Senin, 09 Juni 2008

Salam Dari Madinah

ya habib.... salam alaika... ya nabi salam alaika... Ya
Rasul.... salam Alaika....shalawatu llah alaika....

Ada yang tak bisa dijelaskan bila memasuki kota ini kota yg
memiliki sejuta keajaiban sejarah.. terasa nyaman.. terasa
tenang, tapi entah kenapa selalunya saja tidak membangun
keriangan, tapi memecah bola air menurun perlahan melalui
mata, selalu nya ada air mata yg tumpah ketika langkah
kaki menapaki masjid, terlebih ketika maqam tiga manusia
agung tampak didepan mata, ada jarak sejarah yang terentang
jauh, namun terasa sangat dekat karena pesan2 agung
terdengar hampir setiap hari yang mendekatkan jarak
sejarah, seolah cerita keagungan mereka baru kemarin
kemarin terjadi.

Assalamu alaika ya Habibullah, Assalamualaika ya
Rasullullah, Assalamualaika ya Abu Bakri, Assalamualaika
ya Umar Ibnu Khatab.

Madinatul munawarah sebuah kota didunia yg selalunya saja
memanggil dari jauh, selalunya saja lorong lorong masjid
maupun menara menampakan dirinya terutama ketika ramadhan
tiba.

Ada cinta yg tak terjelaskan lewat definisi logika, utak
atik rasio dan dekik dekik teori lainnya yg hampa.

Cuma ada hati yg selalunya saja merindukan bila jarak
waktu terbentang terlalu lama

Ya Rasullullah salamun alaik... ya Habibullah salamun
alaik...

Berdoa & termenung di karpet berwarnarna hijau bernama
Raudhoh.... taman diantara taman surga. disisi maqam tiga
manusia agung.

Terbayang nasib negeri, luruh hati, sesak pikiran, ketika
kaum penista agama para pemfitnah Rasul agung, berdiri
tegak dgn jumawa atas nama kebebasan berkeyakinan. ..

Wahai Rasulullah kekasih hati...Akhlaqmu memancarkan kasih
sayang.. Ajarannmu memberi keselamatan. .. Cintamu terpancar
indah sampai diakhir khayatmu.

Ummati...ummati. ...lirih suarmu menjelang ajal. Nasib
ummatMu menjadi panggilan nurani didetik detik akhir
kehidupan..

Dan kini diantara kami, di antara ummat yang kau cintai,
yang akan kau berikan syafaat diakhir hari kemudian.
Mereka memfitnahmu. .. mereka menistakan ajaran Mu.....

Kami tak rela engkau dinistakan kami tak rela ajaranMu yg
suci diselewengkan.

Wahai Rasul kami, wahai penutup para nabi, syafaatmu
memberi keselamatan, Engkau tak rela bila satu saja
diantara kami memasuki Neraka, Engkau meminta dan memohon
pada Pengutus MU untuk menyelematkan seluruh umat melalui
SyafaatMu...

Wahai junjungan kami... jangan lepaskan kami dari
syafaatmu, jangan tinggalkan kami dari umatMu terdahulu,
Wahai sang pemilik pengorbanan, wahai pemilik kesabaran,
satukan kami diantara umatMU yang kau cintai, satukan kami
dalam syafaatmu...

Minggu, 01 Juni 2008

Ganal Hawa dan Taufik Kiemas

ganal hawa… ganal..…..gana wiramanal hawa ramana…
Urimsyil asmarani syabakna bil hawa …..
Amaranal hawa wina ‘isyna ilisyakbakna yukholisna ya habibi..
Syaghalbali yaba yaba…

Ganal Hawa .
( Abdel Halim Hafeds)

Rabu 28 May 2008 Hamid Basyaib mengajak saya bersama teman teman kahmi pro network untuk melihat pertunjukkan Arabian Music, disebuah restoran di bilangan Jakarta Selatan. Hamid mensponsori sebuah Event Organiser bernama Sigma Production yang dikomandani oleh Amera. Hamid yang saya kenal memang lebih kental warna Arabnya ketimbang Islamnya, jadi tak aneh bila Hamid sangat bersemangat bila terlibat dalam hal seperti ini tak tanggung tanggung dia memborong 50 buah ticket masuk.

