Jumat, 09 Januari 2009

Ibu itu bernama Syahrazat Sauqat Al Bachri (Umi Ayat)

Saya terhempas dalam rasa malu, terpuruk dalam keniscayaan eksistensi yang tak berarti. Seolah dikembalikan dalam titik nol masuk sedalam dalamnya keruang hampa.
Seringkali berada pada ruang publisitas yang sebenarnya tak banyak memberi arti hanya kepuasan artifisial. Hanya sedikit yang saya lakukan namun terkadang mendapat gema besar betapa memalukannya.

Melihat perjuangan seorang Ibu, melihat keikhlasan dengan nyata, seperti diberikan cermin yang menampakan seluruh ruang kekotoran hati dan pikiran kita, memberi tamparan pada kebodohan akan kecongkakan.

Awal saya mengenalnya ketika konflik Ambon sedang bergejolak, ibu ini menghampiri sambil bertanya dengan halus, “anda geis chalifah..?” “iya benar bu.” Jawab saya agak terperajat sambil menaruh dokument dokument Al Irsyad yang sedang saya pelajari di sekertariat PP Al Irsyad. Baru beberapa minggu lalu saya resmi menjadi salah satu pengurusnya.
“saya mendengar anda memberi tempat bagi keluarga pengungsi Ambon di khatulistiwa yang di Jalan Pedati.?” Tanyanya lagi. “iya benar” jawab saya lagi sambil menunggu kemana arah pembicaraan ini selanjutnya.
“kalau boleh saya mau minta tolong pertemukan saya dengan keluarga itu, Insya Allah dalam berbagai majelis ta’lim saya ingin salah satu dari keluarga itu menceritakan sendiri apa yang mereka alami di Ambon.” Sambung ibu ini lagi.
Dengan secepat kilat saya mengiyakan. dan semakin mengenalnya semakin terkagum kagum dan respek dengan apa yang dilakukannya.

Ibu ini tak banyak bicara dia hanya meminta pendapat lalu dia kerjakan apa yang dia mampu kerjakan, dan yang dia lakukan sangat melebihi apa yang kita kerjakan.
Satu hari dia berjalan dari gerbong kegerbong kereta melewati para penumpangdengan membagikan sticker gambar calon presiden pilihannya sambil berkata "inilahpresident pilihan kita, inilah president pilihan kita.." Bukan karena wajah sangpresident atau dia mengenalnya, atau punya keinginan tertentu untuk pribadi tapisemata mata hanya panggilan semangat keislamannya.

Di hari lainnya dia berkata dan bertanya tolong tugaskan saya kedesa desa mana saja yang belum tergarap saya bersedia untuk mendatanginya , dengan biaya yang dia cari sendiri pula.
Saya katakan di Jakarta sinipun masih banyak yang dapat kita lakukan dan belum tergarap. Kalau begitu banyak majelis ta’lim saya diberbagai pelosok akan saya datangi semuanya. Besar sekali harapan dan semangatnya untuk menjadikan Amin Rais menjadi President di masa itu.

Seminggu sebelumnya Umi Ayat berkata; akan pergi kesebuah kota di Jawa untuk menyadarkan mereka agar tidak salah memilih, pada saat bertemu lagi Umi Ayat bercerita ; saya baru kembali dari kota itu, namun saya tidak berhasil sulit sekali menyadarkan orang orang itu.
Saya tercengang, kekuatan apa yang ibu ini miliki ? dia berkata dan dia lakukan, tanpameminta tanpa memberi kesan saya sudah berjuang. Dia hanya berkata katasejujurnya apa yang ingin dilakukan dan lalu dilaksanakan dengan sepenuh hati.

Seorang Ibu Tua berjalan dengan tongkat dengan badan yang besar dan pasti melelahkan, namun semuanya menjadi mudah untuknya padahal beliau baru saja keluar dari rumah sakit.

