Sebuah room di yahoo messenger telah membangun pertemanan, keakraban dan solidaritas. Sebuah ruang confrence yang hanya diisi dengan suara telah memberi ruang interaksi yang intensif yang melahirkan hubungan kekerabatan.
Berbagai macam karakter berada didalamnya dari penda'wah sampai pembanyol, dari pendebat sampai yang hanya masuk untuk mendengar. Dari "pendongeng berita" sampai pencari jodoh. Dunia maya memberi ruang untuk setiap orang beraktualisasi tanpa harus bersiap dengan penampilan fisik.
Diantara berbagai karakter didalamnya terdapat sosok unik, seorang ibu bernama Sara Jaiz lebih dikenal dengan sebutan Bunda. Ibu yang telah memiliki cucu ini tinggal di Belanda, menggemari warna merah, dari ruang depan sampai ruang tamu rumahnya dicat dengan warna merah, dengan lampu lampu yang juga dilapisi kain berwarna merah. Seorang ibu yang apik tidak hanya apik pada dirinya tapi juga kebersihan rumahnya, sebuah bangku leter L berwarna coklat susu mengisi ruang dalam untuk tamu yang datang dan terdapat puluhan bantal kecil yang menghiasi keberadaan ruang tamu tersebut.
Satu lemari khusus disediakan untuk berbagai asesoris, mulai kalung, gelang hingga tas berbagai macam model tersimpan rapih, satu lemari lainnya tersusun berbagai sepatu dan sandal. Bunda (Sara Jaiz) yang sering menyatakan dirinya perempuan berkonde dan berkain wiron, seperti yang sering selalu dikatakannya sebagai simbol perumpaan wanita jaman dulu, menurut berbagai info sangat jauh berbeda dengan aselinya bunda selalu tampil aksi dan fashionable.
Kehadirannya di room selalu ditunggu oleh banyak orang, baik lelaki dan perempuan, tutur katanya yang mengalir dengan lancar sering kali pula tidak memperdulikan titik maupun koma merupakan ciri khasnya. Dia memiliki kemampuan untuk memberi warna lain diantara debat kaum lelaki yang kadang tak berujung pangkal, ditengah perdebatan serius berbagai macam topik tak jarang bunda mengomel tentang Valerio (cucunya) yang sedang menarik narik kabel komputer dengan marah karena sang nenek sedang asik bercengkrama di room. Menimbulkan senyum bagi yang mendengar dan membayangkan keriuhan yang terjadi disebuah rumah diseberang lautan sana.
Perempuan asal solo ini memiliki keberanian luar biasa, dia hidup mandiri di negeri Keju dan selalunya siap menghadapi tantangan apapun bentuknya. Namun didalam keberaniannya sebagai perempuan mandiri dia juga sangat takut dengan setan yang membuat dia takut tidur sendiri bila rumahnya sedang tak ada orang lain.
Bunda Nandaku IDnya, selalunya mengasosiasikan dirinya sebagai wanita tua, selalunya memberi nasehat sekaligus juga gemar bercanda dan semua orang digodanya. Namun demikian semua orang menghormatinya, ditengah keceriaan dan candanya terdapat ketulusan suaranya.
Setiap bunda hadir maka selalunya dia menyanyi, suaranya memang merdu terkadang lirih, dan hampir semua lagu yang dinyanyikan adalah lagu lama dari ingatan semasa di Solo ketika radio ABC milik PC Al irsyad Solo masih berjaya.
Kini kurasa semua kau lupakan sudah
hatimu tergoda akan harta dan permata
bukahkah semua itu hiasan belaka
hidup bahagia bukanlah karena benda.
hidup penuh kasih sayang itulah milikku
jadikan benda berharga disepanjang masa bukankah tujuan kita.
Satu syair yang sering dibawakan bunda terkadang memecah kesunyian room dimana semua orang terdiam dan menikmati suaranya.
Teruslah mengoceh dan bernyanyi bunda, karena dunia butuh orang seperti bunda.
Selasa, 11 November 2008
Senin, 01 September 2008
Geis Chalifah Membedakan Lawan Dengan Musuh Oleh Anies Baswedan.

Kata pengantar Buku Esai Esai Perubahan Budaya Arab.
Oleh DR Anies Baswedan
Geis Chalifah sedang membuka diri dan berkontemplasi tentang perubahan sosial dan budaya komunitasnya. Begitu kesan saya begitu selesai membaca manuskrip kumpulan essai karya Geis ini. Ketika Geis bercerita tentang rumah-rumah di masa lalu, ada nuansa nostalgik disana. Di dalam essai-essai ini terlihat jelas observasinya tentang transisi budaya dan sosial. Sesekali terasa penolakan terhadap perubahan; terutama saat perubahan itu disejajarkan dengan degradasi. Padahal kita tahu bahwa komunitas dan budaya itu memang pada dasarnya dinamis. Sebagian lagi diwarnai –semacam- kegerutuan dan kegemasan, terlebih ketika Geis memaparkan kemandegan pandangan kultural. Tapi, pada prinsipnya, terlihat jelas kuatnya pengaruh dan aroma nuansa pribadi Geis dalam kumpulan essai ini.
Pengetahuan, pengalaman dan persentuhan Geis dengan komunitas keturunan Arab –khususnya di Jakarta- tentu saja bersifat pribadi dan spesifik. Dan melalui kumpulan essai ini Geis memilih untuk membaginya dengan publik. Bagi pembaca yang memiliki pengalaman dan persentuhan yang mirip dengan Geis, maka kumpulan essai ini bisa menjadi reflektif sifatnya. Sebaliknya, essai ini bisa informatif –atau justru malah terasa asing- bagi pembaca yang tidak memiliki latar belakang dan konteks pengetahuan tentang masyarakat keturunan Arab.
Bagi saya sendiri yang tidak tumbuh di tengah-tengah masyarakat keturunan Arab, sebagian dari fenomena yang diilustrasikan dalam essai-essai ini terasa asing tetapi informatif. Karena itu saya memandang kumpulan essai ini merupakan keberanian Geis untuk membagi pengalaman, pengetahuan dan observasi walau sebagian berada di wilayah private.
Keberanian untuk berbagi pandangan pribadi dan kemampuan mengisolasi konflik pemikiran dari konflik pribadi mungkin memang merupakan ciri Geis. Karena itu ketika saya diminta menuliskan kata pengantar, saya merasa kumpulan essai ini tidak perlu muqaddimah, kumpulan essai ini adalah deretan narasi yang bisa berdiri sendiri. Lalu mengapa saya menuliskan kata pengantar ini? Menurut saya, essai-essai disini merupakan ungkapan perasaan dan pemikiran penulisnya yang perlu dilihat dalam konteks kemampuan mengelola perbedaan, apalagi sebagian dari essai-nya diiringi dengan gelontoran kritik. Jadi bukan isi essai-essai itu yang perlu muqaddimah tetapi keberanian untuk mengartikulasikan pengalaman pribadi dan observasi dari Geis itulah yang perlu dijelaskan serta diberi konteks melalui kata pengantar ini.
Saya kenal nama Geis Chalifah ketika saya sedang kuliah pasca sarjana di Amerika Serikat. Suatu saat ada perdebatan sengit di milis antara Geis Chalifah dengan Hamid Basyaib. Perdebatan itu terdokumentasi rapi oleh Hamid, di milis Kahmi-Pro yang dikelola oleh Ichsan Loulembah.
