Senin, 19 Mei 2008

The Kite Runner( Syariat Islam Dalam Beberapa Novel)

"Mereka tidak melakukan apapun kecuali menghitung butiran tasbih dan memamerkan hafalan isi kitab yang ditulis dalam bahasa yang tidak mereka fahami, kuharap Tuhan melindungi kita semua jika suatu saat nanti Afghanistan jatuh ketangan mereka."

Itu salah satu dari berbagai kalimat tendensius tentang Thaliban dalam Novel The Kite Runner. Ada beberapa novel tentang Afghanistan yang sudah saya baca diantaranya The Swallows of Kabul terbitan pustaka Alvabeth, juga Samir dan Samira juga pustaka Alvabeth penerbitnya dan beberapa lainnya, Semua ditulis oleh orang Afghan sendiri dan semuanya bernada miring bila cerita berkait dengan regim Thaliban. Akan tetapi seorang wartawati Inggeris masuk Islam setelah ditawan oleh regim Thaliban, dia terpana atas penghargaan yang begitu tinggi terhadap wanita. Sangat kontradiktif dengan apa yang diceritakan oleh penulis Afghanistan sendiri. Bukunya belum saya baca dan saya dengar sudah terbit.

Banyak hal mengharukan dalam novel The Kite Runner terutama menyangkut Hasan seorang bocah yang ditakdirkan lahir menjadi "anak haram." Bocah yang begitu setia menjadi kawan sekaligus pelayan. Sebagaimana film Killing Fi ld, seorang wartawan yang mencari temannya dibawah regim Polpot, Novel inipun bercerita tentang pencarian seeorang paman mencari anak saudara tirinya yang sekaligus pelayannya di Afghanistan yang sedang dikuasai regim Thaliban.

Novel ini sangat nampak penolakannya pada regim yang menterjemahkan Syariat Islam dalam kehidupan. Terutama tokoh Baba Shahib ayah dari Amir Jan yang memang berpandangan sekuler, namun diakhir akhir cerita ketika Sohrab keponakan tiri Amir jan mencoba melakukan bunuh diri. Amir Jan yang belasan tahun melupakan sholat mengaji puasa, berzakart dan sebagainya kembali mencari Tuhan dalam kesulitannya dan berjanji melakukan ibadah individual yang telah lama dia tinggalkan.

Sama seperti Novel Afghan lainnya, Thaliban memang menjadi sarana efektif untuk menjadi contoh bobroknya perilaku sebuah negara yang menerapkan syariat Islam. Saya tidak tahu bagaimana dengan Iran namun sebuah buku baru saja terbit dengan latar belakang revolusi Iran, belum sempat saya baca (masih teronggok diatas meja kantor) sepertinya ceritanya juga sama. Selain itu ada dua buah buku yang bercerita tentang kehidupan pangeran Saudi Arabia berjudul Princes Sultana 1 dan 2. Bila Thaliban di dalam Novel Afghan sangat bobrok dalam kekerasan dan menciptakan kebodohan namun menjaga moral dalam perzinahan bahkan jenggot palsu pun menjadi laku dipasaran. maka dalam Novel Sultana para pangeran Saudi berperilaku seperti kaum yang selama ini "dikafirkan, " bahkan lebih parah lagi mereka mengobral keuangan negara untuk kesenangan pribadi. Setelah dua novel yang merupakam kisah nyata seorang puteri itu terbit, lalu lahir pula sebuah Novel berjudul The Girls of Riyadh yang juga merupakan kisah nyata tentang empat gadis Saudi, isinyapun berisi protes atas penindasan kaum wanita yang di jastifikasi atas nama agama.

Salah satu Novel sejarah India berjudul Taj Mahal ditulis oleh John Shores, bercerita, salah satu penyebab kehancuran kerajaan India dibawah kaum muslim adalah, Aurangzheb, seorang pangeran yang anti bid'ah sangat keras sikap anti Hindunya juga tamak pada kekuasaan bahkan memenjarakan ayahnya sendiri (Syah Jahan)

Saya kira lebih banyak lagi novel dengan latar belakang kisah nyata dan bersetting syariah Islam yang telah terbit diseantero penjuru dunia, namun bernuansa negatif terhadap penerjemahan Syariah Islam dalam kehidupan. Baik itu Saudi Arabia, Iran, Pakistan dsbnya.

Saya tidak sependapat bila penulisnya dengan mudah dikatakan sebagai orang orang yang anti Islam, mereka bukanlah orang yang selama ini di klaim sebagai propagandis Amerika, Barat dan sekutunya sebagaimana selama ini didengungkan bila Islam disuarakan secara negatif. Asumsi saya, mereka adalah orang orang muslim yang anti penindasan dalam berbagai bentuknya termasuk atas nama agama.

Pertanyaan terbesarnya adalah sejauh mana kemampuan kaum muslim menerjemahkan Syariat Islam itu sendiri dalam kehidupan, tanpa berujung pada pada penderitaan kaum tertentu (wanita) dan tak menyengsarakan masyarakatnya sendiri..?

Ps, Selesai membaca buku The Kite Runner saya bersama tiga anak saya menonton filmnya yang berjudul sama dirumah, ketika film berakhir anak saya yang nomor tiga bertanya "Thaliban itu apaan sih Bah ?" dan harusnya saya menjawab dengan baik menerangkan dengan halus bahwa Thaliban itu adalah Regim yang berkuasa di Afghanistan, yang berusaha melaksanakan hukum hukum dalam syariat Islam secara murni, menerangkan dengan panjang lebar agar anak itu mengerti dengan baik berbagai masalahnya. Tapi tak saya lakukan. Saya cuma menjawab dengan spontan "Thaliban itu sekelompok orang Goblok yang menerapkan Syariat Islam dengan kedegilan otak mereka.." Saya tidak mengambil kata tolol atau bodoh agar lebih halus tapi Goblok dan Anak saya tak bertanya lagi. Dia cuma akan faham dikepalanya bahwa Thaliban itu brengsek. Satu kesalah kecil yang akan besar artinya dikemudian hari....?
Sebuah film yang membangun emosi dan membuat saya ikut dalam kebodohan model Thaliban...
__._,_.___

Kamis, 08 Mei 2008

Kampanye Memeloroti Hukum Agama

Semakin hari semakin terlihat apa yang diperjuangkan bukan lagi hak hak sipil tapi melebar semakin jauh. Ahmadiyah dibela bukan hanya hak hidup penganutnya tapi juga keyakinannya, Homo dan Lesbian bukan lagi hak dasar kemanusiannya tapi juga orientasi seksualnya diberi pembenaran. Sialnya lagi dengan mengutak atik ayat yang sudah Qot'i. Ayat yang sudah tak perlu ditafsirkan karena bunyinya terang benderang.

