dan lainnya datang kerumah saya membicarakan tayangan Metro TV dan keresahan Warga thd aktifitas Lia Aminudin, disamping itu ada keluhan dari para orang tua dari daerah lain yang anaknya menjadi pengikut Lia kepada ketua RW disini.
Anak anak muda itu berinisiatif untuk mengumpulkan tanda tangan dari seluruh warga Mahoni, pengumpulan tanda tangan ini bukan hanya ditanda tangani oleh kalangan muslim, tapi juga oleh kalangan yang beragama Kristen termasuk ketua RT. Sampai disini saya ingin bertanya kembali pada saudara Moqsith apa korelasi Fatwa MUI dengan warga yang beragama Kristen apakah mereka menanda tangani karena Fatwa MUI..?.
Saya orang terakhir di jalan ini (rumah saya berjarak 4 rumah dari rumah Lia Aminudin,) yang menanda tangani pernyataan warga. Dalam kesepakatan selanjutnya bersama warga kami tidak meminta Lia untuk diusir dari rumahnya, warga hanya meminta untuk dia menghentikan aktifitasnya didaerah ini yang sudah mulai meresahkan. Dan fatwa MUI tidak dibahas dalam forum itu karena tidak ada relevansinya, sebahagian besar warga disini orang chines dan sebahagian dari Menado dan Batak beragama Kristen, apa relevansinya membicarakan fatwa MUI dihadapan tetangga kami yang beragama lain itu, namun mereka sepakat karena memang mulai meresahkan.
Pengumpulan tanda tangan ini terdengar oleh warga di RT lain lalu disambut oleh seluruh warga RW 08 untuk melakukan hal yang sama, dan kami tetap mengatakan bahwa mereka boleh terlibat melakukan tanda tangan tapi tidak boleh ada kegiatan apapun dari masyarakat setempat untuk mendekati rumah nomor 30. Tidak boleh ada tindakan anarkhis, siang malam kami menjaga rumah itu dari masyarakat sekitar dan Alhamdulillah tidak ada keanehan apapun, keadaan tetap terkendali dan berlangsung normal normal saja. Pada saat surat kami sampaikan pada lurah Bungur warga bersepakat masalah ini hanya ditangani oleh Lurah Bungur, Camat Senen, dan Kapolres Jakarta Pusat. Warga bersifat hanya membantu bila diperlukan disamping menjaga keamanan dari fihak fihak luar yang mungkin akan membuat keruh keadaan.
Namun entah bagaimana surat warga kepada lurah tercium oleh kalangan Pers dan mulailah pers membuat liputan. Setiap media TV datang warga terutama yang berada didalam gang gang keluar utk melihat, dan pers mulai mewancarai warga satu persatu, dan warga berkrumun didepan rumah tante Lia, pada saat pers pergi wargapun bubar kembali. Semakin hari media semakin aktif krew TPI pergi, krew dari SCTV datang meliput, lalu AN TV, dua media ini selesai maka media lain Metro TV, Lativi, muncul dan kerumunan pun makin sering terjadi dan semakin lama berlangsungnya. kerumuman hanyalah kerumunan dan hanyalah ibu2 bukan presure thd kelompok ini.
Warga hanya menonton dan senang ada tetangganya diwawancara dan masuk media TV, sama seperti orang orang intelektual yang gak ngerti masalah tapi suka komentarnya dimuat dimedia.
Lalu tiba tiba tanpa koordinasi ada famplet dari pengurus Masjid meranti yang saya tahu anak anak mudanya aktif melakukan pengajian (semua anak saya bersekolah disitu SD/SMP Islam Meranti), dan Masjid itu letaknya diluar daerah Mahoni, famplet itu berisi undangan tabligh Akbar berthema JIBRIL PALSU, Tablig itu akan diadakan pada tanggal 31 Desember Ba,da Magrib, melaui Hendrik Kepala lingkungan didaerah ini. Saya bersama warga menyatakan kami sangat berkeberatan dengan rencana Tabligh itu, karena selesai tabligh massa akan sulit dikendalikan dan terlebih lagi didepan rumah Lia Aminudin ada Gereja yang cukup besar siapa bertanggung jawab bila terjadi penyerangan massa.