Dalam polemik itu Hamid Basyaib secara konfrontatif dan terang-terangan menyebutkan Geis sebagai contoh manusia inkonsisten. Dan, dengan gayanya yang khas, Hamid menebarkan kesan betapa konyolnya argumen Geis. Dalam salah satu tulisannya, sebagai contoh, Hamid menulis, ”Berbeda dari kelaziman (artinya: orang biasanya bereaksi keras terhadap kesalahan), Geis meraung-raung justru terhadap kebenaran.” Tulisan tulisan Hamid terhadap Geis itu terasa seperti tonjokan yang menyakitkan. Dan, balasan dari Geis terhadap Hamid juga tak kalah keras. Bila keduanya sudah bertempur argumen di milis, maka ratusan peserta milis itu serasa menahan nafas, menyaksikan baku tinju argumentasi mereka berdua. Mungkin sebagian merasa ngilu saat membaca argumentasi yang dikemas dengan kata-kata tajam dan menyengat. Milis terasa sepi, warganya tiarap kolektif menghindari peluru nyasar dari mereka berdua.
Hamid Basyaib adalah tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL). Pemikirannya liberal dan diartikulasikan secara lugas. Latar belakangnya di dunia jurnalistik membuat Hamid memiliki credential solid dalam soal tulis menulis. Tulisannya analitis dan tajam. Geis Chalifah adalah tokoh pemuda Al-Irsyad dan aktif sebagai Direktur Yayasan Rahmatan Lil Alamin. setelah sebelumnya aktif di HMI dan ketua Unit Kerohanian Mahasiswa Islam Jayabaya. Geis adalah seorang aktivis tulen. Ghirah perjuangan Islamnya terasa kuat dan artikulatif.
Hamid dan Geis memiliki alur pemikiran yang bersebrangan dan berbenturan. Melihat latar belakang dan garis gagasannya maka bukan hal yang aneh kalau mereka berdua sering bertumbukan dan baku serang argumentasi. Dan sudah lama mereka sering saling sengat.
Bila Hamid mengkritik Geis di depan milis, maka Geis-pun bisa menyerang dengan sengatan yang tajam. Misalnya, suatu ketika Faizal Motik baru saja berkenalan dan ngobrol dengan Hamid Basyaib. Dia lalu ketemu Geis dan menceritakan bahwa Hamid itu ternyata pribadi yang menyenangkan. Mendengar cerita itu Geis lalu berkomentar, ”yang namanya setan itu ya memang selalu menyenangkan.” Singkat dan keras. Bukan hanya itu, Geis kemudian menceritakan sendiri komentarnya ini pada Hamid. Dia tidak hanya membicarakan Hamid ”dari belakang” tapi dia sampaikan terus terang pada Hamid.
Menurut pandangan umum dan awam mereka berdua adalah musuh bebuyutan. Sewajarnya bila mereka berdua tidak bisa duduk semeja. Kebiasaan yang biasa dipraktekkan bila ada dua individu berseberangan semacam ini adalah keduanya saling tebar fitnah. Tapi inilah uniknya. Dalam keseharian yang senyatanya, Geis dan Hamid tidak bermusuhan. Ya, mereka memang berlawanan tapi mereka tidak bermusuhan. Geis melawan Hamid tapi Hamid bukan musuh Geis. Sebagai pribadi, tali silaturahmi mereka tidak putus. Sehingga dalam kesehariannya mereka sering pergi bersama, makan dan ngobrol bersama, atau mereka saling jemput untuk pergi ke pertemuan yang sama. Mereka bisa duduk berdua seperti tidak pernah baku hantam argumentasi. Dan itu bukan berarti Geis dan Hamid telah berdamai dalam urusan pendapat dan gagasan. Sampai sekarangpun mereka masih konsisten untuk saling sengat dan baku hantam argumentasi.
Bagi kebanyakan umat Islam dan umumnya masyarakat di Indonesia, fenomena macam ini adalah fenomena yang jarang ada. Umumnya perbedaan itu diasosiasikan dengan permusuhan. Permusuhan lalu dibesarkan, disuburkan dan dilanggengkan dengan mengubur fakta dan membangun fitnah. Lawan hampir selalu dianggap musuh. Geis dan Hamid membuktikan bahwa lawan bisa tetap teman dan tidak harus jadi musuh.
Dalam konteks untuk membangun kemampuan dan kemauan berbeda pendapat secara dewasa maka kumpulan essai karya Geis ini perlu dipahami. Sebagian dari essai di buku ini mungkin akan menimbulkan perdebatan. Sebagian analisa dalam esai-esai ini terasa simplistik dan tidak tuntas. Saya sendiri tidak selalu setuju dengan analisa dan deskripsi yang ditulis oleh Geis di buku ini. Tetapi karena buku ini adalah kumpulan essai ekspresi pribadi, bukan buku analisa transformasi sosial yang dibedah secara teoretis dari perspektif sosiologis dan antropologis, maka essai-essai Geis ini terbebas dari tuntutan agar tampil teoretis, komprehensif, analitis dan mendalam. Buku ini adalah kumpulan essai pribadi yang secara ringan dan santai membawa pembacanya untuk reflektif.
Meski begitu bila ada yang akan memperdebatkan maka biarlah perdebatan itu muncul. Hangatnya perdebatan sering bisa mencerdaskan asal diiringi dengan kemauan dan kemampuan untuk mengelola perbedaan pandangan. Dalam konteks kemampuan mengelola perbedaan inilah kita bisa menghargai langkah Geis Chalifah untuk menceritakan observasinya, pengalamannya dan pandangannya melalui kumpulan essai. Mudah-mudahan, kumpulan essai ini bisa merangsang observasi lain dan perdebatan baru yang menarik dan mencerdaskan. Selamat membaca
http://kolomkalam.kerincikab.go.id/read/kolom/144/membedakan.lawan.dengan.musuh.html
Sabtu, 23 Agustus 2008
Sebuah Majlas di Yahoo Messenger
Sebuah Majlas di Yahoo Messenger
Beberapa minggu ini hampir setiap hari saya terlibat diskusi dengan banyak orang, mayoritas pesertanya adalah jamaah yang umumnya dari Jawa Timur. Dan hampir mayoritasnya pula saya tak pernah mengenal nama maupun wajah. Bahkan tak punya kaitan masa lalu baik dalam pertemanan maupun kekerabatan. Hanya sebuah kebetulan yang tak disengaja yang kemudian berlanjut menjadi "Majlas" jamaah dalam ruang berlatar tekhnologi.
Masing masingnya tak perlu keluar rumah, tak perlu ada tuan rumah yang yang harus menyajikan kopi, teh maupun makanan kecil lainnya. Karena semua bermajlas dari rumahnya masing masing yang bertemu melalui ID atau alamat email yang berserver Yahoo.
Ada banyak hal positif karena "Majlas" ini berbasis tekhnologi internet yang biayanya relatif murah dibanding berhubungan melalui telepon yang pesertanyapun sangat terbatas, majlas ini bisa mengikutsertakan lebih dari 10 orang bahkan bisa jauh diatasnya.
Pesertanya dari berbagai kota kota didunia ada yang di Amsterdam, Newyork, Sidney, Riyadh, Tokyo dan dari berbagai belahan didunia lainnya.
Banyak hal didiskusikan dalam Majlas ini, dari ekonomi, politik, sejarah, dan tentu saja agama, perkembangan Al Irsyadpun menjadi topik yang cukup mendominasi isue isue aktual dalam pertemuan yaang hanya mengandalkan kejernihan suara melalui head set komputer.
Tekhnologi telah mempersempit jarak komunikasi dalam arti sebenarnya, tak lagi dipisahkan batas batas geografis, dan kedekatan tak lagi dibangun melalui pertemuan phisik.
Dari majlas ini terkesan bahwa sebagian besar para jamaah itu telah menjadi masyarakat Internasional dalam arti tak lagi memikirkan untuk tinggal atau balik kembali untuk menetap di tanah Air. Kesan puas pada pekerjaan dan penggahargaan pada kemanusiaan masing masing individu dalam menjalani kehidupan, terutama yang menetap dari negara Australi, Amerika dan beberapa negara Eropa pada umumnya, yang seringkali kita persempit dengan satu kata " Barat" sangat nampak dan terekspresi dalam bercerita tentang kota dan pekerjaannya. Pepatah yang menyatakan walau hujan emas dinegeri orang dan hujan batu dinegeri sendiri tetap lebih enak tingal dinegeri sendiri. Menjadi pepatah kuno yang tak lagi memiliki kekuatan empiris hanya slogan kosong yang tak banyak memiliki arti.