Provokasi pada kelompok Islam garis keras sepertinya hanya medan antara, kekerasan mereka bukan ingin ditertibkan tapi sebaliknya ingin di MAKSIMALISASIKAN. karena bukan kekerasan yang menjadi musuhnya bahkan kekerasan kelompok Islam garis keras itu, menjadi alat kampanye kaum Islam Phobia. Tujuan sebenarnya adalah keyakinan kita pada agama yang ingin di TANGGALKAN. Semakin hari provokasi semakin dipertajam agar kelompok kelompok islam marah dan menarik keuntungan dari situ. Membaca berbagai pendapat diberbagai media massa juga diberbagai milis terakhir posting jurnal Lesbian yang dikirim kemana mana, jelas sudah kecenderungannya bukan kelompok garis keras yang ingin ditertibkan tapi keyakinan kita pada agama yang ingin di "TERTIBKAN". Berganti menjadi etika umum etika otak manusia yang membolehkan segalanyanya.

Lebih aneh lagi bisa bisanya berkata: hadist hadist yang bicara tentang Homo itu palsu alias lemah alias dhoif. Setahu saya intelektual punya kriteria dalam memberi pendapat berdasarkan keilmuannya, menjadi pertanyaan besar, kapan menjadi DR dibidang hadist ? dimana dan kapan belajarnya ..? apa kompetensinya menyatakan hadist itu palsu, dhoif, lemah dsb. Secara kasat mata sudah sangat jelas terlihat, keberadaan Islam garis keras bukanlah hal yang merugikan mereka tapi sebaliknya dijadikan alat untuk sekaligus memeloroti keyakinan kita pada agama. Setiap hari diprovokasi bahkan ditantang dengan tujuan agar lebih merusak lebih menunjukkan kekerasan agar kampanyenya semakin efektif. Kalau itu yang memang diinginkan saya pun bisa berkata: Bukan otak model Islam Phobia yang memerdekakan negeri ini tapi otaknya umat Islam yang punya keyakinan pada kalimat Syahadat, punya keyakinan pada arti kalimat Allah Hu Akbar, punya keyakinan pada Muhammad Rasulullah. Mereka adalah manusia manusia yang kalau masih hidup hari ini masuk dalam kriteria oleh kaum "penista agama" sebagai "EKSTRIM FUNDAMENTALIS. " Itulah watak seaseli aselinya dari kaum yang katanya menghargai pluralisme tapi membenci orang lain yang masih mempercayai Tuhan dan hukum hukumNya bahkan mengingkari sejarahnya sendiri. Pengerusakan pada aset Ahmadiyah apalagi mencelakai penganutnya jelas SALAH. tapi membela keyakinan mereka yang mempercayai ada Rasul lain setelah Muhammad jelas LEBIH SALAH lagi. Membela Homo dan Lesbian adalah syah dan hak masing masing orang, Akan tetapi membela mereka dengan membelokkan ayat Qur'an apalagi menafsirkan ayat bahwa Homo dan Lesbian (orientasi seksual) tidak dilarang.

"Allah hanya melihat Taqwa bukan orientasi seksual." (Musdah Muliya) Secara tersirat terbaca bahwa keyakinan pada kebenaran agama ingin diruntuhkan melalui segala cara termasuk dengan dalil agama yang dibuat buat. Tidak ada yang menyukai kekerasan terlebih pada kaum minoritas, kelompok kelompok Islam itu sepertinya masuk dalam "perangkap" provokasi yang berlebihan. Saya yakin seyakinnya memang kekerasan itulah yang dinginkan oleh kaum "penista agama". Agar lebih mudah menjauhkan kita dari keyakinan pada agama. Agama itu merusak agama itu masa lalu agama itu sudah out of date..... itu adalah inti dari semua yang mereka kampanyekan dan itulah yang diinginkan oleh mereka kepada kita sebenarnya

Rabu, 06 Februari 2008

Pagi Hari di SMA 7

Pagi hari di SMAN 7 Gambir Jakarta.
Kelas baru saja dimulai dari balik jendela Ibu Elli mulai menerangkan Bahasa Indonesia mengenai kalimat menerangkan dan diterangkan, tiba2 Dian melambaikan tangan dari balik jendela meminta saya keluar kelas. “ Ada apaan .?” tanya saya begitu keluar dari kelas. “anterin gue ke Gunung Agung gue lupa bawa bawa map buat tugasnya pak Sianturi” selak Dian terburu buru.
“gue gak bawa motor nanti jam istirahat pertama gue anterin lho, Bu Eli udah lihat gue didalam masak gue mau bolos, udah ntar gue pinjam motor sama Marga.”
“ya udah tolong jangan enggak Geis ya… Masak lho tega gue kena daprat sama Pak Sianturi”
“Ya udah jangan kuatir yuk gue masuk dulu gak enak sama bu Elli”

Bell istirahat pertama berbunyi, buru buru saya lompat kelantai bawah menuju kelas 3 Ips 5 mencari si Batak satu bernama Marga Prana… " Ga… gue pinjam motor mau nganterin si Dian kegunung Agung “ ucap saya langsung begitu ketemu. “Busyet dah pagi pagi lho udah mau pacaran..” jawab Marga asal. “emang motor lho kemana ..? “ tanyanya lagi.
“STNK nya habis belum di perpanjang, udeh… cepetan nih ntar gue telat habis istirahat gue ada ulangan.”