Dalam kesempatan lain setelah Tsunami melanda Aceh Umi Ayat meminta waktu untuk berbicara disebuah forum tentang kebutuhan mesin jahit untuk para perempuan di Aceh. Dimana dia bulak balik melakukan perjalanan kesana untuk sebuah kata.. “EMPATI”.
Umi Ayat memiliki empati bukan dalam basa basi apa lagi sekedar lips service tapi dalam bentuk perbuatan.

Suatu ketika dada saya sempat berdegup kencang ketika Umi Ayat marah dan berteriak, apa pasal ? Dalam sebuah pertemuan di Cilacap yang bertujuan terjadinya islah dalam tubuh PP Al Irsyad. Umi Ayat menghendaki Musyawarah agar masing-masing kubu para ketuanya mengundurkan diri dengan mengganti dengan ketua umum baru yang tidak terlibat dalam konflik. Yusuf Usman Baisa menolak dengan berdalih “inilah demokrasi kita harus mendahulukan hak setiap orang dalam memilih ” dan Umi Ayat pun berteriak dengan lantang. “Yusuf !!! anda berda’wah dimana mana tapi kamu mendahulukan demokrasi ketimbang musyawarah!! !!!” Saya bergetar melihatnya bergetar mendengar teriakan spontan Umi ini yang sudah tak mampu menahan emosinya. Pilihan untuk mundur bagi Hisyam Thalib yg sudah disetujui oleh semua fungsionaris PP demi tercipatnya sebuah perdamaian, namun ditolak oleh Kubu Faruk Zein Bajabir melalui Yusuf Baisa dengan alasan demokrasi. Dan Umi Ayat seorang perempuan lembut hati, tak kuasa menahan emosinya melihat Al Irsyad terpecah belah untuk sebuah kata sakti ; yang bernama EKSISTENSI KELOMPOK dengan alasan demokrasi. Saya menunggu jawaban selanjutnya tapi urung, karena mata Umi yang sangat mencintai Al Irsyad ini, dimana bertahun tahun dia bergelut didalamnya untuk berda’wah kadung basah oleh air mata. Saya melihat senyum kemenangan di wajah para penentangnya, dan getir melihat wajah Umi ini berubah sendu.

Kamis 8 Januari 2009 kami melakukan demo di kedubes Mesir sebagai wujud solidaritas pada bangsa Palestina yang tertindas oleh Isrel. Ketika kami sampai di tempat, sang ibu telah menunggu disana bersama rombongannya. Dia Cuma mendengar dan tanpa bertanya masalah transportasi, logistik dan sebagainya dia ada di sana lebih dulu dari kami.
Dan Umi inipun berorasi, sebuah orasi dengan untaian kata kata yang lahir dari ketulusan dan kasih sayang. Dia mencintai umat Islam dan cinta itu telah memberikannya kekuatan melebihi kemampuan fisiknya.

Dia menggarisi hidupnya untuk sebuah kalimat. BERJUANG UNTUK ISLAM DALAM SETIAP KESEMPATAN.

Umi Ayat.... Izinkan saya mengatakan, Umi adalah simbol ketulusan, keikhlasan,dan kekuatan, dari sedikit orang di masa kini yang berperangai seperti para Umi di 14 abad lalu. Betapa beruntungnya umat islam bila memiliki banyak ibu-ibu seperti Umi Ayat.

Salam.Untuk Nadia dan Helwi juga lainnya yang mengagumi dan mencintai Umi Ayat.

Dibawah ini adalah link video orasi Umi Ayat.
http://www.youtube. com/watch? v=MEivKzjPdAI

Rabu, 19 November 2008

IR Iswan Hasan Bobsaid (Abu Amar) Alias Ajee Gile.

Ir Iswan Hasan Bobsaid (Abu Amar) alias Ajee Gile..