Sigma Production merupakan EO yang memang memiliki spesialisasi dalam membuat pertunjukkan Arabian Music, kali ini tak main main, mereka men set up ruangan restoran itu menjadi ruang pertunjukkan yang bonafide dengan design lampu maupun penempatan meja yang disusun dengan artistik. Ketika pertunjukkan dimulai maka melentinglah suara piano dengan ruangan yang sengaja digelapkan, lalu terdengar suara seorang penyanyi yang tak nampak orangnya. Sebagian besar pengunjung mencari dari mana datangnya suara itu, tak lama kemudian dari ujung ruangan ditengah penonton paling belakang, seorang berstelan Jas hitam hitam dengan baju berwarana merah maroon berkulit putih berjalan perlahan sambil menyanyikan syair lagu nashibi dunia. Maka tepuk tanganpun bergemuruh. Sang penyanyi bernama Fuad Balfas.berjalan dengan santai menuju panggung tak tampak kepanikan dalam gerakannya, suaranyapun terdengar merdu dan gayanya sangat rileks persis seperti penyanyi Arab profesional pada umumnya, yang suka kita lihat di siaran TV Timur Tengah melalui Parabola.

Tak banyak waktu jeda yang diberikan pada penonton, pertunjukkan pun mengalir dengan lancar yang dibagi dalam empat sesion, dimulai dengan lagu lagu lama berasal dari Yaman seperti narbu’dak, ana baadba galbi dll, namun tidak seperti pertunjukkan gambus pada umumnya yang terkesan asal saja, dalam penampilan kali ini dari mulai urutan lagu sampai kostum diatur dengan apik, bahkan seluruh pemain dan penyanyi berkostum dengan rapih.

Menurut Fuad Balfas mereka melakukan GR satu hari sebelumnya, dan terus menerus melakukan latihan secara individual dihari hari menjelang pertunjukkan. Acara itu memberi pemahaman pada saya bahwa; anak anak muda itu mampu bekerja secara profesional dibidangnya. Berusaha menunjukkan yang terbaik bakat yang mereka miliki.

Disamping Fuad Balfas terdapat pula vokalis lainnya bernama Anis Shahab anak seorang penulis , yang bukunya saya beli sampai puluhan buah untuk dibagikan kepada kawan kawan. Menurut saya buku itu luar biasa bagusnya berjudul DIALAH MUHAMMAD (SEBUAH NOVEL) ditulis oleh Idrus Shahab yang baru saya tahu malam itu Idrus Shahab adalah ayah dari Anis Shahab.

Anis tampil dengan elegan berstelan jas warna hitam dengan baju hitam bergaris putih, Anis tampil sedikit lebih atraktif dari Fuad namun tak mengurangi keanggunan penampilan mereka berdua.

Sekitar jam sebelas malam sesaat setelah Faisal Motik (bang Ical) senior saya di ISAFIS datang, Taufik Kiemas beserta Indah Dahlan yang baru saja menghadiri acara 1000 harinya CakNur di Taman Ismail Mardjuki memasuki ruangan, bersama kawan lainnya yang umumnya saya kenal sebagian besar adalah aktifis.
Ada Chalid Muhammad mantan ketua umum WALHI yang baru saja pensiun kebetulan juga berdarah Arab, Chalid adalah Al Amri dari Palu.

Menjadi kebiasaan bagi saya untuk mengamati berbagai hal, baik hal yang paling kecil maupun yang besar apalagi acara ini dibuat oleh Jamaah dan diisi oleh kalangan Jamaah pula, dan malam itu saya harus berkata; Ternyata Jamaah bisa bekerja secara professional dalam membuat sebuah acara.

Ketika Kiki Amalia vokalis perempuan menyanyikan lagu Ganal Hawa miliknya Abdul Halim Hafedz. Taufik Kiemas yang mengemari lagu lagu Ummu Kulsum tampak sangat menikmati, ketika lagu itu berakhir dia berdiri dan memberi aplaus pada sang penyanyi. Benar apa kata Indah Dahlan, acara ini memang Taufik Kiemas yang minta setelah Taufik Kiemas mendengar cerita dari Indah Dahlan yang melihat Mustafa Abdullah tampil ditempat yang sama beberapa bulan lalu. Ketika Mc menawarkan lagu apa yang diinginkan oleh Pak Taufik maka seketika meluncur dari mulutnya sebuah judul lagu yang selama ini sudah dikenal luas, Haram Tahibak.