Jarak Gunung Agung dari SMA 7 dengan motor cukup 5 menit ditambah lagi dengan gaya membawa motor yang seolah ingin menjemput maut, gak sampai lima belas menit saya sudah mengembalikan kunci motor ke Marga dan bisa mengikuti kelas berikutnya.

Jam istirahat kedua Marga mencari saya dikelas dan melaporkan‘ “Geis.. Sobleker Motor gue ilang diembat maling “ teriaknya. “yang bener lho Ga… tadi gue parkir di Pedok (tempat parkir khusus motor di sekolah diberi nama pedok) masak bisa ilang tuh motor” jawab saya kaget dan merasa bersalah.
“Bukan Motornya yang hilang tapi Sobleker sebelah kiri…”
Bersama sama kami ke Pedok dan melihat motor Honda GL yang Soblekernya sebelah sudah gak ada itu…
“siapa yang ngembat Sobleker ini motor ..?” tanya saya pada tukang Parkir yang ada disitu.
“Gak tahu “ jawabnya ogah2an.
“ Marga…!!!! kita gebukin aja ini anjing… kalau dia gak tahu, pasti dia yang ngembat” Teriak saya gak senang hati
“ Bukan saya yang mengambil tapi si Stevi balas tukang parkir membela diri “ sambil mengasih tahu malingnya yang juga pelajar disitu yang salah satu pelajar pecandu Obat. BK, Rohipnol, Valium, dsb adalah obat2an yang biasa dipakai untuk teler dijaman itu.

Tak tahu bagaimana ceritanya kasus ini sampai kekepala sekolah dan Stevi pun diamankan di Polsek Cideng.

Besoknya sepulang sekolah Marga sudah menunggu di Kantin “Lho mau kemana Geis..?” tanyanya.. “ “Gue mau pulang jaga toko, abang gue udah pesan dia mau pergi hari ini jadi gue yang jagain pangkalan.” Jawab saya
“Tolongin Gue hari ini bisa gak ?” tanyanya
“ Tolongin apaan…?” balas saya balik bertanya.
“ Anterin Gue Besuk si Stevi dia dipenjara di Polsek Cideng” ajak Marga.
“Ah gila lho udah motor kita yang dicolong masih juga kita yang besuk dia” jawab saya mangkel.
“Udah deh kasian itu anak yuk kita besuk.” Ajaknya lagi.
Setengah terpaksa saya mengikuti kemaunnya sambil mikir2 pulang bakal dimarahin karena telat pulang buat jaga Toko.

Di Polsek Stevi keluar dari sel diantar petugas menemui kami diruang besuk, Stevi memohon mohon untuk membantunya dikeluarkan dari sana . Dan Marga menghadap kekepala Polisi disitu saya gak jelas apa yang diomongkan mereka… Namun dijalan Marga meminta saya ikut kerumahnya.
“ Aduh Ga … Abang gue ngamuk ntar… Sorry deh ntar malam aja gue kerumah Lho kalau perlu gue nginap” “Benar lho ya” Marga menegaskan “ iya bener gue bawa baju seragam, besok sekolah dari rumah lho.” Jawab saya. Kami memang sering menginap dirumahnya Marga, biasanya malam minggu sekitar lima enam orang kita jalan jalan dengan mobil teman atau naik motor ramai ramai lalu bergadang sampai pagi.

Bubaran sekolah kami langsung menuju Polsek Cideng dan Marga membawa setumpuk uang dalam amplop yang diserahkan pada petugas disitu dan Stevie pun bebas dari
Penjara tempat dia disekap. Sebenarnya kasusnya tidak akan sejauh itu bila saja kepala sekolah yang sudah muak dengan Murid yang mencandui obat2an tidak melakukan pengaduan ke polisi. Dan saya faham kenapa Marga minta kerumahnya karena dia ingin saya membantu membujuk ibunya agar bersedia mengeluarkan uang untuk membebaskan Stevi. Tak ada dendam tak sakit hati dalam dirinya.

Banyak hal kami lalui bersama bahkan bertahun tahun setelah masa SMA selesai
Pagi ini Rabu 5 Februari 2008 jam 9 pagi hp saya berdering terlihat nomor yang tidak ada dalam memori saya. “ halo….ini Geis ya..” suara perempuan terdengar disana.
“ya benar siapa ini..?” tanya saya… “ini Pepi Geis.. kakak iparnya Marga” terdengar suara disana yang sangat jelas sedang menangis. “ya ada Pepi.? ” “Marga meninggal Geis… Jenazahnya masih di Malaysia hari ini sampai di Jakarta ;”
“Innalillahi wainna ilaihi Rojiun.”

Semua jalan… semua teriakan…semua cela2an bersama , Batang pohon besar di puncak ketika kami menepikan Motor di waktu bolos sekolah… semua tiba tiba menyeruak saling berlomba mengingatkan masa yang pahit ketika kami kalah berantem dan muka legam2, masa 2 tertawa tawa ketika naik Bajaj bersepuluh orang ketika dunia hanya selebar otak dan pengetahuan kami, dan masa masa menghadapi realitas hidup ketika anak dan keluarga harus lepas dari genggaman ketika nasib tak berfihak….
ketika dunia terlalu luas untuk difahami.

Selamat jalan kawan……Semoga kamu lebih beruntung di alam sana .

(Ditulis ketika sedang menunggu jenazah Marga Prana Haloho)

Selasa, 22 Januari 2008

Abah Seolah Penguasa, Umi Yang Berkuasa

Lazim diketahui pada umumnya anak anak laki kecil keturunan Arab nakal nakal dan tak bisa diatur, ada pameo yang menyatakan bila ada anak kecil Arab diam duduk tenang dan rapih bawalah kedokter mungkin lagi sakit. Kenakalan kenakalan baik di sekolah maupun dirumah bukan sesuatu yang aneh dan sudah bukan berita.