Berarti menjadi dua tempat yang harus kami jaga satu rumah Lia Aminudin dan satu lagi Gereja yang terletak persis didepannya, melalui diskusi akhirnya disepakati ustadz yg berbicara hanya bicara masalah agama tidak boleh ada provokasi. Untuk meredam massa saya diminta untuk berbicara di forum itu dan disesion terakhir, dan personil polisipun kami minta lebih banyak dari yang biasanya, Tabligh itu atas inisiatif masyarakat diluar Mahoni, dan warga sendiri tidak mememerlukan kegiatan seperti itu dalam kondisi seperti ini. Karena bila itu diperlukan tempatnya bukanlah di Meranti yang terletak agak jauh tetapi di Masjid Darussalam yang hanya berjarak puluhan meter dari kediaman Lia Eden, dan kalaupun kami mau penceramah yang jauh lebih dikenal seperti Habib Riziek atau fauzhan Anshori akan sangat mudah kami hubungi tapi untuk apa, karena bukan itu tujuannya. Jadi jauh dari prasangkanya Moqsith yang menyatakan krimalisasi komunitas Eden. Warga disini memiliki kesadaran penuh dan jauh dari kriminalitas, tapi cara Moqsith menyimpulkan lah yang bisa dikatakan kriminalisasi karena sangat inusuatif dan menjastifikasi situasi sesuai dengan kemauannya bukan pada fakta yang ada.
Dan saya ingin menunjukkan siapakah yang sebenarnya bersikap kriminal, dibawah ini adalah cuplikan dari suratnya Lia Eden.
.........Demi Tuhan yang maha esa dan takkan mengabaikan aku dan kerajaan-nya dan yang akan melindungi komunitas Eden dengan kesaktiannya, akulah Ruhul Kudus yang tersakti dan akan melibatkan kekuatan ghaibku untuk menghalangimu. Akulah Jibril yang sejati dan aku akan menghakimimu sesuai dengan pasal hukum Allah........
....... Jangan kau teruskan niatmu atau aku akan mencabut nyawamu......
Itu adalah bagian dari surat Lia Eden kepada pengurus Masjid Meranti, apa pendapat anda pak Moqshit pada orang yang mengancam mencabut nyawa orang lain.
Dalam suratnya yang lain LIA EDEN memberikan lagi selebaran dan menjadi daya tolak warga mengkristal dan muncul keinginan untuk tidak hanya menghentikan aktifitasnya tapi juga meminta kelompok itu tidak ada lagi didaerah sini. surat itu berjudul. MAKLUMAT RUHUL KUDUS PERIHAL KERESMIAN KERAJAAN TUHAN.
dibawahnya diberi judul ATAS NAMA ALLAH YANG MAHA MERESTUI KERAJAAN NYA.
isi dari surat itu, tertulis seperti ini:
".............untuk menjawab keyakinan nabi Muhammadlah nabi terakhir dan tak ada lagi nabi setelahnya, adalah nabi dari kalangan manusia takkan sanggup memperbaiki keadaan yang terlalu rumit dan sangat berat didunia. Dan masyarakat didunia pada saat ini , berbangsa bangsa dan semuanya telah tinggi peradabannya, ilmu pengetahuan sangat maju, tekhnologipun sangat canggih, kebanggaan atas bangsa masing masing dan agama masing masing di setiap bangsa menjadikan tak seorang nabi pun sanggup mengatasi segala bentuk kekejaman, kejahatan dan permusuhan serta peperangan yang melanda semua bangsa dan negaranya. Maka akulah Ruhul Kudus yang menjabat sebagai Rasul Allah dan Hakim Nya................"
Surat ini dikirim keseluruh warga, dan bagaimana sikap warga muslim pada umumnya didaerah ini yang sebahagian besar tidak bersekolah tinggi, sebahagian hanya mengenal islam dari ustadznya, bukan dari buku buku yang mengajarkan tentang perbedaan dalam islam yang seperti saudara Moqsith baca, kami bekerja kami meredamkan, kami melakukan penerangan dan memberi rasa keprihatinan pada tante lia yang merupakan tetangga kami puluhan tahun, dan tuan Moqsith menulis " ini sebentuk tafsir kriminalisasi yang biasanya diarahkan buat kelompok yang bukan arus utama dan tidak memiliki power kekuasaan......." Tafsir kriminalisasi apa tuan Moqshith....? ada atau tidak fatwa MUI masyarakat muslim yang terbatas bacaannya pasti marah menerima maklumat seperti itu, masyarakat muslim teringat pencabutan nyawa kiayi didaerah jawa dan kali ini Lia Mengancam akan mencabut nyawa para ustadz, namun teredam dengan baik. Tetap tak ada tindakan anarkhis, dan saudara Moqsihsit menulis ' Rumah Lia
Aminudin........ DI KEPUNG......." dikepung....? (Jidad Meledak!!!!!!)