Sebuah room di Yahoo messenger telah menutup sebuah kekosongan budaya, kebiasaan bermajlas yang telah berurat berakar dalam kultrur jamaah bisa tetap berlangsung melalui tekhnologi ini. Walaupun tidak lagi bertempat tinggal dalam satu wilayah.
Saya tak tahu masing masing dari anggota majlas itu sekolah dimana dan bergelar apa, namun dalam berbagai diskusi yang saya ikuti. Sebagian besar memiliki ketajaman intelektual dan memiliki banyak referensi, berbeda dalam berbagai majlas jamaah pada umumnya yang biasanya memiliki penyakit kronis berupa "ASMA" (Asal Mangap). Dalam room ini harus ekstra hati hati karena sedikit saja salah dalam memberi argument, maka argumentasi yang jauh lebih kuat akan segera muncul mematahkan argumentasi lainnya yang lemah yang tanpa memiliki kekuatan referensi. Karena tanpa memerlukan adanya kehadiran secara fisik maka ungkapan ungkapan seringkali bersifat lugas. Dikarenakan kita tak pernah tahu ekspresi lawan bicara apakah merah padam atau wajar wajar saja.
Ada satu kelemahan dari "majlas" yang berpola seperti ini, sebahagian kecil tidak memiliki "kejujuran" untuk tampil dengan apa adanya dalam arti memberi identitas diri yang jelas. Kesan Yahoo adalah tempat berharat marat seolah menjadi pembenaran untuk "mengelabui" orang lain agar tak tahu siapa dia sebenarnya kecuali sepotong alamat ID yang tak bersangkut paut dengan identitas yang genuin dan namapun seringkali diganti dengan nama lain yang bukan nama sebenarnya
Saya memiliki kebiasaan dalam setiap diskusi dalam berbagai milis yang saya ikuti, tak mau melayani bantahan seseorang yang hanya menyertakan alamat email yang seringkali bukan namanya, demikian pula dalam menjawab PM yang datang ke ID saya. Selalunya terlebih dahulu meminta pengirim PM untuk memberi idetitas yang jelas.
Karena dimanapun kita berada baik di alam maya maupun dialam nyata, kejujuran adalah hal yang utama terlebih identitas diri kita sendiri. Karena hidup dalam ruang gelap yang menjadi abu-abu bagi orang lain tidaklah menyenangkan. Terutama untuk saya pribadi.
Beberapa minggu ini hampir setiap hari saya terlibat diskusi dengan banyak orang, mayoritas pesertanya adalah jamaah yang umumnya dari Jawa Timur. Dan hampir mayoritasnya pula saya tak pernah mengenal nama maupun wajah. Bahkan tak punya kaitan masa lalu baik dalam pertemanan maupun kekerabatan. Hanya sebuah kebetulan yang tak disengaja yang kemudian berlanjut menjadi "Majlas" jamaah dalam ruang berlatar tekhnologi.
Masing masingnya tak perlu keluar rumah, tak perlu ada tuan rumah yang yang harus menyajikan kopi, teh maupun makanan kecil lainnya. Karena semua bermajlas dari rumahnya masing masing yang bertemu melalui ID atau alamat email yang berserver Yahoo.
Ada banyak hal positif karena "Majlas" ini berbasis tekhnologi internet yang biayanya relatif murah dibanding berhubungan melalui telepon yang pesertanyapun sangat terbatas, majlas ini bisa mengikutsertakan lebih dari 10 orang bahkan bisa jauh diatasnya.
Pesertanya dari berbagai kota kota didunia ada yang di Amsterdam, Newyork, Sidney, Riyadh, Tokyo dan dari berbagai belahan didunia lainnya.
Banyak hal didiskusikan dalam Majlas ini, dari ekonomi, politik, sejarah, dan tentu saja agama, perkembangan Al Irsyadpun menjadi topik yang cukup mendominasi isue isue aktual dalam pertemuan yaang hanya mengandalkan kejernihan suara melalui head set komputer.
Tekhnologi telah mempersempit jarak komunikasi dalam arti sebenarnya, tak lagi dipisahkan batas batas geografis, dan kedekatan tak lagi dibangun melalui pertemuan phisik.
Dari majlas ini terkesan bahwa sebagian besar para jamaah itu telah menjadi masyarakat Internasional dalam arti tak lagi memikirkan untuk tinggal atau balik kembali untuk menetap di tanah Air. Kesan puas pada pekerjaan dan penggahargaan pada kemanusiaan masing masing individu dalam menjalani kehidupan, terutama yang menetap dari negara Australi, Amerika dan beberapa negara Eropa pada umumnya, yang seringkali kita persempit dengan satu kata " Barat" sangat nampak dan terekspresi dalam bercerita tentang kota dan pekerjaannya. Pepatah yang menyatakan walau hujan emas dinegeri orang dan hujan batu dinegeri sendiri tetap lebih enak tingal dinegeri sendiri. Menjadi pepatah kuno yang tak lagi memiliki kekuatan empiris hanya slogan kosong yang tak banyak memiliki arti.
Sebuah room di Yahoo messenger telah menutup sebuah kekosongan budaya, kebiasaan bermajlas yang telah berurat berakar dalam kultrur jamaah bisa tetap berlangsung melalui tekhnologi ini. Walaupun tidak lagi bertempat tinggal dalam satu wilayah.
Saya tak tahu masing masing dari anggota majlas itu sekolah dimana dan bergelar apa, namun dalam berbagai diskusi yang saya ikuti. Sebagian besar memiliki ketajaman intelektual dan memiliki banyak referensi, berbeda dalam berbagai majlas jamaah pada umumnya yang biasanya memiliki penyakit kronis berupa "ASMA" (Asal Mangap). Dalam room ini harus ekstra hati hati karena sedikit saja salah dalam memberi argument, maka argumentasi yang jauh lebih kuat akan segera muncul mematahkan argumentasi lainnya yang lemah yang tanpa memiliki kekuatan referensi. Karena tanpa memerlukan adanya kehadiran secara fisik maka ungkapan ungkapan seringkali bersifat lugas. Dikarenakan kita tak pernah tahu ekspresi lawan bicara apakah merah padam atau wajar wajar saja.
Ada satu kelemahan dari "majlas" yang berpola seperti ini, sebahagian kecil tidak memiliki "kejujuran" untuk tampil dengan apa adanya dalam arti memberi identitas diri yang jelas. Kesan Yahoo adalah tempat berharat marat seolah menjadi pembenaran untuk "mengelabui" orang lain agar tak tahu siapa dia sebenarnya kecuali sepotong alamat ID yang tak bersangkut paut dengan identitas yang genuin dan namapun seringkali diganti dengan nama lain yang bukan nama sebenarnya
Saya memiliki kebiasaan dalam setiap diskusi dalam berbagai milis yang saya ikuti, tak mau melayani bantahan seseorang yang hanya menyertakan alamat email yang seringkali bukan namanya, demikian pula dalam menjawab PM yang datang ke ID saya. Selalunya terlebih dahulu meminta pengirim PM untuk memberi idetitas yang jelas.
Karena dimanapun kita berada baik di alam maya maupun dialam nyata, kejujuran adalah hal yang utama terlebih identitas diri kita sendiri. Karena hidup dalam ruang gelap yang menjadi abu-abu bagi orang lain tidaklah menyenangkan. Terutama untuk saya pribadi.
Kamis, 24 Juli 2008
Sang Maestro Hadi Mahdami
Kita merasa memiliki sesuatu setelah kita kehilangan sesuatu itu.
kalimat diatas sangat mengena untuk berbagai hal dalam kehidupan dunia ini, seringkali kita menggampangkan segala sesuatu yang dekat dengan kita atau yang kita miliki. Sesuatu itu baru kita rindukan keberadaannya bila kita sudah kehilangannya.