Secara umum konser malam itu dapat dikatakan berjalan bagus dan patut diacungi jempol walaupun terdapat sedikit kekurangan disana sini, dan panitia telah berusaha maksimal agar pertunjukkan itu berjalan sopan. Sebagaimana konser musik yang lebih mengutamakan pertunjukkan musikalisasi musik Arab, ketimbang memfasilitasi sebuah pesta gambus yang cuma membuat tempat untuk banyak orang berjoget. Apa lagi setelah munculnya acara Empat Matanya Tukul di saluran TV Trans 7 satu hari sebelumnya, yang menghebohkan kalangan jamaah itu.(saya mendapat beberapa sms bernada negatif atas acara di TV itu). Susunan lagupun dibuat agar lebih klasik dan sengaja diarahkan untuk megerem gairah penonton untuk tampil didepan berjoget.



Namun diantara ratusan orang yang hadir tentu ada saja satu dua orang yang agak nyeleneh. dan saya tertawa ketika mendengar Hamid Basyaib yang liberal itu menggerutu, ketika satu dua perempuan Jamaah berlaku agak berlebihan malam itu, sekaligus meledeknya “katanya Liberal ada perempuan yang kayak gitu kok kesal..?” Dalam hati saya semakin yakin, mau sok seliberal apapun Hamid itu, tapi Arab tetap saja Arab. Gak bakalan suka ada perempuan berlaku berlebihan didepan umum.???

Minggu, 25 Mei 2008

Sabtu Malam di Galeri Cafe

Salam dari Desa Leo Kristi

Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya padi-padi telah kembang
Ani-ani seluas padang Roda giling berputar-putar siang malam
Tapi bukan kami punya

Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya tebu-tebu telah kembang Putih-putih seluas padang
Roda lori berputar-putar siang malam
Tapi bukan kami punya Anak-anak kini telah pandai menyanyikan gema merdeka
Nyanyi-nyanyi bersama-sama tapi bukan kami punya

Tanah pusaka, tanah yang kaya tumpah darahku Di sana kuberdiri
Di sana kumengabdi dan mati dalam cinta yang suci
Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya nasi tumbuk telah masak Kan kutunggu sepanjang hari kita makan bersama-sama di gubuk sudut dari desa gubuk sudut dari desa

Sabtu malam di Galeri Cafe (eks restoran Venesia) di TIM, saya gak sengaja masuk kesana karena ada undangan untuk makan malam bersama teman teman. Ada group Band yang salah satu pemain dan vokalisnya saya kenal, Amir Mashabi anak petamburan. mereka menyanyikan lagu lagu barat bercampur pop Indonesia kadang juga lagu melayu lama (Mashabian.)

Sekitar jam 10 an malam datanglah Amir Husin Daulai teman lama saya semasa kuliah, dia Aktifis di Unas dan salah satu mahasiswa yang giat dalam membangun pers mahasiswa dimasa itu. Amir masuk ke restoran itu bersama rombongan sekitar 10 orang lebih.
Satu dua teman temannya ikut bernyanyi dan satu orang lagi bernama Reza naik keatas panggung membawa gitar elektrik.

Dan Reza sang pemain gitar memainkan jarinya memetik metik snar, yang lambat lambat saya mencoba mengingat lagu yang dimainkan, ya.. akhirnya saya ingat.. (Gula Galugu Suara Nelayan) salah satu lagu rakyat miliknya Leo Kristi. Agak tercengan cengang karena hampir tidak pernah saya mendengar ada orang menyanyikan lagunya Leo Kristi baik di TV swasta maupun di berbagai restoran apa lagi dimainkan dengan seapik itu,

Selesai dia bernyanyi sayapun berteriak dari belakang, meminta dia bernyanyi Salam dari Desa, gak dinyana seketika itu pula teman teman Amir Husin naik kepanggung membawa Bas ditambah dengan seorang perempuan juga, rupanya mereka adalah komunitas fans Leo Kristi dan jadilah malam itu seperti tahun 80an di Teatre Arena TIM ketika kami duduk dilantai menikmati Leo Kristi yang selalu manggung di bulan Agustus.

Kereta Tua, Gulagalugu, sampai Jabat Tangan Erat Erat Saudaraku mereka mainkan dengan apik, dan sebagian teman teman saya umumnya bertanya tanya ini lagu apa seumur umur gue gak pernah dengar kok lho hafal.?. saya senyum senyum sendiri... Bagaimana menjawabnya,? Leo Kristi memang bukan group yang lagunya diterima pasar secara luas.