"Ya Jamaah hari ini adalah hari terakhir ana hadir di room mulai besok selama satu bulan penuh ana off" kalimat itu terlontar dari seorang ber ID Ajee Gile dan saya sangat amat tidak meyakininya bahwa Ajee Gile alias Iswan Bobsaid akan berhenti bicara di room karena besok akan mulai Ramadhan. Saya menduga itu hanya lontaran spontan yang tidak akan dilaksanakan dengan kosisten. Namun dugaan saya salah, karena sosok Ajee Gile alias Iswan Bobsaid dengan mulutnya yang seringkali semberono ternyata bersikap istiqomah.

Ajee melewati ramadhan dengan meninggalkan kebiasaan yang setiap hari dilakoninya yaitu bercengkrama di room baik diskusi agama maupun mengolok ngolok siapapun yang ingin dioloknya.
Ramadhan adalan bulan yang mulia dan Ajee memuliakannya dengan hanya "berdialog" pada Tuhannya.

Ajee Gile nama Idnya, sosok yang kontroversial, memiliki pemahaman agama dengan berbagai referensi yang luas disertai kemampuan retorika dengan aksentuasi suara yang khas.

Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Wijaya Kusumah ini terlahir ditahun 1965 di Surabaya. meninggalkan Indonesia di tahun 1990 menuju New Zealand. Setelah bermukim 3 tahun lebih dinegeri yang berdekatan dengan kutub Selatan, Ia kembali ke Surabaya dan menikah dengan seorang wanita bernama Huda Alhibshy 14 tahun lalu. anak dari pasangan Abduraman Hibshy dan Tin Alamudi. Lalu memulai hidupnya menjadi warga Australia dan sampai saat ini bermukim di Melborne.

Ayah tiga anak ini, Amer, Amani dan Inayah. Selalu tampil atraktif, tak ada hari tanpa canda yang terkadang membuat merinding orang yang mendengarnya, kadang membuat menangis wanita yang di godanya. Namun dilain waktu dengan serius pula Abu Amar (Iswan Bobsaid) menerangkan berbagai pendapat ulama tersohor mengenai satu masalah agama dari mulai Shaikh Saltut, Ibnu Taimiyah, sampai pada Yusuf Qordawi. Kegemarannya membaca buku dan kapasitas memorinya yang luar biasa memberikan kemampuan untuk menerangkan satu masalah dengan jelas dan terang benderang.

Bila banyak orang menerima warisan harta sepeninggalan orang tuanya maka Abu Amar (Ajee Gile) ini mendapatkan puluhan kitab. Dalam berbagai diskusi terlihat jelas bahwa kitab kitab itu dibacanya. Menunjukkan kelasnya sebagai intelektual. Akan tetapi disisi lain dengan tiba-tiba lontaran pernyataannya melenceng jauh dari mengutip pendapat ulama, beralih dengan mengarang sebuah cerita lucu yang berisi ledekan salah seorang di room yang membuat banyak orang terperajat dan tertawa. Karena dari masalah yg sangat serius tiba-tiba berbalik berbicara masalah daster dan body perempuan.

Abu Amar (Iswan Bobsaid) adalah cucu Ami Ali Bobsaid seorang tokoh Jamaah di jawa Timur yang bekedudukan sebagai kapten Arab dimasanya, ada darah ketokohan dalam dirinya, menjadi tak heran bila sosoknya memiliki karakter kewibawaan. Sosok berbadan gempal dengan rambut ikal dan bermuka lebar ini menyukai Tshert dan Jeans dalam berpakaian. Dibalik penampilannya yang nyantai itu terdapat ketajamannya dalam berfikir.

Ajee Gile idiomnya, memang sesuai dengan karakternya yang akan membuat orang merasa heran mendengar gaya bicaranya yang keras tanpa eufemisme. Tak ada penghalusan kata semua dinyatakan dengan langsung tanpa tedeng aling aling, ketersinggungan bukanlah bagian dari dirinya demikian pula sebaliknya tak ada kesan empati dari dirinya dalam menyatakan sesuatu.