Sebahagian besar jamaah menyukai samar atau pesta dan sebuah pesta akan bertambah kemeriahannya bila datang seorang seniman tua berumur 80 tahunan. Namun masih gagah, masih pandai memetik gitar dengan tarikan suara yang khas menyanyikan lagu bernada riang berupa pantun jenaka atau bernuansa nasehat.
Seniman itu bernama Hadi Mahdami, saya mengenalnya dengan baik dan relatif sering bertemu, dalam pesta pernikahan ataupun kalau saya sedang mampir ke jalan Wedana (Kampung Melayu) untuk silaturahmi, terkadang ikut menemani bermain gaple bersama jamaah lainnya.
Ami Hadi sangat bersahaja, baik penampilan maupun tutur katanya, keberadaannya menggembirakan setiap orang, baik ketika bermain musik ataupun sekedar berbincang bincang Ami Hadipun sangat suka bercanda. Hampir seluruh Jamaah terutama jamaah Betawi baik muda maupun tua mengenal siapa Hadi Mahdami. Lagu lagunya sangat familiar melintasi berbagai generasi.
Di sekitar tahun 2000 an, Hadi Mahdami merilis kembali album lamanya dan hebatnya album itu dikeluarkan disaat usianya mencapai 86 tahun, suaranya masih merdu dan petikan gitarnyapun masih solid. kaset itu tak begitu banyak hanya sekitar dua ribuan dan dalam waktu singkat kaset itupun habis terjual.
Setiap orang yang membeli selalunya komplain bukan karena albumnya yang tidak bagus namun satu lagu yang sudah menjadi trade marknya ami Hadi tak ada dalam kaset itu, Suami Durhaka. entah kenapa tak masuk dalam album yang direlease ulang disaat usianya 86 tahun.
Ketika vokalis vokalis muda bermunculan Hadi Mahdami tak kehilangan getarannya, dia tidak merasa tersaingi karena memang tak bisa tersaingi oleh siapapun.
Tahun 2004 sang maestro Hadi Mahdami meninggal dunia dirumahnya yang sederhana dibilangan Jalan Wedana Kampung Melayu. Dalam upacara pemakaman yang sederhana ketika jasadnya memasuki liang lahat, dalam hati saya berucap "selamat jalan ami Hadi, selamat jalan orang tua yang baik hati, tanah ini akan menguburkan jasad tapi tidak karya ami' Hadi."
Kini ketika lagu lagu melayu amburadul menyeruak diberbagai radio maupun televisi.
saya lebih suka mendengar lagu-lagu Hadi Mahdami di mobil ketika kemacetan selalu menjadi musuh waktu kita di setiap hari kerja.
lupakanlah dunia dan tenangkanlah jiwa..
jangan muram durja...jangan kau sia sia..
menghabiskan usia yang masih muda belia..
jangan habiskan usia kerna asmara,,,
atau biarkan dirimu dimabuk cinta....
jika air mata untuk kekasih saja...
senyum yang menawan untuk siapa...
untuk aku itu pasti kerlingan mata yang penuh arti..
untuk aku itu pasti kerlingan mata yang penuh arti..
(Hadi Mahdami)
kalimat diatas sangat mengena untuk berbagai hal dalam kehidupan dunia ini, seringkali kita menggampangkan segala sesuatu yang dekat dengan kita atau yang kita miliki. Sesuatu itu baru kita rindukan keberadaannya bila kita sudah kehilangannya.
Sebahagian besar jamaah menyukai samar atau pesta dan sebuah pesta akan bertambah kemeriahannya bila datang seorang seniman tua berumur 80 tahunan. Namun masih gagah, masih pandai memetik gitar dengan tarikan suara yang khas menyanyikan lagu bernada riang berupa pantun jenaka atau bernuansa nasehat.
Seniman itu bernama Hadi Mahdami, saya mengenalnya dengan baik dan relatif sering bertemu, dalam pesta pernikahan ataupun kalau saya sedang mampir ke jalan Wedana (Kampung Melayu) untuk silaturahmi, terkadang ikut menemani bermain gaple bersama jamaah lainnya.
Ami Hadi sangat bersahaja, baik penampilan maupun tutur katanya, keberadaannya menggembirakan setiap orang, baik ketika bermain musik ataupun sekedar berbincang bincang Ami Hadipun sangat suka bercanda. Hampir seluruh Jamaah terutama jamaah Betawi baik muda maupun tua mengenal siapa Hadi Mahdami. Lagu lagunya sangat familiar melintasi berbagai generasi.
Di sekitar tahun 2000 an, Hadi Mahdami merilis kembali album lamanya dan hebatnya album itu dikeluarkan disaat usianya mencapai 86 tahun, suaranya masih merdu dan petikan gitarnyapun masih solid. kaset itu tak begitu banyak hanya sekitar dua ribuan dan dalam waktu singkat kaset itupun habis terjual.
Setiap orang yang membeli selalunya komplain bukan karena albumnya yang tidak bagus namun satu lagu yang sudah menjadi trade marknya ami Hadi tak ada dalam kaset itu, Suami Durhaka. entah kenapa tak masuk dalam album yang direlease ulang disaat usianya 86 tahun.
Ketika vokalis vokalis muda bermunculan Hadi Mahdami tak kehilangan getarannya, dia tidak merasa tersaingi karena memang tak bisa tersaingi oleh siapapun.
Tahun 2004 sang maestro Hadi Mahdami meninggal dunia dirumahnya yang sederhana dibilangan Jalan Wedana Kampung Melayu. Dalam upacara pemakaman yang sederhana ketika jasadnya memasuki liang lahat, dalam hati saya berucap "selamat jalan ami Hadi, selamat jalan orang tua yang baik hati, tanah ini akan menguburkan jasad tapi tidak karya ami' Hadi."
Kini ketika lagu lagu melayu amburadul menyeruak diberbagai radio maupun televisi.
saya lebih suka mendengar lagu-lagu Hadi Mahdami di mobil ketika kemacetan selalu menjadi musuh waktu kita di setiap hari kerja.
lupakanlah dunia dan tenangkanlah jiwa..
jangan muram durja...jangan kau sia sia..
menghabiskan usia yang masih muda belia..
jangan habiskan usia kerna asmara,,,
atau biarkan dirimu dimabuk cinta....
jika air mata untuk kekasih saja...
senyum yang menawan untuk siapa...
untuk aku itu pasti kerlingan mata yang penuh arti..
untuk aku itu pasti kerlingan mata yang penuh arti..
(Hadi Mahdami)
Senin, 14 Juli 2008
Ahmadiyah,Habib, Betawi, KH Abdullah Syafii, Ect,Ect.
Allah hu Akbar Allah hu Akbar Allah Allah hu Akbar...
Kalam suci menentukan ku tuk berjuang..
hidup serentak untuk membela kebenaran..
untuk negara bangsa dan kemakmuran.. hukum Allah tegakkan..
Allah Hu Akbar Allah Hu Akbar Allah Allah Hu Akbar..
putera puteri islam harapan agama...
majulah serentak gemgamkan persatuan... kalam Tuhan..
mari kita memuji mari kita memuja..
peganglah persatuan..kalam Tuhan..
Pemuda pemudi islam bangunlah panggilan jihad rampungkan..
wasiat Muhammad peganglah... harta dan jiwa serahkan...
binalah persatuan.. sirnakan perpecahan.. .persatuan ..kalam tuhan
pertikaian menguntungkan musuh tuhan ..
hanya iman tauhid dapat menyatukan.. .
panggilan jihad tirukan ...
ulama pemimpin islam dengarlah... demi agama sadarlah..
hentikan pertikaian.. ciptakan perdamaian.. .
tuntutan agama menjadi tujuan....
panggilan jihad tirukan... panggilan jihad tirukan...