Evakuasi terhadap komunitas Eden terjadi pada hari kamis tanggal 29 Des jam 5 sore dua hari sebelum Tabligh Akbar. Setelah surat kontroversial yang dilayangkan oleh Kerajaan Tuhan itu, evakuasi bukan dari ancaman warga tapi akibat surat Lia yang dinilai Polisi, Lurah dan Camat setempat mengkhawatirkan. Dan dapat menimbulkan respon balik bukan dari masyarakat sekitar tapi masyarakat diluar sini, pada pertemuan dikantor Walikota. Lurah, Camat dan Walikota sangat berterimakasih pada warga yang telah bekerja sama dengan baik tak ada satu tubuh yang berdarah, tak ada kepala yang bocor. Cuma menjadi pertanyaan bagi saya apa maunya seorang intelektual bernama Abdul Moqsith Ghazali menulis artikel inusuatif seperti itu, apakah kasus seperti ini dapat dibuat untuk menjual diri pada lembaga lain whualllah whua,lam....
Sekali lagi terimakasih kepada pak Ichan yang telah memforward artikel dari Moqsiht yang bulshit itu, dan saya dapat memberi penjelasan dalam forum kahmi yang mulia ini, semoga tuan Moqshit dapat membaca penjelasan ini dan tidak lagi semaunya membuat kesimpulan dan menulisnya di surat khabar, janganlah masyarakat yang sudah stress ini diracuni pula dengan fitnah tak bertanggung jawab apa lagi dari kaum yang menyatakan diri pembaharu dan liberal yang relatif intelektual.
Asww Daeng Ichan terimakasih banyak udah mengirim artikelnya Moqshit yg ia tulis dikoran tempo. saya membaca artikel itu dan ingin sedikit memberi penjelasan apa dan bagaimana cerita sebenarnya yg terjadi dalam kasus Lia Aminudin atau Lia Eden. Tidak seperti yang dikatakan Moqsith itu yg menulis tanpa data dan cenderung memfitnah MUI, sekaligus saya ingin memberi penjelasan dari kesimpulan berbagai kalangan yang salah kaprah diluar kenyataan yang sebenarnya.
Dalam alinea pertama Moqsith sudah prejudice lebih dulu dengan mengatakan rumah Lia Aminudin yang berada di jalan Mahoni nomor 30, dikepung oleh sebagian masyarakat. Saya ingin bertanya pada Moqshit dari mana dia dapat kesimpulan semacam itu..? Apakah dia ada dilokasi atau dia mengambil kesimpulan sendiri, karena kami warga dijalan Mahoni tahu persis tidak ada yang namanya pengepungan tidak ada sikap sikap anarkis thd (Tante Lia) kami biasa memanggil beliau dengan sebutan tante Lia. Sudah bertahun tahun kami tinggal berdampingan tanpa ada rasa saling memusuhi apa lagi melakukan pengepungan. Keramaian dijalan Mahoni kami pantau bukan hanya dari hari kehari tapi menit permenit karena diantara kami sebagai warga baik islam, kristen, hindu, maupun Budha, akan menjaga lingkungan ini tanpa ada intervensi dari manapun. Baik FPI maupun FBR atau apapun namanya. dari awal kami akan menyelesaikan masalah ini dengan sebaik baiknya penyelesaian.
Dan masalah Lia Aminudin bukanlah akibat dari fatwa MUI, Saya katakan sekali lagi pada saudara Moqsith yang SOK PINTAR itu masalah Lia Aminudin BUKANLAH AKIBAT DARI FATWA MUI. (bila sdr Moqsith mau lebih jelas, saya bisa ajak dari mulai ketua RW, RT, Kepala Lingkungan, sampai masyarakat disini utk memberikan penjelasan pada sdr Moqshith agar tidak semaunya memfitnah MASYARAKAT yang katanya MENGEPUNG, juga fitnahnya mengatakan Fatwa MUI sbg alat penyerbuan.