Walaupun di Jaman kuliah kita miskin banget, gak kenal hal hal yang berbau kemewahan seperti mahasiswa sekarang, ternyata saya merasa lebih beruntung karena dimasa itu kita punya hiburan lain yang jauh lebih dasyat.

kalau cermin tak lagi punya arti pecahkan berkeping keping...
kita berkaca diriak gelombang.....
dan sebut satu kata AKU!!
Jabat tamangan erat erat, saudaraku saudaraku...

Senin, 19 Mei 2008

The Kite Runner( Syariat Islam Dalam Beberapa Novel)

"Mereka tidak melakukan apapun kecuali menghitung butiran tasbih dan memamerkan hafalan isi kitab yang ditulis dalam bahasa yang tidak mereka fahami, kuharap Tuhan melindungi kita semua jika suatu saat nanti Afghanistan jatuh ketangan mereka."

Itu salah satu dari berbagai kalimat tendensius tentang Thaliban dalam Novel The Kite Runner. Ada beberapa novel tentang Afghanistan yang sudah saya baca diantaranya The Swallows of Kabul terbitan pustaka Alvabeth, juga Samir dan Samira juga pustaka Alvabeth penerbitnya dan beberapa lainnya, Semua ditulis oleh orang Afghan sendiri dan semuanya bernada miring bila cerita berkait dengan regim Thaliban. Akan tetapi seorang wartawati Inggeris masuk Islam setelah ditawan oleh regim Thaliban, dia terpana atas penghargaan yang begitu tinggi terhadap wanita. Sangat kontradiktif dengan apa yang diceritakan oleh penulis Afghanistan sendiri. Bukunya belum saya baca dan saya dengar sudah terbit.

Banyak hal mengharukan dalam novel The Kite Runner terutama menyangkut Hasan seorang bocah yang ditakdirkan lahir menjadi "anak haram." Bocah yang begitu setia menjadi kawan sekaligus pelayan. Sebagaimana film Killing Fi ld, seorang wartawan yang mencari temannya dibawah regim Polpot, Novel inipun bercerita tentang pencarian seeorang paman mencari anak saudara tirinya yang sekaligus pelayannya di Afghanistan yang sedang dikuasai regim Thaliban.

Novel ini sangat nampak penolakannya pada regim yang menterjemahkan Syariat Islam dalam kehidupan. Terutama tokoh Baba Shahib ayah dari Amir Jan yang memang berpandangan sekuler, namun diakhir akhir cerita ketika Sohrab keponakan tiri Amir jan mencoba melakukan bunuh diri. Amir Jan yang belasan tahun melupakan sholat mengaji puasa, berzakart dan sebagainya kembali mencari Tuhan dalam kesulitannya dan berjanji melakukan ibadah individual yang telah lama dia tinggalkan.

Sama seperti Novel Afghan lainnya, Thaliban memang menjadi sarana efektif untuk menjadi contoh bobroknya perilaku sebuah negara yang menerapkan syariat Islam. Saya tidak tahu bagaimana dengan Iran namun sebuah buku baru saja terbit dengan latar belakang revolusi Iran, belum sempat saya baca (masih teronggok diatas meja kantor) sepertinya ceritanya juga sama. Selain itu ada dua buah buku yang bercerita tentang kehidupan pangeran Saudi Arabia berjudul Princes Sultana 1 dan 2. Bila Thaliban di dalam Novel Afghan sangat bobrok dalam kekerasan dan menciptakan kebodohan namun menjaga moral dalam perzinahan bahkan jenggot palsu pun menjadi laku dipasaran. maka dalam Novel Sultana para pangeran Saudi berperilaku seperti kaum yang selama ini "dikafirkan, " bahkan lebih parah lagi mereka mengobral keuangan negara untuk kesenangan pribadi. Setelah dua novel yang merupakam kisah nyata seorang puteri itu terbit, lalu lahir pula sebuah Novel berjudul The Girls of Riyadh yang juga merupakan kisah nyata tentang empat gadis Saudi, isinyapun berisi protes atas penindasan kaum wanita yang di jastifikasi atas nama agama.

Salah satu Novel sejarah India berjudul Taj Mahal ditulis oleh John Shores, bercerita, salah satu penyebab kehancuran kerajaan India dibawah kaum muslim adalah, Aurangzheb, seorang pangeran yang anti bid'ah sangat keras sikap anti Hindunya juga tamak pada kekuasaan bahkan memenjarakan ayahnya sendiri (Syah Jahan)

Saya kira lebih banyak lagi novel dengan latar belakang kisah nyata dan bersetting syariah Islam yang telah terbit diseantero penjuru dunia, namun bernuansa negatif terhadap penerjemahan Syariah Islam dalam kehidupan. Baik itu Saudi Arabia, Iran, Pakistan dsbnya.