Namun dibalik image kontroversial yang dibangun pada dirinya, tak banyak yang tahu bahwa Iswan Bobsad alias Ajee Gile memiliki empati yang luar biasa terhadap nasib orang lain yang kurang beruntung, tangannya selalu terlepas. Dia memperhatikan orang orang yang dikenalnya lama dan dengan tanpa banyak bertanya dia mengirimkan kiriman untuk orang orang yang sedang kesulitan. Seorang wanita setengah baya yang memelihara beberapa anak yatim tak luput dari uluran tangannya.

Bravo Ajee. Hidup memang tidak harus lurus apa lagi "menuhankan" image dimata manusia, biarkan hanya Allah yang tau apa dan bagaimana kita sebenarnya.

Selasa, 11 November 2008

Sara jaiz (Bunda)

Sebuah room di yahoo messenger telah membangun pertemanan, keakraban dan solidaritas. Sebuah ruang confrence yang hanya diisi dengan suara telah memberi ruang interaksi yang intensif yang melahirkan hubungan kekerabatan.
Berbagai macam karakter berada didalamnya dari penda'wah sampai pembanyol, dari pendebat sampai yang hanya masuk untuk mendengar. Dari "pendongeng berita" sampai pencari jodoh. Dunia maya memberi ruang untuk setiap orang beraktualisasi tanpa harus bersiap dengan penampilan fisik.

Diantara berbagai karakter didalamnya terdapat sosok unik, seorang ibu bernama Sara Jaiz lebih dikenal dengan sebutan Bunda. Ibu yang telah memiliki cucu ini tinggal di Belanda, menggemari warna merah, dari ruang depan sampai ruang tamu rumahnya dicat dengan warna merah, dengan lampu lampu yang juga dilapisi kain berwarna merah. Seorang ibu yang apik tidak hanya apik pada dirinya tapi juga kebersihan rumahnya, sebuah bangku leter L berwarna coklat susu mengisi ruang dalam untuk tamu yang datang dan terdapat puluhan bantal kecil yang menghiasi keberadaan ruang tamu tersebut.

Satu lemari khusus disediakan untuk berbagai asesoris, mulai kalung, gelang hingga tas berbagai macam model tersimpan rapih, satu lemari lainnya tersusun berbagai sepatu dan sandal. Bunda (Sara Jaiz) yang sering menyatakan dirinya perempuan berkonde dan berkain wiron, seperti yang sering selalu dikatakannya sebagai simbol perumpaan wanita jaman dulu, menurut berbagai info sangat jauh berbeda dengan aselinya bunda selalu tampil aksi dan fashionable.

Kehadirannya di room selalu ditunggu oleh banyak orang, baik lelaki dan perempuan, tutur katanya yang mengalir dengan lancar sering kali pula tidak memperdulikan titik maupun koma merupakan ciri khasnya. Dia memiliki kemampuan untuk memberi warna lain diantara debat kaum lelaki yang kadang tak berujung pangkal, ditengah perdebatan serius berbagai macam topik tak jarang bunda mengomel tentang Valerio (cucunya) yang sedang menarik narik kabel komputer dengan marah karena sang nenek sedang asik bercengkrama di room. Menimbulkan senyum bagi yang mendengar dan membayangkan keriuhan yang terjadi disebuah rumah diseberang lautan sana.

Perempuan asal solo ini memiliki keberanian luar biasa, dia hidup mandiri di negeri Keju dan selalunya siap menghadapi tantangan apapun bentuknya. Namun didalam keberaniannya sebagai perempuan mandiri dia juga sangat takut dengan setan yang membuat dia takut tidur sendiri bila rumahnya sedang tak ada orang lain.

Bunda Nandaku IDnya, selalunya mengasosiasikan dirinya sebagai wanita tua, selalunya memberi nasehat sekaligus juga gemar bercanda dan semua orang digodanya. Namun demikian semua orang menghormatinya, ditengah keceriaan dan candanya terdapat ketulusan suaranya.