Para orang tua jaman dulu menyiapkan gesper (ikat pinggang) untuk menghukum anaknya, berbagai macam model hukuman dari ikat pinggang, dikunci dalam kamar mandi maupun menaruh sebatang kayu lalu menaruhnya disela dua kaki dan menyuruh anak itu berjongkok menjepit batang kayu itu. Lain lagi hukuman para guru ngaji, sebatang pinsil ditaruh di antara dua jari lalu di jepitnya dengan keras yang membuat siterhukum meringis, terkadang rotan rajin datang menyuntuh bagian tangan atau paha karena mengaji yang terbata bata dan selalu salah.

Didalam rumah abah adalah penguasa jarang sekali anak meminta keperluan untuknya langsung kepada abahnya, biasanya disampaikan melalui Umi'. Unsur ketakutan lebih dulu tercipta yang membuat anak sulit terbuka apa lagi menyatakan berbagai keberatan.

Akan tetapi kekuasaan Abah bersifat fisikal tidak menyentuh hati, karena hati anak Arab dikuasai Uminya' senakal apapun anak Arab bila air mata Umi' menetes maka jiwanya luruh, mungkin menjadi tukang kelahi, mungkin mabuk diluar rumah mungkin pula berlaku kriminal tapi begitu melihat mata ibunya melotot, matanya tak berani memandang melorot turun kebawah terlebih bila melihat Umi menangis maka hukuman rotan mungkin lebih diinginkan ketimbang melihat seorang Umi bersimbuh air mata.

Kepatuhan pada ibu bukanlah sesuatu yang didapat lewat khotbah di pengajian apa lagi doktrinasi, kepatuhan pada Umi adalah pelajaran dari contoh langsung perilaku para Abah dimasa lalu, setiap pagi orang tua laki mencium tangan ibunya mencium kening ibunya bertanya seputar keseharian atau kesehatannya lalu meminta doa, baru abah itu berangkat ke toko, bila rumahnya berlainan dia pergi dulu kerumah ibunya baru berangkat ketempat kerja. Tak jarang sepulang kerja dia tidak kembali kerumah istri dan keluarganya dulu tapi kerumah ibunya melihat keadaannya sore hari bercengkrama dengan santun, baru kembali ketengah istri dan anak anaknya. Dari masih kecil anak anak Arab melihat yang seperti itu setiap hari berbulan dan bertahun, masuk dalam alam bawah sadar terinternalisasi dan menjadikan seorang ibu seorang wanita suci. Doanya adalah lapang nya jalan, Doanya adalah kebahagiaan, Doanya adalah keberanian mengarungi dunia kehidupan.

Umi adalah manusia yang berkuasa dalam rumah tanpa kepalan tangan tanpa sebuah rotan dan ikat pinggang Umi berkuasa melalui hati dan perasaan, melaui jemari lembut yang menyebokkan kencing kita ditengah makan siangnya, Umi berkuasa melalui air susunya ditengah suhu badannya yang tinggi.

Para Abah dimasa lalu tak menunggu didatangi ibunya, tak menunggu ibunya meminta sesuatu darinya, bila dia memiliki uang untuk pergi haji maka uminya dululah yang pergi haji, bila dia memiliki uang untuk membeli rumah yang lebih baik ibunya dululah yang menempati.

Kini tradisi semakin longgar, cinta semakin berjarak oleh kesibukan dan kebutuhan duniawi tapi cinta para Umi masa lalu tak berjarak barang sehelai rambut, cinta para umi menunjukkan kekuatan fisik dan mental dari segala beban yang dihadapi didalam rumah. Memberikan ruang untuk anak anak tumbuh dengan sehat. Memiliki kapatutan, etika, dan Adab. Walaupun anak itu tujuh, sepuluh, bahkan dua belas ia menerima hidupnya sebagai ibu bukan pesaing dari sang suami.

Jumat, 19 Oktober 2007

Negeri Dongeng Bernama UAE

.
Saya tidak memiliki waktu lama memasuki negeri yang menjadi perhatian dunia saat ini (UAE), namun dalam beberapa cerita dari warganya yang saya temui, hampir tak ada yang tak memuji negerinya dengan sangat antusias. Kesan puas dibawah pemerintahan yang sangat memperhatikan rakyatnya sangat nampak dari cara mereka menceritakan berbagai kemudahan dan kesejahteraan yang mereka dapatkan.

Ketika memasuki airport Abu Dhabi saya tak terlalu antusias, karena tak pernah memasuki negeri Arab lainnya kecuali Saudi untuk berumroh atau Haji, juga tak pernah tidak merasa jengkel dengan petugas imigrasinya yang sangat lama dalam menangani pasport. Satu persatu diteliti terkadang seenaknya meninggalkan meja mengobrol dulu dengan temannya sementara antrian menjulur panjang, Mereka tidak perduli dengan kelelahan orang yang mengantri dan lelah berjam jam didalam pesawat. Jangan mencoba memprotes karena tindakan mereka akan lebih ekstrem lagi. Anda bisa disingkirkan dari antrian. Para Badu' Badu' itu tak pernah belajar bagaimana menangani pekerjaan dengan cepat. Selalu merasa paling benar sendiri, dan jangan heran terkadang berlaku peraturan yang keluar dari isi kepalanya sendiri. Kesombongan sebagai negeri yang dikunjungi oleh manusia berbagai penjuru dunia sangat menjadi jadi, Mereka tak pernah berfikir bahwa kalau tidak karena Mekkah dan Madinah tak akan banyak
orang mau datang kenegerinya itu.