Keramaian dijalan Mahoni yg dikatakan Moqsith sbg pengepungan adalah karena banyaknya wartawan yang meliput terutama media TV, dari hari kehari bila ada wartawan televisi datang meliput maka warga terutama anak anak dan ibu ibu mereka keluar rumah menontonnya, dan bila wartawan dari media TV pergi maka jalan dimahoni kembali lengang. Kecuali beberapa personil polisi yang memang kami minta membantu menjaga lingkungan, bahkan dihari evakuasi Tante Lia dan pengikutnya, masyarakat yang paling banyak ada disana adalah kaum Ibu dan anak anak, dan jumlahnya tidak sampai ribuan seperti yang dikatakan dalam sebuah media cetak, jumlah 700 orang pun terlalu banyak, dan berita penimpukan yang dilansir Pos Kota adalah tidak benar, penimpukan itu tidak ada sama sekali cuma ada dua orang anak kecil yang menimpuk nimpuk mobil polisi yang dilapis kawat.
Oleh karena setiap ada liputan media dan warga selalu mengerubungi, maka untuk menjaga hal hal yang tidak dinginkan. Kami mengambil kebijakan wartawan dilarang meliput atau masuk jalan itu di malam hari. Seorang wartawan dari TV 7 yang ditugaskan meliput malam, hanya bisa mengambil gambar dari ujung jalan karena tidak diperbolehkan masuk, namun setelah dia menjelaskan mendapat tugas utk meliput keadaan dimalam hari maka saya mengijinkan nya dengan catatan lampu kamera harus mati.
Tidak ada yang namanya pengepungan yang ada hanya warga menonton pelaksanaan evakuasi, kalau anda ingin ngetes, panggil aja satu media tv bawa kekampung anda saya yakin warga akan ramai ramai keluar rumah melihat wartawan itu bekerja, paling tidak ada keinginan dari warga untuk wajahnya disorot kamera. Sama seperti tuan Moqsith yang selalu ingin tampil mengomentari walaupun gak ngerti masalah.
Saya bersama RW, RT, Lurah, dan beberapa warga ada disitu memantau entah ada dimana yang namanya Moqsith, mungkin dimana jalan Mahoni itu adanya dia tidak tahu tapi menulis dan berkesimpulan dengan gagahnya seenak udel.
Yang kedua dari mana Moqsith menarik kesimpulan kasus ini akibat dari fatwa MUI, Fatwa MUI dikeluarkan terhadap kelompok ini tahun 1997, sudah 8 tahun sejak fatwa MUI dikeluarkan tidak pernah sekalipun warga disini melakukan provokasi untuk mengusir kegiatan kelompok SALAMULLAH yang kini berubah menjafdi GOD`S KINGDOM (Tahta Suci Kerajaan Tuhan) dan komunitasnya bernama EDEN.
Warga tidak mengusir mereka, juga tidak memusuhinya semua berjalan masing masing sesuai dengan keyakinannya. Perlu anda ketahui didepan jalan Mahoni ada Masjid bernama Darussalam dan diujung jalannya ada Gereja, yang tiap minggu aktif melakukan kebaktian dan tepat didepan gereja adalah rumah Lia Aminudin. Ketua RW 08 beragama Islam dan ketua RT 05 beragama Kristen. dirumah tetangga saya ada kebaktian, dirumah saya ada pengajian dan tempat parkir kami atur bersama agar tidak menghalangi jalan, bahkan halaman rumah saya dan warga lainnya seringkali dipakai parkir untuk masyarakat yang kegereja. (kami jauh lebih toleran dari pada tuan Moqsith, kami jauh lebih menghargai pluralisme yang digembar gemborkan itu dari pada pengasongnya yang cuma bicara dan menulis pluralisme tapi mampu memfitnah semaunya terhadap orang lain tanpa meneliti lebih dulu.
Kronoligis kasus Lia Eden.