Setiap bunda hadir maka selalunya dia menyanyi, suaranya memang merdu terkadang lirih, dan hampir semua lagu yang dinyanyikan adalah lagu lama dari ingatan semasa di Solo ketika radio ABC milik PC Al irsyad Solo masih berjaya.

Kini kurasa semua kau lupakan sudah
hatimu tergoda akan harta dan permata
bukahkah semua itu hiasan belaka
hidup bahagia bukanlah karena benda.
hidup penuh kasih sayang itulah milikku
jadikan benda berharga disepanjang masa bukankah tujuan kita.


Satu syair yang sering dibawakan bunda terkadang memecah kesunyian room dimana semua orang terdiam dan menikmati suaranya.

Teruslah mengoceh dan bernyanyi bunda, karena dunia butuh orang seperti bunda.

Senin, 01 September 2008

Geis Chalifah Membedakan Lawan Dengan Musuh Oleh Anies Baswedan.


Kata pengantar Buku Esai Esai Perubahan Budaya Arab.
Oleh DR Anies Baswedan

Geis Chalifah sedang membuka diri dan berkontemplasi tentang perubahan sosial dan budaya komunitasnya. Begitu kesan saya begitu selesai membaca manuskrip kumpulan essai karya Geis ini. Ketika Geis bercerita tentang rumah-rumah di masa lalu, ada nuansa nostalgik disana. Di dalam essai-essai ini terlihat jelas observasinya tentang transisi budaya dan sosial. Sesekali terasa penolakan terhadap perubahan; terutama saat perubahan itu disejajarkan dengan degradasi. Padahal kita tahu bahwa komunitas dan budaya itu memang pada dasarnya dinamis. Sebagian lagi diwarnai –semacam- kegerutuan dan kegemasan, terlebih ketika Geis memaparkan kemandegan pandangan kultural. Tapi, pada prinsipnya, terlihat jelas kuatnya pengaruh dan aroma nuansa pribadi Geis dalam kumpulan essai ini.

Pengetahuan, pengalaman dan persentuhan Geis dengan komunitas keturunan Arab –khususnya di Jakarta- tentu saja bersifat pribadi dan spesifik. Dan melalui kumpulan essai ini Geis memilih untuk membaginya dengan publik. Bagi pembaca yang memiliki pengalaman dan persentuhan yang mirip dengan Geis, maka kumpulan essai ini bisa menjadi reflektif sifatnya. Sebaliknya, essai ini bisa informatif –atau justru malah terasa asing- bagi pembaca yang tidak memiliki latar belakang dan konteks pengetahuan tentang masyarakat keturunan Arab.

Bagi saya sendiri yang tidak tumbuh di tengah-tengah masyarakat keturunan Arab, sebagian dari fenomena yang diilustrasikan dalam essai-essai ini terasa asing tetapi informatif. Karena itu saya memandang kumpulan essai ini merupakan keberanian Geis untuk membagi pengalaman, pengetahuan dan observasi walau sebagian berada di wilayah private.

Keberanian untuk berbagi pandangan pribadi dan kemampuan mengisolasi konflik pemikiran dari konflik pribadi mungkin memang merupakan ciri Geis. Karena itu ketika saya diminta menuliskan kata pengantar, saya merasa kumpulan essai ini tidak perlu muqaddimah, kumpulan essai ini adalah deretan narasi yang bisa berdiri sendiri. Lalu mengapa saya menuliskan kata pengantar ini? Menurut saya, essai-essai disini merupakan ungkapan perasaan dan pemikiran penulisnya yang perlu dilihat dalam konteks kemampuan mengelola perbedaan, apalagi sebagian dari essai-nya diiringi dengan gelontoran kritik. Jadi bukan isi essai-essai itu yang perlu muqaddimah tetapi keberanian untuk mengartikulasikan pengalaman pribadi dan observasi dari Geis itulah yang perlu dijelaskan serta diberi konteks melalui kata pengantar ini.