Semua yang ada Saudi sangat menarik ada mesjid dimana ka'bah didalamnya, ada Madina dimana Rasul dimakamkan dan ada makanan dan buah buahan yang banyak sekali dan semuanya nikmat, mereka juga sangat royal dalam membangun fasilitas Haji, royal dalam bersedekah, Paling banyak memberikan bantuan terutama kepada Indonesia dibanding negara Arab lainnya. Sangat perhatian dalam masalah agama. Cuma satu yang tak menarik, yaitu sifat keras dan selalu marah tanpa alasan. Berteriak teriak pada kawannya diantara meja petugas imigrasi adalah hal yang biasa
Selalu terburu buru bila menginnginkan sesuatu, satu hal kecil saja bisa saling memaki dengan sangat kasar, namun jarang sekali yang saling pukul karena penjara "sangat terbuka lebar," dan polisi tak segan menangkap terutama orang dari luar Saudi. Agak kontradiktif, pada umumnya mereka rahim dalam soal harta, tapi pelit untuk yang namanya Akhlak kepada orang lain. Berbeda dengan kita disini sangat menjaga tatakrama, tapi pelit dalam membayar zakat :):)

Kesan pertama saya adalah pelayanan di Airport Abu Dhabi tak akan jauh berbeda dari Arab Saudi, paling tidak sama Arabnya dan sama badu'nya, akan tetapi kesan itu lenyap dan berubah menjadi kekaguman. Ada negeri Arab yang sangat modern, akhlak, bahkan melebihi kemoderenan Airport di Amerika. Saya berhadapan dengan seorang petugas perempuan yang tak percaya saya dari Indonesia... . "Khalifa...? anta ...aseli aseli Indonesia..? "
"naam" jawab saya, petugas itu masih tak percaya, dia melihat nama di pasport yang mirip dengan nama rajanya dan melihat muka saya yang tidak mungkin dari Indonesia pikirnya. Dia meminta temannya melihat pasport saya dan temannya itu berbicara padanya dalam bahasa Arab yang saya tak mengerti, lalu mencap pasport dan mengucapkan selamat datang dinegerinya. Ramah dan bersahabat yang sangat tidak mungkin anda dapatkan hal seperti ini di Airport Saudi Arabia. Lima kali saya kenegeri itu dan kata teman saya bahkan dari puluhan tahun lalu dan sampai puluhan tahun lagi Airport itu tidak berubah pelayanannya jadi jangankan baru lima kali..

Memasuki arena airport Abu Dhabi terdapat berbagai toko toko dari mulai jam, farfum dsb bahkan terdapat toko yang memajang aneka macam minuman keras.......
Ketika keluar dari Airport saya diajak mengelilingi kota Abu Dhabi lalu masuk kehotel yang bernama Emirat Palace, panjang Hotel itu 2 KM dan luas kamarnya 650 m2. Harga perkamar standarnya 30 juta rupiah dan suit room nya 150 juta rupiah, Hotel ini belum ada apa apanya dibanding Hotel Jumaira atau Borjul Arab yang berada di Dubai. Hotel termewah didunia dan hanya ada dua buah didunia hotel semacam Borjul Arab.

Dari Abu Dhabi menuju Dubai memakan waktu kira kira dua jam perjalanan, sepanjang jalan menuju Dubai terdapat puluhan atau mungkin pula ratusan gedung tinggi menjulang. Saya tak sempat menghitung tapi saya yakin ada lebih dari seratus dikanan kiri jalan Gedung yang baru sedang dibangun, dan disepanjang jalan raya terdapat fondasi untuk pembangunan monorel.

Pengantar saya bertanya berapa meter gedung paling tinggi didunia..? saya katakan 400 meter lebih berada di Malaysia dan di Toronto... lalu dia menunjukkan satu gedung yang sedang dibangun lalu mengatakan. Dubai sedang membangun gedung setinggi seribu meter dan gedung itu tampak dari kejauhan... "seribu meter..?" Pikir saya, tapi gedungnya lalu nampak didepan mata bukan katanya lagi.

Diapun bercerita warga negara disini bila ingin menikah pemerintah akan memberi pasangan itu uang sebesar 70.000 Dirham satu diharham LK Rp 2300. Gedung perkawinan gratis dan mendapat rumah dengan gratis pula, bila ingin membuat perkebunan, pemerintah memberikan tanah untuk digarap memberikan pupuk dengan gratis dan hasilnya dibeli kembali oleh pemerintah. Ada tunjangan untuk anak bahkan bila keluarga tersebut memelihara binatang maka ada tunjangan lain untuk binatang yang dipelihara.
Bila kita sakit maka rumah sakit beserta obat obatnya gratis, namun bila RS disana tak mampu menyembuhkan dan harus dikirim keluar negeri. Maka ongkos pesawat dan biaya RS termasuk biaya hotel dan biaya hidup satu orang yang menemani pasien ditanggung oleh pemerintah.

Seorang kerabat teman saya yang kebetulan menjadi warga negara disana bergelar dokter dan gajinya sebesar 40.000 dirham sebulan, lk Rp 100 jt, gaji pegawai lokal harus lebih tinggi dari gaji orang asing. dan ada kerabatnya pula baru lulus SMA memiliki kemampuan bahasa inggeris dengan bagus, maka anak itu boleh memilih kuliah dimana dia mau dengan biaya pemerintah, dan selama dua bulan kerabat yang menemani mendapat jatah $100 sehari. Anak itu memilih kuliah di Ohio. Bila orang Saudi berliburan lebih banyak ke Asia karena murah.. maka orang Dubai berliburan lebih banyak ke Eropa.

Bila ingin membeli mobil, rumah atau apartementn dengan kredit, maka semua itu akan diberikan asalkan pembayaran cicilan tidak melewati 50% dari gaji yang diterima. Tahun cicilan dapat diangsur selama 95 tahun dan bila penerima kredit meninggal dunia maka seluruh hutangnya dianggap lunas.
Harga mobil HUMMER baru di Indonesia mencapai 2 miliyar rupiah sedangkan di UEA berkisar Rp 500jt karena semua mobil bebas pajak impor.