Keresahan warga terhadap kegiatan kelompok Eden, baru terjadi dua bulan belakangan ini, berawal dari ibu ibu pengajian dijalan Mahoni yang merasa resah karena sering didatangi dan dikirimi borosur oleh pengikut Lia Aminudin. Kadang kadang mengirim kue yg oleh warga umumnya dibuang, dan terkadang memberi Obat yang katanya dari Tuhan. sebelumnya Lia Aminudin juga menggali sumur didalam rumahnya yang katanya terhubung dengan air Zamzam dan bisa mengobati segala penyakit( kami tahu persis kualitas air didaerah sini sangat buruk terasa asin dan mengandung garam dikarenakan abrasi air laut).
Dan dibulan ini juga Lia Aminudin tanpa Izin Pemda membangun tiang tiang didepan rumahnya menyerupai Pure, dan menempatkan kaca patri ditingkat atas rumahnya menghadap kejalan dengan tulisan GOD`S KINGDOM. Lia juga bersama kelompoknya berbaju putih putih (pakaian ihrom) melakukan pawai berjalan kaki melewati jalan mahoni lalu melewati jalan Rasamala, dan memutar untuk menghindari daerah itu yang
katanya akan terkena musibah.
Para ibu ibu mulai merasa khawatir karena sebelum sebelumnya kelompok ini tidak mencoba mempengaruhi warga, selama ini tidak ada satupun warga disini yang menjadi pengikutnya kebanyakan dari mereka datang dari daerah lain. Bahkan anak laki laki dari tante Lia sendiri tidak sefaham dengan ibunya, tapi kelompok itu belakangan ini mulai aktif mempengaruhi warga, dan tepat pada tanggal 10 Desember Metro TV menayangkan acara " Unsolved Cases 2005" yang menyoroti kegiatan keagamaan LIA EDEN. Tayangan Metro inilah Faktor Pemicu sebenarnya bukan fatwa MUI sebagaimana dikatakan Moqsith.
Beberapa Ibu meminta melalui istri saya untuk saya dan beberapa warga disini mengambil kebijakkan thd aktifitas dirumah jalan Mahoni nomor 30, tak lama kemudian beberapa anak muda bernama Iwan, yeyen dan lainnya datang kerumah saya membicarakan tayangan Metro TV dan keresahan Warga thd aktifitas Lia Aminudin, disamping itu ada keluhan dari para orang tua dari daerah lain yang anaknya menjadi pengikut Lia kepada ketua RW disini.
Anak anak muda itu berinisiatif untuk mengumpulkan tanda tangan dari seluruh warga Mahoni, pengumpulan tanda tangan ini bukan hanya ditanda tangani oleh kalangan muslim, tapi juga oleh kalangan yang beragama Kristen termasuk ketua RT. Sampai disini saya ingin bertanya kembali pada saudara Moqsith apa korelasi Fatwa MUI dengan warga yang beragama Kristen apakah mereka menanda tangani karena Fatwa MUI..?.
Saya orang terakhir di jalan ini (rumah saya berjarak 4 rumah dari rumah Lia Aminudin,) yang menanda tangani pernyataan warga. Dalam kesepakatan selanjutnya bersama warga kami tidak meminta Lia untuk diusir dari rumahnya, warga hanya meminta untuk dia menghentikan aktifitasnya didaerah ini yang sudah mulai meresahkan. Dan fatwa MUI tidak dibahas dalam forum itu karena tidak ada relevansinya, sebahagian besar warga disini orang chines dan sebahagian dari Menado dan Batak beragama Kristen, apa relevansinya membicarakan fatwa MUI dihadapan tetangga kami yang beragama lain itu, namun mereka sepakat karena memang mulai meresahkan.
Pengumpulan tanda tangan ini terdengar oleh warga di RT lain lalu disambut oleh seluruh warga RW 08 untuk melakukan hal yang sama, dan kami tetap mengatakan bahwa mereka boleh terlibat melakukan tanda tangan tapi tidak boleh ada kegiatan apapun dari masyarakat setempat untuk mendekati rumah nomor 30. Tidak boleh ada tindakan anarkhis, siang malam kami menjaga rumah itu dari masyarakat sekitar dan Alhamdulillah tidak ada keanehan apapun, keadaan tetap terkendali dan berlangsung normal normal saja. Pada saat surat kami sampaikan pada lurah Bungur warga bersepakat masalah ini hanya ditangani oleh Lurah Bungur, Camat Senen, dan Kapolres Jakarta Pusat. Warga bersifat hanya membantu bila diperlukan disamping menjaga keamanan dari fihak fihak luar yang mungkin akan membuat keruh keadaan.