Saya kenal nama Geis Chalifah ketika saya sedang kuliah pasca sarjana di Amerika Serikat. Suatu saat ada perdebatan sengit di milis antara Geis Chalifah dengan Hamid Basyaib. Perdebatan itu terdokumentasi rapi oleh Hamid, di milis Kahmi-Pro yang dikelola oleh Ichsan Loulembah.

Dalam polemik itu Hamid Basyaib secara konfrontatif dan terang-terangan menyebutkan Geis sebagai contoh manusia inkonsisten. Dan, dengan gayanya yang khas, Hamid menebarkan kesan betapa konyolnya argumen Geis. Dalam salah satu tulisannya, sebagai contoh, Hamid menulis, ”Berbeda dari kelaziman (artinya: orang biasanya bereaksi keras terhadap kesalahan), Geis meraung-raung justru terhadap kebenaran.” Tulisan tulisan Hamid terhadap Geis itu terasa seperti tonjokan yang menyakitkan. Dan, balasan dari Geis terhadap Hamid juga tak kalah keras. Bila keduanya sudah bertempur argumen di milis, maka ratusan peserta milis itu serasa menahan nafas, menyaksikan baku tinju argumentasi mereka berdua. Mungkin sebagian merasa ngilu saat membaca argumentasi yang dikemas dengan kata-kata tajam dan menyengat. Milis terasa sepi, warganya tiarap kolektif menghindari peluru nyasar dari mereka berdua.

Hamid Basyaib adalah tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL). Pemikirannya liberal dan diartikulasikan secara lugas. Latar belakangnya di dunia jurnalistik membuat Hamid memiliki credential solid dalam soal tulis menulis. Tulisannya analitis dan tajam. Geis Chalifah adalah tokoh pemuda Al-Irsyad dan aktif sebagai Direktur Yayasan Rahmatan Lil Alamin. setelah sebelumnya aktif di HMI dan ketua Unit Kerohanian Mahasiswa Islam Jayabaya. Geis adalah seorang aktivis tulen. Ghirah perjuangan Islamnya terasa kuat dan artikulatif.

Hamid dan Geis memiliki alur pemikiran yang bersebrangan dan berbenturan. Melihat latar belakang dan garis gagasannya maka bukan hal yang aneh kalau mereka berdua sering bertumbukan dan baku serang argumentasi. Dan sudah lama mereka sering saling sengat.

Bila Hamid mengkritik Geis di depan milis, maka Geis-pun bisa menyerang dengan sengatan yang tajam. Misalnya, suatu ketika Faizal Motik baru saja berkenalan dan ngobrol dengan Hamid Basyaib. Dia lalu ketemu Geis dan menceritakan bahwa Hamid itu ternyata pribadi yang menyenangkan. Mendengar cerita itu Geis lalu berkomentar, ”yang namanya setan itu ya memang selalu menyenangkan.” Singkat dan keras. Bukan hanya itu, Geis kemudian menceritakan sendiri komentarnya ini pada Hamid. Dia tidak hanya membicarakan Hamid ”dari belakang” tapi dia sampaikan terus terang pada Hamid.

Menurut pandangan umum dan awam mereka berdua adalah musuh bebuyutan. Sewajarnya bila mereka berdua tidak bisa duduk semeja. Kebiasaan yang biasa dipraktekkan bila ada dua individu berseberangan semacam ini adalah keduanya saling tebar fitnah. Tapi inilah uniknya. Dalam keseharian yang senyatanya, Geis dan Hamid tidak bermusuhan. Ya, mereka memang berlawanan tapi mereka tidak bermusuhan. Geis melawan Hamid tapi Hamid bukan musuh Geis. Sebagai pribadi, tali silaturahmi mereka tidak putus. Sehingga dalam kesehariannya mereka sering pergi bersama, makan dan ngobrol bersama, atau mereka saling jemput untuk pergi ke pertemuan yang sama. Mereka bisa duduk berdua seperti tidak pernah baku hantam argumentasi. Dan itu bukan berarti Geis dan Hamid telah berdamai dalam urusan pendapat dan gagasan. Sampai sekarangpun mereka masih konsisten untuk saling sengat dan baku hantam argumentasi.