Saya tidak sependapat bila penulisnya dengan mudah dikatakan sebagai orang orang yang anti Islam, mereka bukanlah orang yang selama ini di klaim sebagai propagandis Amerika, Barat dan sekutunya sebagaimana selama ini didengungkan bila Islam disuarakan secara negatif. Asumsi saya, mereka adalah orang orang muslim yang anti penindasan dalam berbagai bentuknya termasuk atas nama agama.

Pertanyaan terbesarnya adalah sejauh mana kemampuan kaum muslim menerjemahkan Syariat Islam itu sendiri dalam kehidupan, tanpa berujung pada pada penderitaan kaum tertentu (wanita) dan tak menyengsarakan masyarakatnya sendiri..?

Ps, Selesai membaca buku The Kite Runner saya bersama tiga anak saya menonton filmnya yang berjudul sama dirumah, ketika film berakhir anak saya yang nomor tiga bertanya "Thaliban itu apaan sih Bah ?" dan harusnya saya menjawab dengan baik menerangkan dengan halus bahwa Thaliban itu adalah Regim yang berkuasa di Afghanistan, yang berusaha melaksanakan hukum hukum dalam syariat Islam secara murni, menerangkan dengan panjang lebar agar anak itu mengerti dengan baik berbagai masalahnya. Tapi tak saya lakukan. Saya cuma menjawab dengan spontan "Thaliban itu sekelompok orang Goblok yang menerapkan Syariat Islam dengan kedegilan otak mereka.." Saya tidak mengambil kata tolol atau bodoh agar lebih halus tapi Goblok dan Anak saya tak bertanya lagi. Dia cuma akan faham dikepalanya bahwa Thaliban itu brengsek. Satu kesalah kecil yang akan besar artinya dikemudian hari....?
Sebuah film yang membangun emosi dan membuat saya ikut dalam kebodohan model Thaliban...
__._,_.___

Kamis, 08 Mei 2008

Kampanye Memeloroti Hukum Agama

Semakin hari semakin terlihat apa yang diperjuangkan bukan lagi hak hak sipil tapi melebar semakin jauh. Ahmadiyah dibela bukan hanya hak hidup penganutnya tapi juga keyakinannya, Homo dan Lesbian bukan lagi hak dasar kemanusiannya tapi juga orientasi seksualnya diberi pembenaran. Sialnya lagi dengan mengutak atik ayat yang sudah Qot'i. Ayat yang sudah tak perlu ditafsirkan karena bunyinya terang benderang.

Provokasi pada kelompok Islam garis keras sepertinya hanya medan antara, kekerasan mereka bukan ingin ditertibkan tapi sebaliknya ingin di MAKSIMALISASIKAN. karena bukan kekerasan yang menjadi musuhnya bahkan kekerasan kelompok Islam garis keras itu, menjadi alat kampanye kaum Islam Phobia. Tujuan sebenarnya adalah keyakinan kita pada agama yang ingin di TANGGALKAN. Semakin hari provokasi semakin dipertajam agar kelompok kelompok islam marah dan menarik keuntungan dari situ. Membaca berbagai pendapat diberbagai media massa juga diberbagai milis terakhir posting jurnal Lesbian yang dikirim kemana mana, jelas sudah kecenderungannya bukan kelompok garis keras yang ingin ditertibkan tapi keyakinan kita pada agama yang ingin di "TERTIBKAN". Berganti menjadi etika umum etika otak manusia yang membolehkan segalanyanya.