Panggilan Jihad. Radio Assyafiiyah
Asww. Pertama tama saya mohon maaf bila terlambat menanggapi dikarenakan waktu yang tak memungkinkan untuk berkomunikasi melalui milis. Namun Doa saya untuk teman teman semua selama di tanah suci tak pernah putus, baik yang saya kenal wajah dan namanya, maupun yang hanya namanya saja.
Dua minggu kemarin hp saya kebanjiran sms mengenai situasi Jakarta dan ada banyak email melalui Japri tentang Habib Rizieq Shihab dan FPI, Ahmadiyah dan banyak hal lainnya. Jangankan untuk menjawab satu persatu bahkan untuk membacanya saja saya lumayan gagap.
Namun demikian saya ingin menanggapi posting Elza, Tulus, dll dimilis kahmi dan teman teman lainnya yang dikirim melalui japri. Salah satunya yang berjudul Apel Akbar Bubar Setelah Diserbu. yang seolah olah dikesankan saya menyetujui tindakan kekerasan oleh FPI.
Jawaban saya mengenai insiden Monas itu singkat saja. Satu satunya kekerasan yang saya sukai adalah; Bila rudal rudal buatan Rakyat Palestina mengenai tentara Israel yang menindas bangsa Palestina. "Kekerasan" semacam itulah yang saya sukai selebihnya saya tidak suka.
Elza, Mas Tulus dan teman lainnya, dari pertama saudara Saidiman memposting ajakan apel akbar memperingati Hari Lahir Pancasila bersama AKKBB. Saya sudah merasakan ada yang tak beres dengan kegiatan itu, bahkan pada hari H nya saya mendapat sms untuk mengikuti kegiatan tersebut dari nomor yang tidak saya kenali, namun dibawahnya tertulis nama Nong. Ketika saya konfirmasi tak ada jawaban dari sipengirim.. .
Saya cuma berfikir bahwa mereka para penyelenggara Apel Akbar 1 Juni tidak memiliki sensitifitas terhadap masyarakat Jakarta ("Betawi"), atau jangan jangan tidak mengerti apa dan bagaimana masyarakat Jakarta ("Betawi") tempat mereka tinggal.
Saya ingin mengurai sedikit saja mengenai masyarakat Jakarta ini. Dulu di Jakarta ada stasiun radio bernama Radio Asyafiiyah di Bali Matraman tepatnya. Setiap pagi menyiarkan da'wah yang di suarakan oleh Almarhum KH Abdullah Syafii, Setiap memulai siaran, radio itu selalu mengumandangkan lagu berjudul Panggilan Jihad yang teksnya saya tuliskan diatas.
Umi (ibu) saya dan ratusan ribu masyarakat lainnya hafal gelombang radio ini, setiap hari bila ada yang meninggal dunia maka radio ini mengumumkan berita orang yang wafat. Walaupun belum ada hp dimasa itu namun kita dapat dengan cepat mengetahui bila ada kerabat yang meninggal melalui radio Assyafiiyah. Dapat dikatakan sang Kiayi bernama Abdullah Syafii adalah tokoh yang mempersatukan masyarakat Islam di Jakarta melalui radio dan ceramah ceramahnya. (walaupun terkadang saya agak pengeng kuping karena ummi saya selalu menyetelnya keras keras agar anak anaknya bangun untuk sholat subuh :-) ;-) )
KH Abdullah Syafii adalah murid dari Habib Ali Alhabsyi seorang habib yang terkenal dijamannya bertempat di kwitang, sampai saat ini Majelis Ta'limnya masih berjalan diteruskan oleh cucunya bernama Habib Abdurahman Alhabsyi.
Ketika kasus Ahmadiyah marak dalam pemberitaan dan pembelaan terhadap metreka pun mengalir dengan deras, sesungguhnya masyarakat berpeci dan berkoko itu sudah sangat muak. Mereka tidak menyukai kekerasan namun juga tak suka Ahmadiyah didiamkan. Sesungguhnya warna masyarakat Jakarta aselinya adalah yang turun di hari senin kemarin. Mereka adalah masyarakat diam, masyarakat yang tergabung di ribuan Majelis Ta'lim yang dikelola oleh Habaib maupun Ustadz ustadz "betawi" yang umumnya memiliki kedekatan emosional dengan para Habaib, karena sebagian besar mereka adalah murid muridnya. baik langsung ataupun tidak langsung.
Habib Abdurahman Assegaf adalah salah satu contoh seorang guru yang memiliki ribuan murid dan murid muridnya itu menghasilkan murid lagi, bisa diperkirakan berapakah muridnya dia, bila dari umur sebelas tahun beliau mengajar sampai akhir hayatnya diumur 90 tahun lebih. Para Habib di masa itu kebanyakan adalah habib yang tawadhu, semua langkahnya hanya berurusan dengan Syiar Islam dan tak terkait dengan politik dalam arti kepentingan pribadi, oleh karenanya mereka sangat di hormati oleh masyarakat "betawi" ini.
Masyarakat diam itu secara ekonomi tersingkirkan, yang mereka miliki tingal satu yaitu keyakinan keagamaan pada Islam, dimana Rasulullah Muhammad SAW adalah pujaan mereka setiap hari yang disenandungkan melalui shalawatan baik beramai ramai maupun ratiban secara personal. Apa yang dilakukan oleh teman teman di Monas itu secara tidak langsuing sebenarnya adalah "menghina" mereka, "menghina" keyakinan mereka pada Rasulnya.
Mereka Islam "kampung" sama seperti saya, kita kita ini cuma lahirnya saja di metropolitan namun pendidikan Islam masyarakat disini adalah Islam tradisional, saya lahir dan besar dalam suasana itu, mohon maaf Lutfi Assauqani yang " Liberal" itu pada dasarnya sama seperti saya sama seperti kaum berpeci dan berkoko yang turun kejalan dihari senin itu, yaitu islam "kampung" Islam tradisional yang pada intinya tak pelik pelik dalam menghayati Tuhan dan keberadaannya. Cuma Lutfi lagi ganti kulit dan saya tak mau ganti kulit saya tetap lebih suka menjadi Islam "kampung" ketimbang beraneh aneh dalam beragama. Walaupun HMI sedikit banyak telah merubah pemikiran maupun pola ibadah ritual islam saya setelah mahasiswa, namun saya tetap menghormati para Habaib masa lalu yang sudah Almarhum, KH Abdullah Syafii dan Habib Habib lainnya yang masih tawadhu yang tak terjebak dalam interes pribadi, dan ribuan muridnya yang telah mensyiarkan Islam dengan tulus dan ikhlas. Bahkan setelah menjadi pengurus Alirsyad pun saya tetap hadir dalam undangan Maulid ataupun Khaul yang di gelar oleh para habaib itu. (maaf bagi yang anti bid'ah buat saya hubungan kemanusiaan jauh lebih penting ketimbang berpegang secara kaku pada mazhab)). Beberapa efek sosial kegiatan maulid ini sudah saya jelaskan dalam posting terdahulu.
Mayoritas masyarakat "Betawi" di Jakarta berfaham Ahlus Sunnah Waljamaah sama persis dengan fahamnya NU, namun bukan Gusdur yang menjadi panutan disini, panutan masyarakat berpeci dan berkoko di Jakarta adalah KH Abdullah Syafii, Habib Abdurahman Assegaf, Habib Umar bin Hud Al Atas (cipayung) yang semuanya sudah Almarhum.
Itu sebabnya Muhamadiyah, Alirsyad, Persis, tidak laku di masyarakat Jakarta ("Betawi") ini.
Ketika permintaan membubarkan Ahmadiyah telah mulai surut dari pemberitaan, kemudian dari beberapa tokohnya saya mendapat berita bahwa mereka "menyerah" karena tahu persis bahwa pemerintah tak akan membubarkan. Terlebih setelah ada berita tentang empat negara mendatangi DEPAG melalui perwakilannya.