Bagi kebanyakan umat Islam dan umumnya masyarakat di Indonesia, fenomena macam ini adalah fenomena yang jarang ada. Umumnya perbedaan itu diasosiasikan dengan permusuhan. Permusuhan lalu dibesarkan, disuburkan dan dilanggengkan dengan mengubur fakta dan membangun fitnah. Lawan hampir selalu dianggap musuh. Geis dan Hamid membuktikan bahwa lawan bisa tetap teman dan tidak harus jadi musuh.

Dalam konteks untuk membangun kemampuan dan kemauan berbeda pendapat secara dewasa maka kumpulan essai karya Geis ini perlu dipahami. Sebagian dari essai di buku ini mungkin akan menimbulkan perdebatan. Sebagian analisa dalam esai-esai ini terasa simplistik dan tidak tuntas. Saya sendiri tidak selalu setuju dengan analisa dan deskripsi yang ditulis oleh Geis di buku ini. Tetapi karena buku ini adalah kumpulan essai ekspresi pribadi, bukan buku analisa transformasi sosial yang dibedah secara teoretis dari perspektif sosiologis dan antropologis, maka essai-essai Geis ini terbebas dari tuntutan agar tampil teoretis, komprehensif, analitis dan mendalam. Buku ini adalah kumpulan essai pribadi yang secara ringan dan santai membawa pembacanya untuk reflektif.

Meski begitu bila ada yang akan memperdebatkan maka biarlah perdebatan itu muncul. Hangatnya perdebatan sering bisa mencerdaskan asal diiringi dengan kemauan dan kemampuan untuk mengelola perbedaan pandangan. Dalam konteks kemampuan mengelola perbedaan inilah kita bisa menghargai langkah Geis Chalifah untuk menceritakan observasinya, pengalamannya dan pandangannya melalui kumpulan essai. Mudah-mudahan, kumpulan essai ini bisa merangsang observasi lain dan perdebatan baru yang menarik dan mencerdaskan. Selamat membaca

http://kolomkalam.kerincikab.go.id/read/kolom/144/membedakan.lawan.dengan.musuh.html

Sabtu, 23 Agustus 2008

Sebuah Majlas di Yahoo Messenger

Sebuah Majlas di Yahoo Messenger

Beberapa minggu ini hampir setiap hari saya terlibat diskusi dengan banyak orang, mayoritas pesertanya adalah jamaah yang umumnya dari Jawa Timur. Dan hampir mayoritasnya pula saya tak pernah mengenal nama maupun wajah. Bahkan tak punya kaitan masa lalu baik dalam pertemanan maupun kekerabatan. Hanya sebuah kebetulan yang tak disengaja yang kemudian berlanjut menjadi "Majlas" jamaah dalam ruang berlatar tekhnologi.
Masing masingnya tak perlu keluar rumah, tak perlu ada tuan rumah yang yang harus menyajikan kopi, teh maupun makanan kecil lainnya. Karena semua bermajlas dari rumahnya masing masing yang bertemu melalui ID atau alamat email yang berserver Yahoo.

Ada banyak hal positif karena "Majlas" ini berbasis tekhnologi internet yang biayanya relatif murah dibanding berhubungan melalui telepon yang pesertanyapun sangat terbatas, majlas ini bisa mengikutsertakan lebih dari 10 orang bahkan bisa jauh diatasnya.
Pesertanya dari berbagai kota kota didunia ada yang di Amsterdam, Newyork, Sidney, Riyadh, Tokyo dan dari berbagai belahan didunia lainnya.