Lebih aneh lagi bisa bisanya berkata: hadist hadist yang bicara tentang Homo itu palsu alias lemah alias dhoif. Setahu saya intelektual punya kriteria dalam memberi pendapat berdasarkan keilmuannya, menjadi pertanyaan besar, kapan menjadi DR dibidang hadist ? dimana dan kapan belajarnya ..? apa kompetensinya menyatakan hadist itu palsu, dhoif, lemah dsb. Secara kasat mata sudah sangat jelas terlihat, keberadaan Islam garis keras bukanlah hal yang merugikan mereka tapi sebaliknya dijadikan alat untuk sekaligus memeloroti keyakinan kita pada agama. Setiap hari diprovokasi bahkan ditantang dengan tujuan agar lebih merusak lebih menunjukkan kekerasan agar kampanyenya semakin efektif. Kalau itu yang memang diinginkan saya pun bisa berkata: Bukan otak model Islam Phobia yang memerdekakan negeri ini tapi otaknya umat Islam yang punya keyakinan pada kalimat Syahadat, punya keyakinan pada arti kalimat Allah Hu Akbar, punya keyakinan pada Muhammad Rasulullah. Mereka adalah manusia manusia yang kalau masih hidup hari ini masuk dalam kriteria oleh kaum "penista agama" sebagai "EKSTRIM FUNDAMENTALIS. " Itulah watak seaseli aselinya dari kaum yang katanya menghargai pluralisme tapi membenci orang lain yang masih mempercayai Tuhan dan hukum hukumNya bahkan mengingkari sejarahnya sendiri. Pengerusakan pada aset Ahmadiyah apalagi mencelakai penganutnya jelas SALAH. tapi membela keyakinan mereka yang mempercayai ada Rasul lain setelah Muhammad jelas LEBIH SALAH lagi. Membela Homo dan Lesbian adalah syah dan hak masing masing orang, Akan tetapi membela mereka dengan membelokkan ayat Qur'an apalagi menafsirkan ayat bahwa Homo dan Lesbian (orientasi seksual) tidak dilarang.

"Allah hanya melihat Taqwa bukan orientasi seksual." (Musdah Muliya) Secara tersirat terbaca bahwa keyakinan pada kebenaran agama ingin diruntuhkan melalui segala cara termasuk dengan dalil agama yang dibuat buat. Tidak ada yang menyukai kekerasan terlebih pada kaum minoritas, kelompok kelompok Islam itu sepertinya masuk dalam "perangkap" provokasi yang berlebihan. Saya yakin seyakinnya memang kekerasan itulah yang dinginkan oleh kaum "penista agama". Agar lebih mudah menjauhkan kita dari keyakinan pada agama. Agama itu merusak agama itu masa lalu agama itu sudah out of date..... itu adalah inti dari semua yang mereka kampanyekan dan itulah yang diinginkan oleh mereka kepada kita sebenarnya

Rabu, 06 Februari 2008

Pagi Hari di SMA 7

Pagi hari di SMAN 7 Gambir Jakarta.
Kelas baru saja dimulai dari balik jendela Ibu Elli mulai menerangkan Bahasa Indonesia mengenai kalimat menerangkan dan diterangkan, tiba2 Dian melambaikan tangan dari balik jendela meminta saya keluar kelas. “ Ada apaan .?” tanya saya begitu keluar dari kelas. “anterin gue ke Gunung Agung gue lupa bawa bawa map buat tugasnya pak Sianturi” selak Dian terburu buru.
“gue gak bawa motor nanti jam istirahat pertama gue anterin lho, Bu Eli udah lihat gue didalam masak gue mau bolos, udah ntar gue pinjam motor sama Marga.”
“ya udah tolong jangan enggak Geis ya… Masak lho tega gue kena daprat sama Pak Sianturi”
“Ya udah jangan kuatir yuk gue masuk dulu gak enak sama bu Elli”

Bell istirahat pertama berbunyi, buru buru saya lompat kelantai bawah menuju kelas 3 Ips 5 mencari si Batak satu bernama Marga Prana… " Ga… gue pinjam motor mau nganterin si Dian kegunung Agung “ ucap saya langsung begitu ketemu. “Busyet dah pagi pagi lho udah mau pacaran..” jawab Marga asal. “emang motor lho kemana ..? “ tanyanya lagi.
“STNK nya habis belum di perpanjang, udeh… cepetan nih ntar gue telat habis istirahat gue ada ulangan.”

Jarak Gunung Agung dari SMA 7 dengan motor cukup 5 menit ditambah lagi dengan gaya membawa motor yang seolah ingin menjemput maut, gak sampai lima belas menit saya sudah mengembalikan kunci motor ke Marga dan bisa mengikuti kelas berikutnya.