Sebelum memasuki negeri ini saya berfikir akan melihat anak anak muda dengan kaos dan jeans dalam mobil mewah yang akan berseliweran bergaya western... ternyata tidak... Masyarakat di UAE sangat bangga dengan baju Thube nya, mirip dengan baju Saudi namun tidak berkerah, memakai gutra (surban) dan igal (ikat kepala) bukan merah kotak kotak tapi putih sebagian lagi melipatnya diatas kepala membentuk seperti topi bundar berlancip lancip diujungnya.. berkulit putih dan keren keren juga sangat percaya diri. Namun ketika bicara tak ada kesan angkuh, mereka memahami bahasa inggeris dan India, bahkan anak anak kecil bicara dengan muhtaram (akhlaq) ...Kief khalaq .... thoyib....? apa khabar apakah menyenangkan disini..? Kief Indonesia quais..? (bagaimana Indonesia Bagus..?)
Perempuannya jangan ditanya... kulitnya putih kemerahan dan matanya hitam alisnya hitam pekat, nada bicaranya... ..? pantas kalau dikatakan suara perempuan itu aurat....:): ) karena mukanya tidak ditutup maka bisa bisa kita keseleo leher kebanyakan nengok kanan kiri, teman saya berkata "kita jalurnya terbalik harusnya kemari dulu baru umroh bukan sebaliknya, agar dosanya bisa terhapus di Umroh." maklum lagi bulan puasa takut batal :):)

Negeri ini negeri sekuler, tapi jangan mengira masyarakat UAE menjadi sangat permisif tradisi Islam sangat ketat mereka junjung, perempuan aseli di UAE sangat menjaga kehormatan. Tradisi dan kemoderenan berlangsung dengan harmonis. yang nampak "murah" dijalan jalan adalah perempuan dari berbagai negeri lainnya seperti Eropa dan Asia.yang orang Dubai sendiri acuh tak acuh. Mereka tak begitu peduli melihat bule bule berpakaian seadanya di pantai Abu Dhabi. Di sepanjang jalan dipinggiran pantai terdapat taman dan rumput yang hijau merata, ini negeri padang pasir tapi hijau dimana mana..

Lepas dari Dubai saya memasuki wilayah Sarjah sebuah negeri yang juga tergabung dalam UAE, negeri kecil namun sangat cantik ada danau ditengah kota tak banyak gedung tinggi namun kotanya ditata sedemikian rupa, Raja Sarjah bangga dengan kebijakannya apa yang ada di Dubai tak akan ada disini. Di Sarjah tak terdapat minuman keras tak ada diskoteq, Namun pendatang dari India sangat banyak melebihi jumlah penduduk aseli, mereka bekerja apa saja dari mulai tukang sapu sampai penjual kartu handphne. Saya gak bisa membedakan sedang dinegeri Arab atau sedang berada di Bombay, salah satu teman seperjalanan yang "wahabi", sepanjang jalan menjadi bahan olokan karena fanatisme pada Saudi, kali ini dia punya jawaban untuk membalas.... "Ini negeri...... Negerinya Hindi (India) bukan negeri Arab." (sebagian Arab memiliki pendapat miring tentang orang India) Sama seperti orang Malaysia berpandangan tentang orang Indonesia.

Dari Sarjah kami menuju Al Ain sebuah negeri yang juga tergabung dalam UAE perjalanan memaka waktu kurang dari dua jam, jalan Tol disini sangat lebar dan kosong, kecepatan mobil bisa mencapai 200 km perjam. Namun bila jalan secepat itu dan tertangkap polisi bukan hanya SIM yang dicabut tapi mobilnyapun bisa dikandangkan dan tak dikembalikan. Hukum disini sangat ketat tak ada yang berani bermain main dengan hukum, kecuali anak anak muda yang melakukan kebut kebutan dipadang pasir....
Bila dijalan mereka membatasinya dibawah dua ratus KM agar bila tertangkap hukumannya lebih ringan.
Kalangan perempuan di negeri inipun bebas mengendarai mobil kemana mereka mau....
Ada cerita menarik: keluarga yang mengantar kami memiliki pembantu perempuan dari Indonesia, pembantu itu bisa menyetir mobil. Mengantar anak sekolah atau pergi kepasar, pembantu itu yang membawa mobil. Pada Jum'at malam teman anaknya menelfun memberi khabar "saya lagi kebut kebutan dengan Khadam (pembantu) kamu dijalan " hebatnya lagi pembantu itu bisa atraktif ikut ikutan memiringkan mobilnya, berjalan hanya dengan dua roda....
Anehnya saya tak pernah melihat polisi didalam kota.

Mereka hanya memiliki satu kartu identitas baik KTP Asuransi maupun lain lain, Administrasi penduduk yang sudah sangat modern. Tidak banyak orang gelap kecuali agen agen TKI nakal dari Indonesia yang sering membuat masalah memberangkatkan TKW tanpa ijin resmi.

Melihat fasilitas yang diberikan negara itu, akan terkesan masyarakat UEA akan manja dan pemalas... Mereka membuka toko sampai tengah malam, beberapa orang tua bercerita tentang investasi yang menguntungkan dibeberapa bidang terutama properti. Beberapa anak muda yang baru lepas kuliah saya temui sedang bersemangat membuka usaha baru, dan anak anak muda yang masih kuliah merencanakan akan melanjutkan kuliah perminyakan di Universitas tertentu yang terkenal dengan spesialis perminyakan. .. Mereka bersaing dengan berbagai bangsa yang ikut meramaikan negerinya. Saya tak memiliki data berapa yang gagal kuliah diluar negeri, tapi dari beberapa keluarga yang saya temui tak satupun anak anak mereka yang tak selesai kuliahnya baik didalam maupun diluar negeri....

Uang dari hasil minyak yang mereka dapat bukan sekedar di konsumsi tapi diputarkan kembali untuk menjadikan UAE (Dubai) sebagai pusat perdagangan dunia.