Banyak hal didiskusikan dalam Majlas ini, dari ekonomi, politik, sejarah, dan tentu saja agama, perkembangan Al Irsyadpun menjadi topik yang cukup mendominasi isue isue aktual dalam pertemuan yaang hanya mengandalkan kejernihan suara melalui head set komputer.

Tekhnologi telah mempersempit jarak komunikasi dalam arti sebenarnya, tak lagi dipisahkan batas batas geografis, dan kedekatan tak lagi dibangun melalui pertemuan phisik.

Dari majlas ini terkesan bahwa sebagian besar para jamaah itu telah menjadi masyarakat Internasional dalam arti tak lagi memikirkan untuk tinggal atau balik kembali untuk menetap di tanah Air. Kesan puas pada pekerjaan dan penggahargaan pada kemanusiaan masing masing individu dalam menjalani kehidupan, terutama yang menetap dari negara Australi, Amerika dan beberapa negara Eropa pada umumnya, yang seringkali kita persempit dengan satu kata " Barat" sangat nampak dan terekspresi dalam bercerita tentang kota dan pekerjaannya. Pepatah yang menyatakan walau hujan emas dinegeri orang dan hujan batu dinegeri sendiri tetap lebih enak tingal dinegeri sendiri. Menjadi pepatah kuno yang tak lagi memiliki kekuatan empiris hanya slogan kosong yang tak banyak memiliki arti.

Sebuah room di Yahoo messenger telah menutup sebuah kekosongan budaya, kebiasaan bermajlas yang telah berurat berakar dalam kultrur jamaah bisa tetap berlangsung melalui tekhnologi ini. Walaupun tidak lagi bertempat tinggal dalam satu wilayah.

Saya tak tahu masing masing dari anggota majlas itu sekolah dimana dan bergelar apa, namun dalam berbagai diskusi yang saya ikuti. Sebagian besar memiliki ketajaman intelektual dan memiliki banyak referensi, berbeda dalam berbagai majlas jamaah pada umumnya yang biasanya memiliki penyakit kronis berupa "ASMA" (Asal Mangap). Dalam room ini harus ekstra hati hati karena sedikit saja salah dalam memberi argument, maka argumentasi yang jauh lebih kuat akan segera muncul mematahkan argumentasi lainnya yang lemah yang tanpa memiliki kekuatan referensi. Karena tanpa memerlukan adanya kehadiran secara fisik maka ungkapan ungkapan seringkali bersifat lugas. Dikarenakan kita tak pernah tahu ekspresi lawan bicara apakah merah padam atau wajar wajar saja.

Ada satu kelemahan dari "majlas" yang berpola seperti ini, sebahagian kecil tidak memiliki "kejujuran" untuk tampil dengan apa adanya dalam arti memberi identitas diri yang jelas. Kesan Yahoo adalah tempat berharat marat seolah menjadi pembenaran untuk "mengelabui" orang lain agar tak tahu siapa dia sebenarnya kecuali sepotong alamat ID yang tak bersangkut paut dengan identitas yang genuin dan namapun seringkali diganti dengan nama lain yang bukan nama sebenarnya

Saya memiliki kebiasaan dalam setiap diskusi dalam berbagai milis yang saya ikuti, tak mau melayani bantahan seseorang yang hanya menyertakan alamat email yang seringkali bukan namanya, demikian pula dalam menjawab PM yang datang ke ID saya. Selalunya terlebih dahulu meminta pengirim PM untuk memberi idetitas yang jelas.
Karena dimanapun kita berada baik di alam maya maupun dialam nyata, kejujuran adalah hal yang utama terlebih identitas diri kita sendiri. Karena hidup dalam ruang gelap yang menjadi abu-abu bagi orang lain tidaklah menyenangkan. Terutama untuk saya pribadi.