Namun entah bagaimana surat warga kepada lurah tercium oleh kalangan Pers dan mulailah pers membuat liputan. Setiap media TV datang warga terutama yang berada didalam gang gang keluar utk melihat, dan pers mulai mewancarai warga satu persatu, dan warga berkrumun didepan rumah tante Lia, pada saat pers pergi wargapun bubar kembali. Semakin hari media semakin aktif krew TPI pergi, krew dari SCTV datang meliput, lalu AN TV, dua media ini selesai maka media lain Metro TV, Lativi, muncul dan kerumunan pun makin sering terjadi dan semakin lama berlangsungnya. kerumuman hanyalah kerumunan dan hanyalah ibu2 bukan presure thd kelompok ini.
Warga hanya menonton dan senang ada tetangganya diwawancara dan masuk media TV, sama seperti orang orang intelektual yang gak ngerti masalah tapi suka komentarnya dimuat dimedia.
Lalu tiba tiba tanpa koordinasi ada famplet dari pengurus Masjid meranti yang saya tahu anak anak mudanya aktif melakukan pengajian (semua anak saya bersekolah disitu SD/SMP Islam Meranti), dan Masjid itu letaknya diluar daerah Mahoni, famplet itu berisi undangan tabligh Akbar berthema JIBRIL PALSU, Tablig itu akan diadakan pada tanggal 31 Desember Ba,da Magrib, melaui Hendrik Kepala lingkungan didaerah ini. Saya bersama warga menyatakan kami sangat berkeberatan dengan rencana Tabligh itu, karena selesai tabligh massa akan sulit dikendalikan dan terlebih lagi didepan rumah Lia Aminudin ada Gereja yang cukup besar siapa bertanggung jawab bila terjadi penyerangan massa.
Berarti menjadi dua tempat yang harus kami jaga satu rumah Lia Aminudin dan satu lagi Gereja yang terletak persis didepannya, melalui diskusi akhirnya disepakati ustadz yg berbicara hanya bicara masalah agama tidak boleh ada provokasi. Untuk meredam massa saya diminta untuk berbicara di forum itu dan disesion terakhir, dan personil polisipun kami minta lebih banyak dari yang biasanya, Tabligh itu atas inisiatif masyarakat diluar Mahoni, dan warga sendiri tidak mememerlukan kegiatan seperti itu dalam kondisi seperti ini. Karena bila itu diperlukan tempatnya bukanlah di Meranti yang terletak agak jauh tetapi di Masjid Darussalam yang hanya berjarak puluhan meter dari kediaman Lia Eden, dan kalaupun kami mau penceramah yang jauh lebih dikenal seperti Habib Riziek atau fauzhan Anshori akan sangat mudah kami hubungi tapi untuk apa, karena bukan itu tujuannya. Jadi jauh dari prasangkanya Moqsith yang menyatakan krimalisasi komunitas Eden. Warga disini memiliki kesadaran penuh dan jauh dari kriminalitas, tapi cara Moqsith menyimpulkan lah yang bisa dikatakan kriminalisasi karena sangat inusuatif dan menjastifikasi situasi sesuai dengan kemauannya bukan pada fakta yang ada.
Dan saya ingin menunjukkan siapakah yang sebenarnya bersikap kriminal, dibawah ini adalah cuplikan dari suratnya Lia Eden.
.........Demi Tuhan yang maha esa dan takkan mengabaikan aku dan kerajaan-nya dan yang akan melindungi komunitas Eden dengan kesaktiannya, akulah Ruhul Kudus yang tersakti dan akan melibatkan kekuatan ghaibku untuk menghalangimu. Akulah Jibril yang sejati dan aku akan menghakimimu sesuai dengan pasal hukum Allah........
....... Jangan kau teruskan niatmu atau aku akan mencabut nyawamu......
Itu adalah bagian dari surat Lia Eden kepada pengurus Masjid Meranti, apa pendapat anda pak Moqshit pada orang yang mengancam mencabut nyawa orang lain.