Saya agak aneh melihat undangan apel akbar, untuk apa lagi apel akbar diadakan? untuk apa lagi memberi dukungan pada Achmadiyah dengan membawa massa? yang telah jelas sudah "menang" dari sisi opini, terlebih dengan kegigihan Adnan Buyung Nasution dalam membela Achmadiyah.
Maka ketika FPI melakukan penyerbuan saya tidak merasakan kejanggalan karena provokasi itu sudah dibangun dari sebelum sebelumnya. Bahkan jauh hari sebelumnya saya sudah menulis dimilis kahmi dan lainnya dengan judul "Kampanye Memelorotkan Syariah Islam" yang berisi provokasi pada FPI dan lainnya. Bentrokan itu hanya menunggu waktu saja bahklan kalau bukan dengan FPI akan ada kemungkinan dengan Masyarakat "Betawi" Tanah Abang, atau Condet atau jatinegara tergantung siapa yang mampu menggerakkannya.
Lebih jauh lagi saya ingin bertanya benarkah kaum liberal pembela pluralisme itu marah dengan sikap FPI ? Saya katakan sama sekali tidak. Karena itulah yang mereka inginkan, bentrokan itu memang sudah ditunggu tunggu agar kampanye anti Islam syariah semakin mudah, terlebih dengan dukungan media masa yang demikian kuat bahkan pemilahan beritapun dibuat sedemikian rupa. Semua hanya skenario dan korban yang jatuh dianggap adalah resiko yang harus di tanggung, kira kira seperti demo Mahasiswa 66 dan 98 berharap ada mahasiswa yang mati agar gerakan lebih dramatis dan mendapat dukungan luas.
Saya tidak membenarkan tindakan FPI namun tolong dilihat juga bagaimana tingkah para pendukung Achmadiyah itu, setidaknya punyakah mereka sedikit EMPATI terhadap para "Islam Kampung" yang tak sehebat mereka dalam berfikir pluralisme dan tetek bengek lainnya. Punyakah mereka rasa toleran terhadap kejumudan berfikir kita kita ini yang masih kampungan, tradisional, perlu pencerahan,dsb dsb. Adakah orang orang hebat yang elitis yang Doktoral summa cumlaude mengerti masyarakatnya sendiri.???
Semakin "tinggi" seseorang terkadang semakin tak menginjak bumi....
Kalam suci menentukan ku tuk berjuang..
hidup serentak untuk membela kebenaran..
untuk negara bangsa dan kemakmuran.. hukum Allah tegakkan..
Allah Hu Akbar Allah Hu Akbar Allah Allah Hu Akbar..
putera puteri islam harapan agama...
majulah serentak gemgamkan persatuan... kalam Tuhan..
mari kita memuji mari kita memuja..
peganglah persatuan..kalam Tuhan..
Pemuda pemudi islam bangunlah panggilan jihad rampungkan..
wasiat Muhammad peganglah... harta dan jiwa serahkan...
binalah persatuan.. sirnakan perpecahan.. .persatuan ..kalam tuhan
pertikaian menguntungkan musuh tuhan ..
hanya iman tauhid dapat menyatukan.. .
panggilan jihad tirukan ...
ulama pemimpin islam dengarlah... demi agama sadarlah..
hentikan pertikaian.. ciptakan perdamaian.. .
tuntutan agama menjadi tujuan....
panggilan jihad tirukan... panggilan jihad tirukan...
Panggilan Jihad. Radio Assyafiiyah
Asww. Pertama tama saya mohon maaf bila terlambat menanggapi dikarenakan waktu yang tak memungkinkan untuk berkomunikasi melalui milis. Namun Doa saya untuk teman teman semua selama di tanah suci tak pernah putus, baik yang saya kenal wajah dan namanya, maupun yang hanya namanya saja.
Dua minggu kemarin hp saya kebanjiran sms mengenai situasi Jakarta dan ada banyak email melalui Japri tentang Habib Rizieq Shihab dan FPI, Ahmadiyah dan banyak hal lainnya. Jangankan untuk menjawab satu persatu bahkan untuk membacanya saja saya lumayan gagap.
Namun demikian saya ingin menanggapi posting Elza, Tulus, dll dimilis kahmi dan teman teman lainnya yang dikirim melalui japri. Salah satunya yang berjudul Apel Akbar Bubar Setelah Diserbu. yang seolah olah dikesankan saya menyetujui tindakan kekerasan oleh FPI.
Jawaban saya mengenai insiden Monas itu singkat saja. Satu satunya kekerasan yang saya sukai adalah; Bila rudal rudal buatan Rakyat Palestina mengenai tentara Israel yang menindas bangsa Palestina. "Kekerasan" semacam itulah yang saya sukai selebihnya saya tidak suka.
Elza, Mas Tulus dan teman lainnya, dari pertama saudara Saidiman memposting ajakan apel akbar memperingati Hari Lahir Pancasila bersama AKKBB. Saya sudah merasakan ada yang tak beres dengan kegiatan itu, bahkan pada hari H nya saya mendapat sms untuk mengikuti kegiatan tersebut dari nomor yang tidak saya kenali, namun dibawahnya tertulis nama Nong. Ketika saya konfirmasi tak ada jawaban dari sipengirim.. .
Saya cuma berfikir bahwa mereka para penyelenggara Apel Akbar 1 Juni tidak memiliki sensitifitas terhadap masyarakat Jakarta ("Betawi"), atau jangan jangan tidak mengerti apa dan bagaimana masyarakat Jakarta ("Betawi") tempat mereka tinggal.
Saya ingin mengurai sedikit saja mengenai masyarakat Jakarta ini. Dulu di Jakarta ada stasiun radio bernama Radio Asyafiiyah di Bali Matraman tepatnya. Setiap pagi menyiarkan da'wah yang di suarakan oleh Almarhum KH Abdullah Syafii, Setiap memulai siaran, radio itu selalu mengumandangkan lagu berjudul Panggilan Jihad yang teksnya saya tuliskan diatas.
Umi (ibu) saya dan ratusan ribu masyarakat lainnya hafal gelombang radio ini, setiap hari bila ada yang meninggal dunia maka radio ini mengumumkan berita orang yang wafat. Walaupun belum ada hp dimasa itu namun kita dapat dengan cepat mengetahui bila ada kerabat yang meninggal melalui radio Assyafiiyah. Dapat dikatakan sang Kiayi bernama Abdullah Syafii adalah tokoh yang mempersatukan masyarakat Islam di Jakarta melalui radio dan ceramah ceramahnya. (walaupun terkadang saya agak pengeng kuping karena ummi saya selalu menyetelnya keras keras agar anak anaknya bangun untuk sholat subuh :-) ;-) )
KH Abdullah Syafii adalah murid dari Habib Ali Alhabsyi seorang habib yang terkenal dijamannya bertempat di kwitang, sampai saat ini Majelis Ta'limnya masih berjalan diteruskan oleh cucunya bernama Habib Abdurahman Alhabsyi.
Ketika kasus Ahmadiyah marak dalam pemberitaan dan pembelaan terhadap metreka pun mengalir dengan deras, sesungguhnya masyarakat berpeci dan berkoko itu sudah sangat muak. Mereka tidak menyukai kekerasan namun juga tak suka Ahmadiyah didiamkan. Sesungguhnya warna masyarakat Jakarta aselinya adalah yang turun di hari senin kemarin. Mereka adalah masyarakat diam, masyarakat yang tergabung di ribuan Majelis Ta'lim yang dikelola oleh Habaib maupun Ustadz ustadz "betawi" yang umumnya memiliki kedekatan emosional dengan para Habaib, karena sebagian besar mereka adalah murid muridnya. baik langsung ataupun tidak langsung.