Jam istirahat kedua Marga mencari saya dikelas dan melaporkan‘ “Geis.. Sobleker Motor gue ilang diembat maling “ teriaknya. “yang bener lho Ga… tadi gue parkir di Pedok (tempat parkir khusus motor di sekolah diberi nama pedok) masak bisa ilang tuh motor” jawab saya kaget dan merasa bersalah.
“Bukan Motornya yang hilang tapi Sobleker sebelah kiri…”
Bersama sama kami ke Pedok dan melihat motor Honda GL yang Soblekernya sebelah sudah gak ada itu…
“siapa yang ngembat Sobleker ini motor ..?” tanya saya pada tukang Parkir yang ada disitu.
“Gak tahu “ jawabnya ogah2an.
“ Marga…!!!! kita gebukin aja ini anjing… kalau dia gak tahu, pasti dia yang ngembat” Teriak saya gak senang hati
“ Bukan saya yang mengambil tapi si Stevi balas tukang parkir membela diri “ sambil mengasih tahu malingnya yang juga pelajar disitu yang salah satu pelajar pecandu Obat. BK, Rohipnol, Valium, dsb adalah obat2an yang biasa dipakai untuk teler dijaman itu.

Tak tahu bagaimana ceritanya kasus ini sampai kekepala sekolah dan Stevi pun diamankan di Polsek Cideng.

Besoknya sepulang sekolah Marga sudah menunggu di Kantin “Lho mau kemana Geis..?” tanyanya.. “ “Gue mau pulang jaga toko, abang gue udah pesan dia mau pergi hari ini jadi gue yang jagain pangkalan.” Jawab saya
“Tolongin Gue hari ini bisa gak ?” tanyanya
“ Tolongin apaan…?” balas saya balik bertanya.
“ Anterin Gue Besuk si Stevi dia dipenjara di Polsek Cideng” ajak Marga.
“Ah gila lho udah motor kita yang dicolong masih juga kita yang besuk dia” jawab saya mangkel.
“Udah deh kasian itu anak yuk kita besuk.” Ajaknya lagi.
Setengah terpaksa saya mengikuti kemaunnya sambil mikir2 pulang bakal dimarahin karena telat pulang buat jaga Toko.

Di Polsek Stevi keluar dari sel diantar petugas menemui kami diruang besuk, Stevi memohon mohon untuk membantunya dikeluarkan dari sana . Dan Marga menghadap kekepala Polisi disitu saya gak jelas apa yang diomongkan mereka… Namun dijalan Marga meminta saya ikut kerumahnya.
“ Aduh Ga … Abang gue ngamuk ntar… Sorry deh ntar malam aja gue kerumah Lho kalau perlu gue nginap” “Benar lho ya” Marga menegaskan “ iya bener gue bawa baju seragam, besok sekolah dari rumah lho.” Jawab saya. Kami memang sering menginap dirumahnya Marga, biasanya malam minggu sekitar lima enam orang kita jalan jalan dengan mobil teman atau naik motor ramai ramai lalu bergadang sampai pagi.

Bubaran sekolah kami langsung menuju Polsek Cideng dan Marga membawa setumpuk uang dalam amplop yang diserahkan pada petugas disitu dan Stevie pun bebas dari
Penjara tempat dia disekap. Sebenarnya kasusnya tidak akan sejauh itu bila saja kepala sekolah yang sudah muak dengan Murid yang mencandui obat2an tidak melakukan pengaduan ke polisi. Dan saya faham kenapa Marga minta kerumahnya karena dia ingin saya membantu membujuk ibunya agar bersedia mengeluarkan uang untuk membebaskan Stevi. Tak ada dendam tak sakit hati dalam dirinya.

Banyak hal kami lalui bersama bahkan bertahun tahun setelah masa SMA selesai
Pagi ini Rabu 5 Februari 2008 jam 9 pagi hp saya berdering terlihat nomor yang tidak ada dalam memori saya. “ halo….ini Geis ya..” suara perempuan terdengar disana.
“ya benar siapa ini..?” tanya saya… “ini Pepi Geis.. kakak iparnya Marga” terdengar suara disana yang sangat jelas sedang menangis. “ya ada Pepi.? ” “Marga meninggal Geis… Jenazahnya masih di Malaysia hari ini sampai di Jakarta ;”
“Innalillahi wainna ilaihi Rojiun.”

Semua jalan… semua teriakan…semua cela2an bersama , Batang pohon besar di puncak ketika kami menepikan Motor di waktu bolos sekolah… semua tiba tiba menyeruak saling berlomba mengingatkan masa yang pahit ketika kami kalah berantem dan muka legam2, masa 2 tertawa tawa ketika naik Bajaj bersepuluh orang ketika dunia hanya selebar otak dan pengetahuan kami, dan masa masa menghadapi realitas hidup ketika anak dan keluarga harus lepas dari genggaman ketika nasib tak berfihak….
ketika dunia terlalu luas untuk difahami.