Dalam suratnya yang lain LIA EDEN memberikan lagi selebaran dan menjadi daya tolak warga mengkristal dan muncul keinginan untuk tidak hanya menghentikan aktifitasnya tapi juga meminta kelompok itu tidak ada lagi didaerah sini. surat itu berjudul. MAKLUMAT RUHUL KUDUS PERIHAL KERESMIAN KERAJAAN TUHAN.
dibawahnya diberi judul ATAS NAMA ALLAH YANG MAHA MERESTUI KERAJAAN NYA.
isi dari surat itu, tertulis seperti ini:
".............untuk menjawab keyakinan nabi Muhammadlah nabi terakhir dan tak ada lagi nabi setelahnya, adalah nabi dari kalangan manusia takkan sanggup memperbaiki keadaan yang terlalu rumit dan sangat berat didunia. Dan masyarakat didunia pada saat ini , berbangsa bangsa dan semuanya telah tinggi peradabannya, ilmu pengetahuan sangat maju, tekhnologipun sangat canggih, kebanggaan atas bangsa masing masing dan agama masing masing di setiap bangsa menjadikan tak seorang nabi pun sanggup mengatasi segala bentuk kekejaman, kejahatan dan permusuhan serta peperangan yang melanda semua bangsa dan negaranya. Maka akulah Ruhul Kudus yang menjabat sebagai Rasul Allah dan Hakim Nya................"
Surat ini dikirim keseluruh warga, dan bagaimana sikap warga muslim pada umumnya didaerah ini yang sebahagian besar tidak bersekolah tinggi, sebahagian hanya mengenal islam dari ustadznya, bukan dari buku buku yang mengajarkan tentang perbedaan dalam islam yang seperti saudara Moqsith baca, kami bekerja kami meredamkan, kami melakukan penerangan dan memberi rasa keprihatinan pada tante lia yang merupakan tetangga kami puluhan tahun, dan tuan Moqsith menulis " ini sebentuk tafsir kriminalisasi yang biasanya diarahkan buat kelompok yang bukan arus utama dan tidak memiliki power kekuasaan......." Tafsir kriminalisasi apa tuan Moqshith....? ada atau tidak fatwa MUI masyarakat muslim yang terbatas bacaannya pasti marah menerima maklumat seperti itu, masyarakat muslim teringat pencabutan nyawa kiayi didaerah jawa dan kali ini Lia Mengancam akan mencabut nyawa para ustadz, namun teredam dengan baik. Tetap tak ada tindakan anarkhis, dan saudara Moqsihsit menulis ' Rumah Lia
Aminudin........ DI KEPUNG......." dikepung....? (Jidad Meledak!!!!!!)
Evakuasi terhadap komunitas Eden terjadi pada hari kamis tanggal 29 Des jam 5 sore dua hari sebelum Tabligh Akbar. Setelah surat kontroversial yang dilayangkan oleh Kerajaan Tuhan itu, evakuasi bukan dari ancaman warga tapi akibat surat Lia yang dinilai Polisi, Lurah dan Camat setempat mengkhawatirkan. Dan dapat menimbulkan respon balik bukan dari masyarakat sekitar tapi masyarakat diluar sini, pada pertemuan dikantor Walikota. Lurah, Camat dan Walikota sangat berterimakasih pada warga yang telah bekerja sama dengan baik tak ada satu tubuh yang berdarah, tak ada kepala yang bocor. Cuma menjadi pertanyaan bagi saya apa maunya seorang intelektual bernama Abdul Moqsith Ghazali menulis artikel inusuatif seperti itu, apakah kasus seperti ini dapat dibuat untuk menjual diri pada lembaga lain whualllah whua,lam....
Sekali lagi terimakasih kepada pak Ichan yang telah memforward artikel dari Moqsiht yang bulshit itu, dan saya dapat memberi penjelasan dalam forum kahmi yang mulia ini, semoga tuan Moqshit dapat membaca penjelasan ini dan tidak lagi semaunya membuat kesimpulan dan menulisnya di surat khabar, janganlah masyarakat yang sudah stress ini diracuni pula dengan fitnah tak bertanggung jawab apa lagi dari kaum yang menyatakan diri pembaharu dan liberal yang relatif intelektual.
Langganan:
Postingan (Atom)