Almarhum Syaikh Khalifah Zayed AL nahyan Raja Abu Dabhi sekaligus pemimpin UAE, memiliki kegemaran membantu orang, dia gemar membuat pekerjaan yang di cari cari, pekerjaan yang bukan untuk kepentingannya tapi sekedar membantu orang luar mendapat pekerjaan. Salah satunya dia memelihara 2000 ekor onta lalu dikeperjakan 300 orang untuk merawat onta onta tersebut. Setelah meninggal Syaikh Zayed, onta onta itu diberikan kepada rakyat karena memang tak ada manfaat. Raja yang rahim ini sangat dicintai rakyatnya, anak anak sekolah sewaktu beliau hidup sering bernyanyi sambil mendoakan "ya thowil umrokh syaikh Zayed" (semoga panjang umur wahai syakh Zayed)
Ada ungkapan: rakyat Abu Dhabi mau patungan sebagian umurnya untuk diberikan pada syaikh Zayed agar berumur panjang.
Dari Al Ain ke Abu Dhabi terdapat tanah yang dikurung ratusan meter panjangnya, saya bertanya itu tempat apa.? Teman saya menerangkan, Itu tempat berkumpulnya anak yatim. Syaikh Zayed mengumpulkan anak Yatim dari berbagai negara Arab, dan karena dia takut anak anak itu tidak dirawat oleh negara setelah dia wafat, maka Syaikh Zayed mengatas namakan sebagai bapak dari anak anak itu, agar negara tetap menjamin kehidupan para anak anak yatim itu dan dijadikan resmi sebagi keputusan negara, mereka disekolahkan dan diberi pekerjaan setelah selesai sekolah.

Ada banyak cerita tentang kebaikan Syaikh Zayed yang diungkapkan oleh rakyatnya, tentang orang India yang melompat kemobilnya atau hadiah kepada orang yang ditemui dijalan, hadiah yang paling diharapkan bagi pendatang adalah Warga Negara.

Pertanyaan yang terbentang dikepala saya, dimanakah letak syariat Islam berada.....? di Arab Saudikah yang benderanya bersimbol lafat Allah dengan berbagai hukumnya dan polisi syariah (mutawa) atau di UEA yang jelas jelas negara sekuler..... ?

Senin, 15 Oktober 2007

Malam 27 Ramadhan di Tengah Jutaan Umat Islam

Saya tak bisa memahami logika pemerintah Arab Saudi, wilayah masjidil Haram sudah sangat terbatas, kepadatan manusia sudah tidak memenuhi daya tampung kapasitas Masjid maupun halamannya. Dulu sekali saya percaya pernyataan seorang teman bahwa hotel hotel di seputar Haram akan digusur untuk perluasan Masjid dan dipindahkan jauh kebelakang. Umroh terakhir saya tahun 2003 dan tahun ini walaupun agak mendadak dan tidak ada rencana sama sekali saya berkesempatan kembali mengunjungi pusatnya pusat dunia ciptaan Allah SWT, Mekah Almukaramah. Dan ternyata hotel hotel yang katanya akan digusur tersebut ternyata bukan digusur namun malah bertambah banyak setelah Hotel DAR ATTAUHID (Inter Continental) selesai pembangunannya. Kini disamping Hotel HiILTON, Bin Laden Membangun hotel yang sangat besar, mewah dan sangat tinggi. Disamping Mal dan Apartement yang sedang dibangun Bin Laden tersebut, juga sedang digarap hotel miliknya Walid Bin Talal....(Konglemer at Arab Saudi pemilik Citi Bank.)
Persis disamping halaman dekat tempat Sya'i berdiri megah tiga apartement milik raja.

Umroh disepeluh hari terakhir ramadhan adalah puncak puncaknya kepadatan manusia jauh lebih padat dibanding musim haji, bila dimusim haji umat islam datang ke Mekah bertawaf dan sya'i lalu pergi lagi, ada yang ke Madina ada yang ke Mina namun di akhir bulan Ramadhan baik penduduk Arab saudi dari Jeddah, Riyad, Damam, Taif dll, Maupun dari negara2 lainnya datang ke Mekah dan tak keluar dari wilayah itu sampai waktunya mereka pulang... Jadilah jutaan manusia berpakaian putih pada umumnya memenuhi segenap penjuru Masjid. Pembangunan hotel hotel yang berdempet dengan halaman Masjid tersebut sebenarnya mengambil hak umat islam untuk beribadah dgn baik... Di setiap waktu sholat para jamaah bukan hanya didalam masjid atau dihalaman Masjid bahkan dijalan raya maupun didalam lobbi hotel yang dipakai untuk shalat. kita kesulitan mendapatkan tempat... Bila di Jakarta diakhir akhir ramadhan Masjid sangat longgar maka Mekkah di hari hari akhir Ramadhan mencari kapling untuk satu sajadah sulit sekali terutama bila kita datang agak terlambat. Pak Quraish di masa lalu sering menyindir kami dengan mengatakan "rombongan Adzan" bila adzan terdengar baru kami turun dan berdesakan dipintu lift hotel.

Malam malam ganjil yang dipercaya turunnya lailatul qadar menambah daya semangat umat muslim untuk berada dilingkungan tanah yang disucikan ini... Dari mulai sore kemacetan dijalan jalan menuju mekkah sudah sangat parah jauh lebih cepat perjalanan dari Jeddah ke Mekkah lebih dari 100 KM ketimbang dari Aziziah ke Haram yang cuma bejarak 3 KM.

Menjelang sholat Magrib jalan raya diseputar Mekkah tertutup oleh lautan manusia menjelang Isya dan taraweh jalan masuk ke Masjidpun sudah tertutup oleh syaf syaf jamaah yang mengitari halaman dengan sangat padatnya. Polisi Saudi yang biasanya mudah membubarkan jamaah yang menghalangi jalan masuk kedalam masjid, kali ini tak mampu lagi memberi ruas jalan untuk manusia lewat...Dan ketika jam menunjukkan pukul dua belas malam seluruh jamaah sudah memenuhi jalan jalan raya untuk mengikuti sholat malam.... Ini Malam ganjil malam 27 Ramadhan Seluruh salurah TV dari mulai Abu Dhabi, Sarjah, Kuwait, Al Alam, Syiria Yemen Libia dan TV Saudi... seluruhnya menghadirkan tokoh ulama dari mulai siang hari memberi ceramah keutamaan malam malam tersebut... Istri saya menelpun dari Jakarta dan mengirim SMS berpesan untuk tidak keluar dari masjid sampai shalat malam selesai... (persoalannya jam 12 malam kami masih mengobrol di kamar hotel yang berjarak 500m dari Masjid...:): ) budaya melayu maunya nyantai tapi inginnya dapat tempat "VIP" dekat dengan Ka'bah..:):) .