Habib Abdurahman Assegaf adalah salah satu contoh seorang guru yang memiliki ribuan murid dan murid muridnya itu menghasilkan murid lagi, bisa diperkirakan berapakah muridnya dia, bila dari umur sebelas tahun beliau mengajar sampai akhir hayatnya diumur 90 tahun lebih. Para Habib di masa itu kebanyakan adalah habib yang tawadhu, semua langkahnya hanya berurusan dengan Syiar Islam dan tak terkait dengan politik dalam arti kepentingan pribadi, oleh karenanya mereka sangat di hormati oleh masyarakat "betawi" ini.
Masyarakat diam itu secara ekonomi tersingkirkan, yang mereka miliki tingal satu yaitu keyakinan keagamaan pada Islam, dimana Rasulullah Muhammad SAW adalah pujaan mereka setiap hari yang disenandungkan melalui shalawatan baik beramai ramai maupun ratiban secara personal. Apa yang dilakukan oleh teman teman di Monas itu secara tidak langsuing sebenarnya adalah "menghina" mereka, "menghina" keyakinan mereka pada Rasulnya.
Mereka Islam "kampung" sama seperti saya, kita kita ini cuma lahirnya saja di metropolitan namun pendidikan Islam masyarakat disini adalah Islam tradisional, saya lahir dan besar dalam suasana itu, mohon maaf Lutfi Assauqani yang " Liberal" itu pada dasarnya sama seperti saya sama seperti kaum berpeci dan berkoko yang turun kejalan dihari senin itu, yaitu islam "kampung" Islam tradisional yang pada intinya tak pelik pelik dalam menghayati Tuhan dan keberadaannya. Cuma Lutfi lagi ganti kulit dan saya tak mau ganti kulit saya tetap lebih suka menjadi Islam "kampung" ketimbang beraneh aneh dalam beragama. Walaupun HMI sedikit banyak telah merubah pemikiran maupun pola ibadah ritual islam saya setelah mahasiswa, namun saya tetap menghormati para Habaib masa lalu yang sudah Almarhum, KH Abdullah Syafii dan Habib Habib lainnya yang masih tawadhu yang tak terjebak dalam interes pribadi, dan ribuan muridnya yang telah mensyiarkan Islam dengan tulus dan ikhlas. Bahkan setelah menjadi pengurus Alirsyad pun saya tetap hadir dalam undangan Maulid ataupun Khaul yang di gelar oleh para habaib itu. (maaf bagi yang anti bid'ah buat saya hubungan kemanusiaan jauh lebih penting ketimbang berpegang secara kaku pada mazhab)). Beberapa efek sosial kegiatan maulid ini sudah saya jelaskan dalam posting terdahulu.
Mayoritas masyarakat "Betawi" di Jakarta berfaham Ahlus Sunnah Waljamaah sama persis dengan fahamnya NU, namun bukan Gusdur yang menjadi panutan disini, panutan masyarakat berpeci dan berkoko di Jakarta adalah KH Abdullah Syafii, Habib Abdurahman Assegaf, Habib Umar bin Hud Al Atas (cipayung) yang semuanya sudah Almarhum.
Itu sebabnya Muhamadiyah, Alirsyad, Persis, tidak laku di masyarakat Jakarta ("Betawi") ini.
Ketika permintaan membubarkan Ahmadiyah telah mulai surut dari pemberitaan, kemudian dari beberapa tokohnya saya mendapat berita bahwa mereka "menyerah" karena tahu persis bahwa pemerintah tak akan membubarkan. Terlebih setelah ada berita tentang empat negara mendatangi DEPAG melalui perwakilannya.
Saya agak aneh melihat undangan apel akbar, untuk apa lagi apel akbar diadakan? untuk apa lagi memberi dukungan pada Achmadiyah dengan membawa massa? yang telah jelas sudah "menang" dari sisi opini, terlebih dengan kegigihan Adnan Buyung Nasution dalam membela Achmadiyah.
Maka ketika FPI melakukan penyerbuan saya tidak merasakan kejanggalan karena provokasi itu sudah dibangun dari sebelum sebelumnya. Bahkan jauh hari sebelumnya saya sudah menulis dimilis kahmi dan lainnya dengan judul "Kampanye Memelorotkan Syariah Islam" yang berisi provokasi pada FPI dan lainnya. Bentrokan itu hanya menunggu waktu saja bahklan kalau bukan dengan FPI akan ada kemungkinan dengan Masyarakat "Betawi" Tanah Abang, atau Condet atau jatinegara tergantung siapa yang mampu menggerakkannya.
Lebih jauh lagi saya ingin bertanya benarkah kaum liberal pembela pluralisme itu marah dengan sikap FPI ? Saya katakan sama sekali tidak. Karena itulah yang mereka inginkan, bentrokan itu memang sudah ditunggu tunggu agar kampanye anti Islam syariah semakin mudah, terlebih dengan dukungan media masa yang demikian kuat bahkan pemilahan beritapun dibuat sedemikian rupa. Semua hanya skenario dan korban yang jatuh dianggap adalah resiko yang harus di tanggung, kira kira seperti demo Mahasiswa 66 dan 98 berharap ada mahasiswa yang mati agar gerakan lebih dramatis dan mendapat dukungan luas.
Saya tidak membenarkan tindakan FPI namun tolong dilihat juga bagaimana tingkah para pendukung Achmadiyah itu, setidaknya punyakah mereka sedikit EMPATI terhadap para "Islam Kampung" yang tak sehebat mereka dalam berfikir pluralisme dan tetek bengek lainnya. Punyakah mereka rasa toleran terhadap kejumudan berfikir kita kita ini yang masih kampungan, tradisional, perlu pencerahan,dsb dsb. Adakah orang orang hebat yang elitis yang Doktoral summa cumlaude mengerti masyarakatnya sendiri.???
Semakin "tinggi" seseorang terkadang semakin tak menginjak bumi....
Senin, 07 Juli 2008
Jadi Umat Islam di Marahin Melulu
Ada nabi palsu tapi malah di bela sampai demo ber kali kali bahkan buat iklan di Koran, sementara yang gak suka dengan nabi palsu itu di caci maki habis habisan, gak pluralis, gak toleran, gak pancasilais, fundamentalis, puritan, islam kuno, sok benar sendiri. Anehnya lagi manusia beragama lain diajak ikut ikutan membela Ahmadiyah.
Apa urusannya ?
Ada lembaga yang tak jelas kegunaannya untuk bangsa ini, Menteri terkait bahkan sudah teriak untuk menghentikan aktifitas lembaga itu yang bernama Namru 2, Ketika lembaga yang jelas jelas merugikan bangsa ini terkuak keculasannya, anehnya mereka diam saja, gak ada iklan di koran meminta Namru angkat kaki. Iklannya malah ngurusin/membela Ahmadiyah yang bukan bidang mereka plus caci maki pada MUI.
Ironisnya lagi yang dituduh tidak Pancasilais itu malah paling gencar meminta Namru 2 angkat kaki. Yang pancasilais beneran itu yang mana ?
Curiga pada Yahudi yang mengobrak abrik Palestina di bilang rasis. Lha kalau Yahudi lebih banyak yang baiknya kenapa nasib bangsa Palestina makin sengsara.?
Untuk yang namanya kekayaan tega teganya seluruh mata uang berbagai negara dijatuhkan yang berdampak pada ratusan juta manusia jatuh miskin di banyak negara. Manusia dari mana yang tega berbuat seperti itu ? Anehnya lagi manusia tanpa hati nurani itu di puji habis habisan karena kemampuannya dibidang valas, di kutip pendapatnya, dijadikan tamu istimewa untuk menceramahi pembangunan ekonomi.
Irak tanpa alasan yang jelas di bombardil habis habisan, negara kaya minyak itu sekarang hancur-hancuran di kangkangi Amerika, tapi yang dinilai keji selalu saja umat Islam yang udah miskin kayak gini masih aja dimusuhin melulu, lucunya yang ikutan marah pada umat Islam orang orang Islam juga.
Afghanistan makin gak jelas nasibnya, beberapa bulan sekali selalu saja kita mendengar pemboman tentara Amerika yang mematikan anak anak kecil dan perempuan, alasannya memburu teroris tapi yang pada koit kenapa anak anak dan kaum perempuan?