Selamat jalan kawan……Semoga kamu lebih beruntung di alam sana .

(Ditulis ketika sedang menunggu jenazah Marga Prana Haloho)

Selasa, 22 Januari 2008

Abah Seolah Penguasa, Umi Yang Berkuasa

Lazim diketahui pada umumnya anak anak laki kecil keturunan Arab nakal nakal dan tak bisa diatur, ada pameo yang menyatakan bila ada anak kecil Arab diam duduk tenang dan rapih bawalah kedokter mungkin lagi sakit. Kenakalan kenakalan baik di sekolah maupun dirumah bukan sesuatu yang aneh dan sudah bukan berita.

Para orang tua jaman dulu menyiapkan gesper (ikat pinggang) untuk menghukum anaknya, berbagai macam model hukuman dari ikat pinggang, dikunci dalam kamar mandi maupun menaruh sebatang kayu lalu menaruhnya disela dua kaki dan menyuruh anak itu berjongkok menjepit batang kayu itu. Lain lagi hukuman para guru ngaji, sebatang pinsil ditaruh di antara dua jari lalu di jepitnya dengan keras yang membuat siterhukum meringis, terkadang rotan rajin datang menyuntuh bagian tangan atau paha karena mengaji yang terbata bata dan selalu salah.

Didalam rumah abah adalah penguasa jarang sekali anak meminta keperluan untuknya langsung kepada abahnya, biasanya disampaikan melalui Umi'. Unsur ketakutan lebih dulu tercipta yang membuat anak sulit terbuka apa lagi menyatakan berbagai keberatan.

Akan tetapi kekuasaan Abah bersifat fisikal tidak menyentuh hati, karena hati anak Arab dikuasai Uminya' senakal apapun anak Arab bila air mata Umi' menetes maka jiwanya luruh, mungkin menjadi tukang kelahi, mungkin mabuk diluar rumah mungkin pula berlaku kriminal tapi begitu melihat mata ibunya melotot, matanya tak berani memandang melorot turun kebawah terlebih bila melihat Umi menangis maka hukuman rotan mungkin lebih diinginkan ketimbang melihat seorang Umi bersimbuh air mata.

Kepatuhan pada ibu bukanlah sesuatu yang didapat lewat khotbah di pengajian apa lagi doktrinasi, kepatuhan pada Umi adalah pelajaran dari contoh langsung perilaku para Abah dimasa lalu, setiap pagi orang tua laki mencium tangan ibunya mencium kening ibunya bertanya seputar keseharian atau kesehatannya lalu meminta doa, baru abah itu berangkat ke toko, bila rumahnya berlainan dia pergi dulu kerumah ibunya baru berangkat ketempat kerja. Tak jarang sepulang kerja dia tidak kembali kerumah istri dan keluarganya dulu tapi kerumah ibunya melihat keadaannya sore hari bercengkrama dengan santun, baru kembali ketengah istri dan anak anaknya. Dari masih kecil anak anak Arab melihat yang seperti itu setiap hari berbulan dan bertahun, masuk dalam alam bawah sadar terinternalisasi dan menjadikan seorang ibu seorang wanita suci. Doanya adalah lapang nya jalan, Doanya adalah kebahagiaan, Doanya adalah keberanian mengarungi dunia kehidupan.

Umi adalah manusia yang berkuasa dalam rumah tanpa kepalan tangan tanpa sebuah rotan dan ikat pinggang Umi berkuasa melalui hati dan perasaan, melaui jemari lembut yang menyebokkan kencing kita ditengah makan siangnya, Umi berkuasa melalui air susunya ditengah suhu badannya yang tinggi.

Para Abah dimasa lalu tak menunggu didatangi ibunya, tak menunggu ibunya meminta sesuatu darinya, bila dia memiliki uang untuk pergi haji maka uminya dululah yang pergi haji, bila dia memiliki uang untuk membeli rumah yang lebih baik ibunya dululah yang menempati.

Kini tradisi semakin longgar, cinta semakin berjarak oleh kesibukan dan kebutuhan duniawi tapi cinta para Umi masa lalu tak berjarak barang sehelai rambut, cinta para umi menunjukkan kekuatan fisik dan mental dari segala beban yang dihadapi didalam rumah. Memberikan ruang untuk anak anak tumbuh dengan sehat. Memiliki kapatutan, etika, dan Adab. Walaupun anak itu tujuh, sepuluh, bahkan dua belas ia menerima hidupnya sebagai ibu bukan pesaing dari sang suami.