Dengan segala upaya kami berhasil naik ketingkat tiga lantai paling atas yang terbuka luas beratapkan langit, dari atas sini nampaklah dibawah sana ribuan manusia sedang bertawaf mengelilingi Ka'bah. Seluruh tempat terisi manusia hampir tak ada celah secuilpun untuk bisa duduk, dari sore hari mereka sudah datang mengisi ruas ruas dalam masjid mengaji dan berzhikir menanti saatnya shalat malam. Kami berdiri disekitar pagar pengaman menunggu datangnya waktu shalat dan berharap dapat menyelipkan badan ditengah manusia yang sudah mulai berdiri menjelang shalat malam di laksanakan.

Tepat jam satu malam sholat Tahajud dimulai... diawali oleh Shurem sebagai Imam dan sampai rakaat keenam digantikan Oleh Imam Legendaris yang memang Masya Allah. Orang ini hampir tidak pernah salah dalam membaca ayat ataupun lupa....Sudesh memimpin Sholat sampai rokaat terakhir, dan diakhir sholat witir diapun melantunkan doa Qunut yang saya kira hanya setan saja yang tidak menagis mendengar doa yang panjangnya lebih kurang 20 menit itu.

Allah Humma Innaka afunn tuhibbul afwa fa'fuanna... ya..karimmm
Ila Hana.... Ila Hana.... Ya Allah jadikanlahlah asmaMu menjadi kata akhir penutup hidupku.... Ila Hana... Ila Hana.....

Bayangkan saja sendiri... ditengah jutaan manusia yang mengadahkan tangan memohon rahmatNya kita mendengar lengkingan dan isakan suara Sudesh melantunkan doa semacam itu.


Rabu, 12 September 2007

Ramadhan lagi Adu Keras Suara Toa lagi.

Saya tak bisa membayangkan bila seorang Non Muslim tinggal dilingkungan Muslim yang padat penduduknya. Dimana Masjid dan Mushollah berjarak hanya dalam hitungan puluhan meter atau ratusan meter. Maka yang pertama sudah pasti dia merasa tertindas. Hak asasinya untuk tidur ditengah malam sudah pasti terampas oleh ibadah yang namanya Ramadhan.

Jam dua pagi suara toa dari masjid sebelah sudah berkumandang keras bergema memasuki dinding dinding kamar dengan teriakan Sahur...sahur. ... Jam empat subuh suara tarhim kembali bergema. Selama satu bulan si non muslim tersebut pun harus ikut mengurangi jam tidur. Cuma bedanya bila kalangan Muslim merasa mendapat pahala sementara dia cuma mendapat kekesalan.

Di Jakarta seluruh Masjid maupun mushollah memakai speaker didalam Masjid maupun Toa yang dipasang tinggi untuk mengingatkan waktu sholat (Azan). Beberapa Masjid hanya sebatas azan diperdengarkan lewat Toa, dan hanya memakai speaker internal dalam pelaksanaan sholat. Namun disebagian besar masjid lainnya baik dalam sholat maupun pembacaan doa setelah sholat juga memakai pengeras suara luar (Toa). Tarkadang dipasang diempat penjuru dalam satu menara. Yang suaranya sering kali terdengar tidak merdu itu.

Terkesan diantara Masjid yang berdekatan bersaing saling mengeraskan suara Toanya dan sering kali pula mengganggu kekhusuan sholat Jamaah didalamnya. Karena pada saat Sujud, suara sang Imam dari masjid sebelah yang sedang membacakan ayat Qur'an terdengar nyaring masuk kedalam masjid didekatnya.


Hari ini awal sholat taraweh dimulai dan untuk kekhusuan sholat jamaah maka Sholat Taraweh di Masjid Arrahmah di YRA. kami pindahkan ke Aula dilantai dasar.
Ada kenikmatan bila sholat dilantai atas tersebut, karena angin bertiup agak kencang menjadikan udara didalamnya sejuk dan ada pemandangan melihat daerah sekitar maupun gedung gedung tinggi di wilayah Pancoran. Namun suara Toa dari Mushollah diperkampungan belakang tak bisa ditoleransi, Sering kali suara chatib berceramah menjadi tak terdengar terkalahkan oleh suara imam dimushollah tersebut.
Pernah kita mencoba mendiskusikan dan para orang tua di mushollah tersebut berkata "ini Syiar Islam dan kami disini sudah puluhan tahun seperti ini."
Kalimat itu telah menciptakan para Jamaaah di masjid lainnya agak sedikit kepanasan dan mengandalkan kipas angin agar udara tak terasa pengab.....

Beberapa tahun lalu Ustadz Quraish Shihab membahas soal ini bersama Arif Rahman di RCTI dan besoknya teman saya berkomentar, menyatakan ketidak setujuan atas pendapatnya Quraish. Menurutnya Ustadz Quraish membatasi Syiar Islam dan yang berkomentar seorang berpendidikan. ....?

Seringkali adab dalam beragama kalah oleh tradisi, repotnya lagi tradisi itu disandarkan pada agama yang tak ada dasar legalitasnya kecuali nafsu beribadah yang lebih bersemangat dari Tuhan itu sendiri.
Tuhan yang maha mendengar itu harus diteriaki oleh suara Toa......... .?

Ramadhan Karim......
Selamat berpuasa semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengabulkan seluruh doa doa kita dan megampuni seluruh dosa dosa kita. Amin....