Banyak hal manyangkut umat yang memang harus terus menerus dikritisi agar lebih baik perilakunya, namun kalau berpegang pada akidah itupun masih disalahkan juga.
Beda beda tipis antara mengkritisi atau membenci ..???
Apa urusannya ?
Ada lembaga yang tak jelas kegunaannya untuk bangsa ini, Menteri terkait bahkan sudah teriak untuk menghentikan aktifitas lembaga itu yang bernama Namru 2, Ketika lembaga yang jelas jelas merugikan bangsa ini terkuak keculasannya, anehnya mereka diam saja, gak ada iklan di koran meminta Namru angkat kaki. Iklannya malah ngurusin/membela Ahmadiyah yang bukan bidang mereka plus caci maki pada MUI.
Ironisnya lagi yang dituduh tidak Pancasilais itu malah paling gencar meminta Namru 2 angkat kaki. Yang pancasilais beneran itu yang mana ?
Curiga pada Yahudi yang mengobrak abrik Palestina di bilang rasis. Lha kalau Yahudi lebih banyak yang baiknya kenapa nasib bangsa Palestina makin sengsara.?
Untuk yang namanya kekayaan tega teganya seluruh mata uang berbagai negara dijatuhkan yang berdampak pada ratusan juta manusia jatuh miskin di banyak negara. Manusia dari mana yang tega berbuat seperti itu ? Anehnya lagi manusia tanpa hati nurani itu di puji habis habisan karena kemampuannya dibidang valas, di kutip pendapatnya, dijadikan tamu istimewa untuk menceramahi pembangunan ekonomi.
Irak tanpa alasan yang jelas di bombardil habis habisan, negara kaya minyak itu sekarang hancur-hancuran di kangkangi Amerika, tapi yang dinilai keji selalu saja umat Islam yang udah miskin kayak gini masih aja dimusuhin melulu, lucunya yang ikutan marah pada umat Islam orang orang Islam juga.
Afghanistan makin gak jelas nasibnya, beberapa bulan sekali selalu saja kita mendengar pemboman tentara Amerika yang mematikan anak anak kecil dan perempuan, alasannya memburu teroris tapi yang pada koit kenapa anak anak dan kaum perempuan?
Banyak hal manyangkut umat yang memang harus terus menerus dikritisi agar lebih baik perilakunya, namun kalau berpegang pada akidah itupun masih disalahkan juga.
Beda beda tipis antara mengkritisi atau membenci ..???
Selasa, 01 Juli 2008
Ustadz TV Rusak
Seorang teman yang gregetan dengan perilaku beberapa Ustadz belakangan ini memberi dua kategori; Ustadz, yang satu dinamakan dengan sebutan "Ustadz TV Rusak." Ustadz TV Rusak itu cuma ada suaranya saja, artinya cuma bisa ceramah, terdengar suaranya dengan jelas tapi gambarnya gak ada, Artinya perilakunya tidak sesuai dengan apa yang di ceramahkan. Cuma ada suaranya saja perilakunya tak kelihatan sebagai Ustadz.
Yang satu lagi diibaratkan Ustadz TV Normal, ada suara dan ada gambarnya. Ustadz macam itu antara perkataan dan perbuatan sesuai, akhlaqnya terlihat baik dalam perilaku sehari hari. Ustadz macam itu mengajak orang pada kebaikan dan perilakunya juga sesuai dengan yang dikatakan atau dengan yang diajarkan. Walhasil Ustadz macam itu bisa menjadi contoh baik perkataan maupun perilakunya.
Saya tidak ingin menyebut nama nama siapa siapa Ustadz TV Rusak itu karena saya yakin teman teman dimilis Al Irsyad mahfum ada dimana mereka. Tapi kalau Ustadz yang seperti TV normal itu ada dimilis ini juga namanya Ustadz Zufar Bawazier perilakunya baik, perkataannya lemah lembut tak pernah berkata yang menyudutkan orang lain kecuali yang benar benar musuh Allah.
Ustadz Abdullah Jaidi ketua Umum PP Alirsyad (Semoga Allah meridhoi dan melapangkan hatinya) Adalah juga seorang Ustadz yang termasuk TV Normal, ketika dimilis Al irsyad banyak kritik ditujukan kepadanya jawabannya singkat dan santun "kita memang harus lebih banyak bekerja untuk memperbaiki kondisi ini." Tak ada kemarahan tak ada sanggahan balik hanya menerima dan berusaha memperbaiki keadaan dengan semampunya dia.
Ada lagi seorang Ustadz bernama Ustadz Husin Bin Hamid Alatas berkali kali di fitnah dengan berbagai macam hal bahkan Ustad TV Rusak pernah membuat selebaran gelap tentang dia, dan jawabannya bukan membalas n cacian namun malah mendoakan para pencacinya "Semoga kita semua diampuni oleh Allah, saya memaafkan setiap perkataan atau fitnah orang lain yang negatif pada saya, karena saya tak mau ber lama lama di padang masyar untuk menghitung dosa orang lain."
Berbeda dengan Ustad TV Rusak selain cuma bisa ceramah selebihnya mengkritik kanan kiri seolah olah agama adalah medan persaingan, kebenaran hanya menjadi miliknya sendiri dan kelompoknya. Ironisnya perilakunya sama sekali tak sesuai dengan perkataannya.
Semoga kita terhindar dari perilaku Ustad TV Rusak yang yang kerjanya selalu memecah belah umat Islam.
Yang satu lagi diibaratkan Ustadz TV Normal, ada suara dan ada gambarnya. Ustadz macam itu antara perkataan dan perbuatan sesuai, akhlaqnya terlihat baik dalam perilaku sehari hari. Ustadz macam itu mengajak orang pada kebaikan dan perilakunya juga sesuai dengan yang dikatakan atau dengan yang diajarkan. Walhasil Ustadz macam itu bisa menjadi contoh baik perkataan maupun perilakunya.
Saya tidak ingin menyebut nama nama siapa siapa Ustadz TV Rusak itu karena saya yakin teman teman dimilis Al Irsyad mahfum ada dimana mereka. Tapi kalau Ustadz yang seperti TV normal itu ada dimilis ini juga namanya Ustadz Zufar Bawazier perilakunya baik, perkataannya lemah lembut tak pernah berkata yang menyudutkan orang lain kecuali yang benar benar musuh Allah.
Ustadz Abdullah Jaidi ketua Umum PP Alirsyad (Semoga Allah meridhoi dan melapangkan hatinya) Adalah juga seorang Ustadz yang termasuk TV Normal, ketika dimilis Al irsyad banyak kritik ditujukan kepadanya jawabannya singkat dan santun "kita memang harus lebih banyak bekerja untuk memperbaiki kondisi ini." Tak ada kemarahan tak ada sanggahan balik hanya menerima dan berusaha memperbaiki keadaan dengan semampunya dia.
Ada lagi seorang Ustadz bernama Ustadz Husin Bin Hamid Alatas berkali kali di fitnah dengan berbagai macam hal bahkan Ustad TV Rusak pernah membuat selebaran gelap tentang dia, dan jawabannya bukan membalas n cacian namun malah mendoakan para pencacinya "Semoga kita semua diampuni oleh Allah, saya memaafkan setiap perkataan atau fitnah orang lain yang negatif pada saya, karena saya tak mau ber lama lama di padang masyar untuk menghitung dosa orang lain."
Berbeda dengan Ustad TV Rusak selain cuma bisa ceramah selebihnya mengkritik kanan kiri seolah olah agama adalah medan persaingan, kebenaran hanya menjadi miliknya sendiri dan kelompoknya. Ironisnya perilakunya sama sekali tak sesuai dengan perkataannya.
Semoga kita terhindar dari perilaku Ustad TV Rusak yang yang kerjanya selalu memecah belah umat Islam.
Langganan:
Postingan (Atom)